
Wanda berusaha memahami ketakutan Jerry, dia dan ibunya tinggal berdua di sebuah Vila yang di jaga ketat. Sebelum tidur, seperti biasa Wanda memberi hadiah bacaan-bacaan pendek untuk saudarinya.
Hingga kantuk menyerangnya, Wanda pun segera memberikan hak matanya untuk dipejamkan.
Dalam mimpi, Wanda menkalani masa kecil bahagianya dengan Wenda, dia adalah mata Wenda, apa yang dia lihat akan dia ceritakan pada Wenda.
Sepersekian detik kemudian, mimpi berubah saat mereka dewasa. Wenda memeluk Wanda begitu erat.
"Kakak, aku mati bukan karena penculikan itu, aku mati jauh sebelum kejadian itu."
Di alam mimpi Wenda membuka bagaimana kejadian saat dia meninggal. "Yang membunuh aku Setto, atas perintan Magda, dan mereka berdua sudah aku habisi."
"Jika besok Jerry meminta Kakak membunuh seseorang untuk membalas dendamku, jangan lakukan kak. Sudah cukup pembalasan dendam arwah si buta ini."
"Jangan lagi ada nyawa yang melayang karena aku."
"Jika Jerry bertanya kenapa? Jawab saja jika membunuhnya, maka sama hinanya dengan mereka, orang yang menghalalkan segala cara untuk ambisinya."
Di alam nyata, Wanda gelisah, dia terus meringis, kadang nama Wenda dia sebut.
"Kakak ... Jangan berlarut dalam kesedihan, melihat Kakak bahagia, aku juga bahagia."
"Wendaaa, jangan pergi ...."
__ADS_1
Shap!
Wanda terbangun dari tidurnya, dia mencoba mengingat kejadian yang dia alami dalam mimpi.
"Apa ini pesan Wenda ya?"
***
Tidak terasa, matahari mulai menampakan diri lagi, di Villa yang dikelilingi penjaga itu Wanda mulai dirias oleh beberapa MUA. Tubuh indahnya dibaluk kebaya modern, wajahnya pun semakin cantik dengan polesan make up.
Setelah Wanda selesai dirias, Winarti tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak memeluk putrinya.
"Yuk, mak, kita menuju rumah Jerry."
***
Rumah Jerry.
Jam menunjukan jam 9 pagi, tapi Jerry masih duduk sendiri di meja akad.
"Bagaimana ini? Sudah jam 9, akad kan harusnya dilangsungkan jam 08.30 tadi ...." Daisy memulai dramanya.
Semua tamu-tamu yang ada mulai saling berbisik, mendengar suara-suara bisikan, Daisy yakin mereka membicarakan mempelai wanita yang belum datang.
__ADS_1
"Tenanglah Daisy, kamu duduk sana, jangan memancing kegaduhan," tegur Kartika.
Daisy kembali ke tempat duduknya, dia mengetik pesan dari handphone yang lain.
*Maaf sayang, aku tidak bisa menikah denganmu, saat ini aku sudah menentukan pilihanku, jangan mencariku, karena aku sudah pergi dari Negara ini.
Tink!
Handphone Jerry berdering. Dia membaca pesan yang masuk. Jerry memasang wajah sedihnya, dan dia bangkit dari tempat duduknya. Melihat itu, Kartika faham, kalau drama akan di mulai.
"Ada apa sayang?" Kartika panik.
"Ini ma ada chat yang masuk."
Kartika mengambil handphone Jerry, dan membaca isi pesan itu. "Maaf sayang, aku tidak bisa menikah denganmu, saat ini aku sudah menentukan pilihanku, jangan mencariku, karena aku sudah pergi dari Negara ini."
Kartika menatap Jerry dengan tatapan kesedihan. "Apa maksud semua ini Jerry?"
"Aku juga tidak tahu, mama."
Daisy langsung mendekat, dia mengambil handphone Jerry yang dipegang Kartika. "Apa ini? Wabda meninggalkan kamu di hari akad?" Daisy memasang raut wajah sedihnya.
"Kenapa dia tega permaluin kalian seperti ini? Dia tidak datang saat hari akad nikah kalian? Hiks!" Daisy memperlihatkan tangis kesedihannya.
__ADS_1
Melihat tamu undangan terlihat kebingungan, Daisy yakin, kalau keluarga Mandala akan malu jika tidak melanjutkan pernikahan ini.