
Sekuat apapun Daisy menangis, keadaan tetap tidak berubah, semua bukti jelas memberatkannya. Mimpinya bisa duduk dalam istana Mandala, kini dirinya malah terkurung dalam penjara.
Di sisi lain.
Qiara merasa bisa menikmati hidupnya, tidak ada lagi seseorang yang menekannya untuk melakukan hal-hal yang diatur. Dia sudah berusaha mencari keberadaan ibunya, namun dia tidak mendapatkan hasil.
"Qya, jalan yuk!" ajak salah satu rekan kantor.
"Oke!" Qiara mengambil tasnya, dan berlari menyusul temannya.
***
Satu minggu berlalu setelah akad, Jerry tetap mempekerjakan Wanda sebagai Sekretarisnya, dia sangat bahagia jika Wanda tetap berada di sampingnya.
Waktu istirahat kerja, Wanda berdiri menghadap jendela kaca yang ada di ruangan Jerry. Pemandangan kota bisa dia nikmati dari sana.
"Ada apa sayang?"
"Tidak ada apa-apa sayang, aku hanya ingin menghitung mobil-mobil yang lewat."
"Memang mobil bisa di hitung?"
"Bisalah!" Wanda tidak mau kalah.
"Kita makan siang yuk, nanti ada rapat."
"Oke, oh iya tadi emak masak buat kita, sebentar aku siapkan."
__ADS_1
Wanda mulai menyiapkan sarapan mereka. Makan siang berdua, dengan menu ala ibunya, Jerry sangat bahagia. Ternyata kebahagiaan itu simple, pandai mensyukuri, semua terasa indah.
Setelah menghabiskan semua makanan mereka, keduany berjalan menuju ruang rapat. Menunggu 10 menit di sana, Akhirnya peserta rapat mulai berdatangan. Terlihat satu wanita cantik yang sangat memperlihatkan sikapnya yang tidak menyukai Wanda.
Wanda mengabaikan itu, suaminya adalah laki-laki impian, wajar banyak wanita ingin menyingkirkannya dari sisi Jerry.
Rapat berlangsung, perempuan itu berusaha mendekati Jerr namun Jerry hanya meladeninya seputar pekerjaan. Akhirnya rapat pun selesai.
"Toilet di mana ya?" tanya wanita itu.
Jerry menunjuk kearah toilet..Wanit itu tersenyum manja, dan segera berjalan menuju toilet.
Di dalam area toilet wanit itu mengagumi kecantikan yang dia miliki.
"Masa sih Jerry tidak tertarik padaku? Aku cantik, seksi, dadaku besar, pantatku besar, kurang apa lagi coba?"
Tiba-tiba wajah wanita itu terpental ke cermin yang ada di depanya. Rasanya rambutnya juga ada yang menjambak.
"Jangan pernah berniat mengganggu rumah tangga Jerry! Atau kau akan menyesal!"
Tiba-tiba sosok menyeramkan yang sangat mirip dengan Wanda muncul.
"Sekretaris kampungan! Aku tidak takut padamu!"
Sosok yang menyerupai Wanda itu melayangkan tangannya ke udara, saat yang sama wajah wanita itu luka cakaran.
"Akkkkkkk!" Dia lari meninggalkan toilet dan langsung ke ruangan rapat.
__ADS_1
Suasana tenang seketika kacau karena teriakan wanita itu.
"Ada apa?" tanya anggota rapat yang lain.
"Istri Pak Jerry menyerang saya di toilet!" adu wanita itu.
"Kamu mabuk? Dari tadi istri Pak Jerry ngobrol sama kami."
"Dia mencakar wajahku, lihat wajahku luka." Wanita itu memperlihatkan lukanya.
Semua orang tertawa, karena tidak ada luka di sana.
"Lain kali, kalau siang mau rapat jangan dugem malamnya, kan jadi mabuknya awet," ledek yang lain.
"Aku tidak mabuk ...."
"Sudah, rapat selesai, sebaiknya kamu pulang dan tidur, ngelindurmu terlalu jauh," ucap Jerry.
Wanda berusaha terlihat santai, walau pikirannya mulai memikirkan hal-hal lain.
Apakah benar itu Wenda yang ingin melindunginya!
Setelah pulang kantor, sebaiknya aku menui paman Lewo untuk menanyakan semua ini.
"Sayang, ayuk pulang. Pekerjaan di sini sudah selesai," ajak Jerry.
Mereka keluar ruang rapat sambil bergandengan tangan. Siapa saja yang melihat hal itu merasa iri dengan keromantisan mereka.
__ADS_1