
Mendengar hal itu Jerry sangat marah. "Tante Magda jangan menuduh Wandaku macam-macam!" kecam Jerry.
"Jerry, tante cuma lihat Wanda masuk kamar itu, siapa yang mesum, ayo kita periksa sama-sama."
Mereka semua berjalan menuju lantai atas, saat mendekati kamar itu. Suara aneh terdengar jelas.
"Owh Baby ...."
"Uh! Ah! Kenapa sempit sekali!"
"Lebih cepat ...."
"Ahhhhhh!"
Bulu kuduk mereka merinding mendengar suara-suara itu. Magda merasa tidak enak mendengar suara itu, suara yang sangat familiar baginya.
Jerry sangat marah, dia langsung mendobrak pintu kamar itu.
Brakkkk!
Dua manusia seperti bayi baru lahir, dan posisi mereka seperti orang naik kuda.
"Setto! Qiara!"
Saat itu juga Setto sadar, yang dia gauli bukan Wanda, tapi Qiara. Setto melepaskan miliknya yang terbenam begitu dalam pada Qiara. Dia meraih selimut dan menyelimuti dirinya dan Qiara.
Melihat hal itu Magda membisu, niatnya mempermalukan Wanda, malah mempermalukan putrinya sendiri.
__ADS_1
"Sayang ... Jangan berhenti ... Lagi ...." Qiara masih diselimuti efek obat bius.
Melihat Qiara berusaha melanjutkan keinginannya di depan semua orang, Jerry marah, dia langsung mendekati Qiara dan menamparnya.
Magda tetap mematung, tindakan Jerry sangat membantunya, karena tamparan itu, Qiara seketika tidak sadarkan diri.
"Aku tidak mau tau, secepatnya tante nikahkan mereka berdua!"
Jerry sangat marah, dia dan semua orang langsung meninggalkan kamar itu.
Magda memandangi keadaan di sekitarnya.
Ada yang tidak beres, kenapa minuman itu malah Qiara yang minum? Kamar ini, aku sangat ingat Wanda masuk kamar ini."
Wanda merasa terusik dengan suara berisik yang samar dia dengar, dia keluar kamarnya, saat pintu terbuka terlihat Jerry dan anggota keluarga lain lewat di depan pintu kamarnya.
Jerry tidak mungkin menceritakan yang terjadi, dia berusaha bersikap santai. "Iya, aku khawatir sama keadaan kamu."
"Aku baik-baik aja, ini udah mendingan."
"Ya sudah, ayok kita turun. Sebentar lagi ada kejutan menunggumu di bawah."
Mereka semua turun ke bawah, saat sampai di bawah, Wanda tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Emak ... Paman Wowo, bibi ...." Dia langsung berlari kearah keluarganya.
"Ini kejutan kamu untukmu, aku mengundang keluargamu untuk menyaksikan pertunangan kita hari ini."
__ADS_1
"Ha-hari ini? Tapi kamu belum tahu siapa aku ...."
"Aku tidak peduli siapa kamu, karen aku menikah dengan dirimu, bukan masalalumu, atau cerita hidupmu."
Keadaan di lantai bawah sangat ramai, pertunangan dadakan itu berlangsung. Winarti merasa insecure berada di tengah keluarga Jerry, namun ibu Jerry bersikap sangat hangat padanya.
"Kami berharap, pernikahan secepatnya dilangsungkan, kami tidak sabar melihat Jerry bersanding di pelaminan," ucap Kartika.
"Saya mengikuti apa yang terbaik bagi kalian, keluarga saya hanya ini."
Obrolan hangat antar keluarga terus berlangsung, sedang mata batin Lewo mencoba menerawang keadaan rumah ini. Hingga dia melihat arwah Wenda tengah menuju sebuah tempat. Lewo bisa melihat sosok pemuda yang dihampiri Wenda.
Sepertinya pemuda ini yang membunuh Wenda. Batin Lewo.
Sedang di ruanga lain.
Setto ambigu, dia sedih namun juga bahagia, keinginanya menikahi Qiara dipermudah.
"Ekkkkhhhhh!" Setto merasa ada yang mencekik lehernya begitu kuat.
Saat Setto mulai kehabisan napas, Wenda memperlihatkan wujudnya.
"Wa-wa-wa--" Setto tidak bisa menyebut nama itu.
"Aku bukan Wanda, aku arwah kemvarannya yang kamu perkosa malam itu!"
Kekkkk!
__ADS_1
Setto merasa semakin sesak, saat Wenda membuka mulut didepan wajahnya, dan menghirup kuat di sana. Saat Wenda selesai, saat itu juga Setto kehilangan nyawanya, jiwa Setto sudah dibawa oleh Wenda untuk persembahan bagi yang telah menolongnya membalas dendam.