
Winarti ingin tersenyum menginagt bagaimana jahilnya Wenda, namun senyuman itu seketika lenyap, saat menyadari anak keduanya itu sudah tiada.
"Wenda tidak akan terganti, dia akan jadi anak terbaik emak, tapi ... Kita harus melanjutkan hidup kita mak."
Jerry meraih tangan Winarti. "Masih ada satu anak ibu yang sangat sayang pada emak, darinya emak akan dapat wenda, wenda, mungkin 10 Wenda, bagaimana mak?"
Winarti tidak tahu harus bagaimana, namun kata-kata Jerry membuatnya sangat terhibur, dia memeluk erat calon menantunya itu.
"Aku bukan tidak memahami duka kalian, tapi pesta ijabku dan Wanda tetap berlangsung minggu depan."
"Iya nak, emak faham."
"Demi keamanan kalian, aku berharap kalian mau tinggal di rumah yang aku sediakan, sejak aku tahu target mereka Wanda, aku tidak tenang mak. Karena ternyata aku adalah sumber bahaya bagi kalian."
Wanda dan ibunya pindah ke sebuah rumah yang Jerry siapkan untuk mereka, sedang Jerry melanjutkan rencana jebakannya.
*Sayang, aku tidak sabar lagi menunggu minggu depan, rasanya aku ingin menghapus setiap hari yang menjedanya.
Tink!
Sebuah pesan masuk.
\=Aku juga tidak sabar menanti hari itu.
Rasanya Jerry ingin memuntahkan isi perutnya, karena yang membalas pesannya adalah Daisy.
Jerry mencoba memancing kepanikan Daisy.
*Sayang sudah fitting kebaya pengantin? Aku mau lihat dong.
__ADS_1
Pesan lumayan lama baru terbalas.
\=Kata mama, tidak baik kita bertemu saat menjelang Akad. Sabar ya sayang, kita ketemu di rumahmu, di meja akad.
*Mama? Mama siapa?
\=Mamaku sayang.
*Sejak kapan kamu sebut mamamu dengan sebutan mama. Bukannya emak?
Jerry tertawa membayangkan kepanikan Daisy.
\=Kan ngetik enaknya mama sayang.
*Ya ya ya.
Pesan pun berakhir.
Daisy melempar handphone yang dia pakai untuk berpura-pura sebagai Wenda.
"Sialan! Hampir saja aku ketahuan kalau bukan Wanda!"
"Kenapa bisa sih aku lupa nanya panggilan dia ke ibunya apa!"
Daisy terus mengutuki kebodohannya.
Sesaat pandangannya tertujunpada cermin di depannya.
"Demi kehormatan keluarga besar Mandala, aku siap menggantikan posisi pengantin wanita yang kosong." Daisy mencoba menghafal dramanya.
__ADS_1
"Kurang memyentuh, bagaimana ya ...."
Daisy kembali berpose. "Bagaimana ini om, tante? Undangan sudah banyak yang hadir, kalau pernikahan batal, kalian pasti malu. Kalau Jerry setuju dan kalian setuju, aku bersedia menggantikan posisi Wanda."
Daisy bertepuk tangan, merasa aktingnya bagus. "Ku rasa aku pakai kata-kata itu saja."
Daisy mengambil handphonenya. Dia mengirim pesan pada anak buahnya.
*Saat akad selesai, kalian apakan gadis itu terserah, yang penting sebelum melepaskan dia, habisi dulu nyawanya.
***
Membaca pesan dari Daisy, Jerry sangat marah, ingin rasanya mencekik mati wanita itu.
"Beruntung aku ingin mempermalukan kamu, kalau tidak, sudah aku habisi kamu saat ini juga!"
**
Hari demi hari berjalan. Persiapan pernikahan semakin matang, ruang utama pun mulai terpasang dekorasi bunga-bunga segar, dan di tengah ruangan ada meja akad.
"Gadis sederhana yang dingin, akhirnya kamu akan menjadi istriku." Jerry tersenyum melihat meja akad, bayanganya di sana ada dirinya dan Wanda.
"Bagaimana rencana kamu Jer?"
Pertanyaan dan sebuah tepukan di pundak Jerry, membuatnya tersadar.
"Aman pah, hanya menunggu eksekusi. Papa sudah atur perubahan Jadwal?"
"Sudah, hanya Daisy dan keluarganya yang Papa tidak kasih tau."
__ADS_1
"Terima kasih Pa, karena papa menyetujui calon istri pilihanku."