Dendam Arwah Si Buta

Dendam Arwah Si Buta
Bab 7 Makhluk Apa?


__ADS_3

Berulang kali Lewo meyakinkan dirinya, kalau itu hanya prasangkanya saja. Tetap saja, sisi lain dari Lewo mengatakan hal yang sebaliknya. Lewo tidak tenang, dia izin pada istrinya untuk ke rumah Winarti lebih dulu, dengan alasan ingin membantu kakak iparnya tersebut.


Sepanjang jalan menuju rumah Winarti, mulut Lewo terus komat-kamit, entah apa yang dia baca. Saat semakin dekat dengan rumah Winarti, jantungnya seakan melompat saat melihat ada tanda-tanda yang berbeda di sana. Lewo semakin mempercepat langkah kakinya, semakin dekat, semakin menguat aura itu.


"Win …." Suara Lewo memecah kesunyian yang menyelimuti rumah itu.


"Iya …." 


Samar terdengar sahutan dari arah dalam rumah. Terlihat Winarti memegang beberapa lembar pakaian di tangannya. "Lewo, apa toh Wo?" Sapanya.


"Anu Win, kita pakai apa ya ke rumah keluarga calon mantumu?" Tanya Lewo.


"Kau tanya aku Wo, aku saja bingung."


"Keadaan Wenda bagaimana?" Lewo berusaha mengubah pembicaraan mereka.


Kamu masuk saja ke dalam, tolong kamu beri semangat padanya, aku bingung Wo, takdir anakku yang satunya kok rasanya gimana gitu." Pandangan mata Winarti entah tertuju ke mana.


"Ya sudah Win, aku mau menemui keponakanku dulu, kamu silakan lanjut milih baju." Lewo izin pada Winarti untuk masuk kedalam kamar Wenda.


Semakin mendekati kamar Wenda, hawa dingin dan hawa mistis sangat kental terasa. Lewo berusaha menenangkan perasaannya yang mulai tidak menentu, mempersiapkan segala kemungkinan yang mungkin di luar batas pemikirannya.


"Wen, bangun nak, ini pamanmu datang …." Suara Lantang Winarti membuat fokus Lewo buyar.


"Kamu itu Wo, masuk ke kamar Wenda saja takut, aku tuh percaya sama kamu, kamu menyayangi kedua anakku seperti kamu menyayangi anakmu sendiri." Winarti batal menuju kamarnya, dia mendahului Lewo masuk ke kamar Wenda.


Saat pintu terbuka, terlihat seorang gadis buta duduk diatas kasur, menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur. Bagi mata zahir memang adanya seperti itu, tapi sisi lain penglihatan Lewo, itu hanyalah peng-alihan. Sosok Wenda ada di sisi yang lain, terlihat sosok itu takut pada Lewo. Karena menyadari pamannya bisa melihat keberadaannya.


"Kamu nggak jadi bersiap Win?" Lewo berusaha mengingatkan Winarti akan tugasnya. Agar dia punya waktu untuk berbicara dengan Wenda yang bukan manusia lagi.


"Oh iya, aku tinggal ya Wo." Winarti juga izin pamit pada sosok kasar Wenda.


Setelah Winarti pergi dari kamar itu, Lewo mendekati sosok Wenda yang bersembunyi di samping lemari pakaian yang ada di kamar itu.


"Apa yang terjadi padamu? Kenapa ada belenggu padamu?" Air mata Lewo menetes melihat keadaan keponakan tersayangnya.


Wenda tidak menjawab, dia hanya menangis lalu mengulurkan tangannya pada laki-laki yang selalu melimpahi mereka kasih sayang, yang biasa mereka panggil paman Wo. Lewo menyambut uluran tangan Wenda. Saat tangannya dan tangan Wenda bersentuhan, Lewo bisa melihat bagaimana bayangan seorang laki-laki yang membuang jasad Wenda di hutan.


Sedang Wenda, memulai ceritanya, saat dirinya diculik, hingga saat dia tidak sadarkan diri lagi. "Saat aku terbangun, ternyata roh ku sudah di luar tubuh kasarku paman, dan aku tidak bisa kembali ke tubuhku atau pun melanjutkan perjalananku." Adu Wenda.

__ADS_1


"Target mereka Wanda, bukan aku." Wenda terisak. "Izinkan aku melindungi Wanda …." Pintanya.


Lewo memahami, kenapa arwah keponakannya seperti ini. "Paman akan membantumu membalaskan dendammu." Mulut Lewo mulai membacakan sesuatu yang hanya dia tau, dia meniup ke arah Wenda. "Saat dendammu terbalas, maka kamu harus kembali." Ucapnya.


"Iya paman."


Lewo membuka lemari yang ada di dekatnya, memandangi isi lemari tersebut. "Pakaian Wanda yang mana?" Tanya Lewo.


Wenda menunjuk kearah pakaian Wanda. Jemari Lewo pun segera meraih salah satu pakaian itu, menarik sehelai benang dari pakaian tersebut, dan menaruhnya di atas telapak tangannya. Mulut Lewo terus berkecumik, dia meniup sehelai benang ke arah arwah Wenda. "Kamu tidak perlu bersembunyi di wujud palsu itu, target mereka Wanda, maka mulai sekarang apa yang Wanda lihat, dan Wanda dengar bisa kamu dengar, kamu bisa menempel pada Wanda sekarang. Biarlah wujud pengalihan itu sembunyi selamanya di kamar ini."


