Dendam Arwah Si Buta

Dendam Arwah Si Buta
Bab 9


__ADS_3

Menyadari sosok yang membunuhnya adalah Setto, Wenda sangat geram, namun dia menahan dirinya untuk tidak segera memberi pelajaran. Dia ingin menggunakan kesempatan ini untuk melindungi saudari kembarnya, walau kini mereka sudah berbeda dunia.


"Bagaimana caranya, kamu harus mencemarkan nama Wanda, buat dia terlihat tidak pantas menjadi menantu keluarga ini!" kecam Magda.


Aku akan membuat putrimu tidak pantas menjadi menantu mana pun! Teriak Wenda.


Namun tidak satu pun yang bisa mendengar teriakannya.


Magda meninggalkan Setto, dia segera menuju dapur untuk menjalankan rencananya.


"Bi, minuman buat Wanda mana?"


"Itu Nyah, yang lemon tea itu, Nona muda tidak suka kopi katanya."


Mata Magda menatap kearah lain, dia tidak melihat kalau cairan yang dia masukan ke minuman Wanda, tidak bisa masuk ke gelas, cairan itu tertahan di udara. Namun Magda masih tidak menyadarinya, dia sibuk mengamati keadaan sekitar.


"Kereta itu mau di bawa kemana bi?" tanya Magda.


"Owh, ini mau saya bawa ke kamar Nona Qiara."


Saat Magda masih tidak menyadari itu, cairan itu melayang dan masuk pada minuman untuk Qiara. Magda terlalu sibuk memperhatikan minuman untuk Wanda.

__ADS_1


Selesai, Wanda meminta pelayan lain mengantar minuman pada Wanda.


Dari kejauhan Magda memantau Manda yang mulai menikmati minuman yang dia campur dengan obat perangsang itu.


"Kita lihat, bagaimana nasibmu setelah ini."


Di ruang tamu.


Wanda merasa tidak enak badan. Melihat hal itu Jerry langsung mendekati calon istrinya.


"Ada apa?"


"Nggak tau, tiba-tiba badanku nggak enak." Wanda berulang kali mengusap tengkuknya.


Jerry meminta salah satu pelayan mengantar Wanda ke kamar tamu. Dari kejauhan Magda sangat bahagia, dia mengikuti pelayan mencari kamar mana yang ditempati Wanda, mengetahui posisi kamar Wanda, Magda segera mencari Setto.


"Ada apa lagi tante?"


"Itu, Wanda sudah ku bereskan, sekarang kamu susul Wanda ke kamar tamu." Magda menyebut kamar tamu di mana Wanda berada.


"Aku jadi senjata tante?"

__ADS_1


"Siapa lagi?"


"Bagaimana bisa aku menikahi Qiara jika mereka melihat perbuatan bejatku dengan Wanda," protes Setto.


"Itu jadi urusan nanti, kamu drama saja Wanda yang memaksa."


Setto mengalah, namun saat menuju kamar Wanda, Wenda merubah pandangan Setto. Sebelum Setto sampai ke kamar Wanda, Wenda sengaja membuat Setto menuju kamar tamu yang lain, di mana di sana ada Qiara.


Saat Setto memasuki kamar itu, di matanya yang berbaring seperti cacing kepanasan itu adalah Wanda. Mengingat bagaimana hangatnya lembah tersembunyi Wanda malam itu, Setto tidak bisa menahan dirinya.


Pertempuran sengit pun terjadi, bagi Setto itu adalah Wanda, dan pada kenyataannya itu adalah Qiara putri Magda.


Mereka terus berjuang menuju puncak segala rasa, semakin dikejar terasa semakin jauh, hingga suara rintihan yang bersahutan yang berlomba menuju puncak tertinggi itu menggema di kamar itu.


Salah satu pelayan melewati kamar itu merasa aneh, dia segera berlari ke bawah dan melapor pada Tuan dan Nyonya besar.


"Siapa kira-kira yang berbuat mesum di siang bolong begini?" sela Magda.


"Entah Nyonya, saya belum mengintip."


"Kamar yang mana bi?"

__ADS_1


"Kamar tamu, nomor 2 dari ujung."


"Lah, bukannya itu kamar yang ditempati Wanda?" ucap Magda.


__ADS_2