Benar adanya, Wenda bisa melihat hal-hal yang tertangkap oleh mata Wanda. Bahkan dia bisa melihat jelas punggung tempat Wanda menyandarkan wajahnya.


"Permisi …." 


Suara panggilan itu membuyarkan komunikasi 2 alam.


"Maafkan paman, paman tidak bisa membantumu lebih banyak, tapi saat kamu ingin menjadi Wanda, hal itu bisa. Semakin orang berhalusinasi tentang Wanda, semakin kuat jiwamu. Kamu bisa menjelma menjadi Wanda kapan saja, asal Wanda asli tidak ada di dekatmu." Paman Lewo keluar dari kamar Wenda, dan segera melangkah ke luar.


"Permisi, apakah benar ini kediaman Wenda Winarti?"


Mata paman Lewo ter-arah tajam ke arah dua tamu yang berada di depan pintu kediaman Winarti.


Lewo tercengang melihat dua orang berkepala plontos memakai celana kain putih dan kemeja warna pink dengan kancing yang terbuka di bagian dadanya, yang satu memakai syal bulu yang melingkar di lehernya, sedang yang satu memakai topi pantai dan kacamata hitam.


Lewo terus merapalkan bermacam mantra, berusaha untuk melihat wujud asli dari dua orang yang ada di depan matanya ini. Mencari tau makhluk jenis apa dan dari bangsa apa, tapi tidak satupun mantra yang dia baca berhasil membuka penglihatannya tentang wujud yang berada tepat di depan matanya.


"Pak …." Suara itu terlepas dengan nada yang mengayun manja. "Ih geumus deh sama Bapaknya."


"Wajar cien … si Bapak mah terseponah sama pesona kita," ucap orang yang ada di sampingnya.


"Maaf, mencari siapa ya?" Pertanyaan Winarti memecahkan konsentrasi Lewo, dan menyita perhatian dia orang yang masih berdiri di depan pintu.


"Owh, Akika utusan Tuan Jerry …."


Intonasi suaranya sungguh membuat Lewo ketakutan.


Jin jenis ini sangat menyeramkan. Batin Lewo.


"Nak Jerry?" Winarti mempercepat langkahnya dan segera menyambut tamunya. "Silakan masuk--" Winarti bingung menyambut tamunya dengan sebutan apa.

__ADS_1


"Jadi ini bener rumahnya Wanda, calon bininya Jerry?" Salah satunya memastikan.


"Iya benar, saya mamanya Wanda," sambut Winarti.


"Ay siap … Hayukk mah kalau begitu kita langsung dendong …." Ucapnya.


"Apaan ya?" Winarti sama sekali tidak mengerti.


"Kita ini diutus Tuan Jerry buat menyihir kalian …." 


"Saya tidak mau disihir!" Protes Lewo. Dia langsung berjalan cepat keluar dari rumah Winarti.


"Kasian Nona Wanda, jika kalian berhadir berbeda dengan tamu yang lain." Salah seorang laki-laki muncul tiba-tiba dari arah luar. Tangannya memegang banyak pakaian. "Kami utusan Tuan Jerry untuk mendandani kalian, mohon kerja samanya."


Mata Lewo memandangi keadaan di luar rumah Winarti, terparkir beberapa buah mobil di sana. Ada satu hal yang membuat Lewo terkejut, seseorang yang sangat dia kenali, namun memakai pakaian yang baginya itu seperti mimpi.


"Bapak … kenapa Bapak nggak bilang, kalau kita disediakan oleh Jerry pakaian buat acara, kalau ibu tau mah, ibu gak mau pusing-pusing mikir pakai baju apa." Juma berpose yang dia bisa, memperlihatkan pakaian yang melekat di tubuhnya saat ini sangat indah.


"Nah, ibu itu sudah selesai, giliran ibu sama Bapaknya yang ganti baju," sela salah satu orang yang menurut Lewo aneh.


"Oh jadi kalian perias toh?" Sela Winarti.


"Yaa seperti itulah bu, hayukkk kita sihir ibunya dulu biar cantik …."


Winarti dan Juma lanjut berdandan di bantu 2 orang perias yang datang, sedang Lewo mengganti pakaiannya dengan setelan yang diberikan salah satu laki-laki tadi.


"Namanya siapa mas?" Tanya Lewo.


"Saya Pangestu," jawabnya.


"Mas, dua orang itu … manusia asli apa manusia jadi-jadian?" Bisik Lewo.


"Manusia dua alam Pak, Siang Dirman, malam jadi Dira." Pangestu berusaha menahan suaranya, agar tidak terdengar orang yang Lewo maksud.


"Hais …." Lewo baru sadar kalau dua orang tadi manusia biasa, bukan makhluk kalangan jin.


Lewo, Juma, dan Winarti pun terus mempersiapkan diri mereka untuk acara Wanda dan Jerry. Setelah utusan Jerry selesai me make over 3 orang tersebut, mereka segera pergi dari rumah Winarti. Karena tugas mereka sudah selesai. Yang bertugas membawa tiga orang itu, beda lagi.


"Sebentar ya Jum, aku pamit sama Wenda dulu." Sela Winarti.

__ADS_1


Setelah Winarti memastikan keadaan Wenda, dia bersama Juma dan Lewo, segera masuk ke mobil yang sedari tadi menunggu mereka. Mobil itu pun perlahan meninggalkan kediaman Winarti.


__ADS_2