
Walau Wenda kembali, tapi Winarti merasa Wenda berbeda. Kulitnya terlihat sangat putih pucat. Winarti berbaring di samping Wenda, berusaha menenangkan putrinya tersebut. Saat tangannya menyentuh permukaan kulit tangan Wenda, Winarti merinding. Tangan itu sangat dingin.
Apa yang mereka lakukan padamu nak, sehingga kamu menjadi seperti ini?
Winarti hanya bisa merintih, hatinya begitu pedih melihat putrinya pulang hanya berbalut selimut. Winarti berusaha menahan air matanya, kejadian yang menimpa putrinya terlalu menyayat hati Wenda juga dirinya, Winarti berusaha tegar dan memberi semangat untuk Wenda. "Kamu tidur saja ya nak." Winarti memperbaiki posisi selimut putrinya.
"Kenapa mereka tega melakukan ini sama Wenda, mak ... apakah kebutaan Wenda ini tidak membuat orang kasihan pada Wenda?" jeritnya.
Winarti tidak mampu menjawab. Dia hanya memeluk erat sang putri. "Sabar ya nak, semoga mereka yang berbuat jahat padamu, segera mendapatkan balasan yang pedih."
Akan aku pastikan itu mak.
Kedua mata Wenda perlahan terpejam. Melihat putrinya sudah terlelap, Winarti segera bangkit. Rumah sederhananya tidak memiliki pendingin udara, hanya kipas angin kecil yang tidak pernah bosan berputar dan memberikan udara yang sama sekali tidak sejuk. Tapi saat ini kipas angin kecil itu tidak menyala. Namun, hawa dingin memenuhi ruangan ini.
Winarti memijat tengkuk lehernya, bulu kuduknya berdiri, dia memandang kearah Wenda, tidak ada yang aneh di sana. Winarti menggidik takut. Dia segera pergi dari kamar itu.
Sedang dari sisi pandangan yang lain, arwah Wenda yang sedari tadi berada di kamar itu terus memandangi ibunya. Air matanya terus mengalir, dia bersumpah akan membalas semua kejadian pahit malam ini.
Sedang di tempat lain ....
Wanda melajukan motornya begitu pelan. Karena membonceng seorang wanita tua. Sudah jauh dirinya melajukan motornya, namun rumah wanita itu belum juga sampai.
"Cu ... berhenti di sana." Suara nenek itu seakan tenggelam oleh suara mesin motor matic butut milik Wanda.
"Iya nek." Wanda perlahan mengerem motornya yang memang melaju pelan.
"Bisa turun nek?" tanya Wanda.
"Bisa cu." Wanita tua itu sudah turun dari motor Wenda.
"Mau masuk dulu cu?" tawarnya.
"Terima kasih nek, sudah larut malam, aku pulang saja. Terima kasih atas bantuan nenek sama saudari kembar saya. Wanda pamit nek." Wanda pun memutar motornya dan meninggalkan rumah nenek penolong itu.
Tanpa Wanda sadari, rumah sederhana tempat tinggal nenek itu berubah menjadi pohon besar. Jalanan yang Wanda kira jalanan ber aspal, perlahan berubah menjadi hutan belantara yang tidak bisa diakses dengan kendaraan bermotor.
Wanda memacu cepat motornya menuju pulang ke rumahnya. "Semoga saja tidak ada polisi razia malam-malam begini, aku lupa pake helm pula." gerutunya.
__ADS_1
Plakkk!
Sesuatu menabrak bagian kepala Wanda, membuat Wanda oleng, beruntung dia masih bisa menguasai laju motornya, dan berhenti untuk memeriksa bagian pelipisnya yang sakit.
"Awww!" jeritnya. Tangannya mengusap pelan bagian yang sakit tersebut. Wanda mengarahkan spion motor kearahnya, agar bisa melihat keadaan yang sakit. "Yah ... memar ...." gumamnya.
"Begini nih, kenapa harus pake helm, walau gak ada razia polisi, tapi demi keamanan diri sendiri, Wanda ... Wanda, kamu sih takutnya sama Pak Polisi kalau nggak pake helm." Wanda mengutuki dirinya sendiri yang sering malas pakai helm kalau naik motor. Tidak pikir panjang lagi, Wanda meneruskan perjalanan pulangnya.
Sesampai di rumah, Wanda memarkirkan motor bututnya, entah kenapa dan darimana asalnya hawa dingin begitu kental terasa, seketika sekujur bulu kecil yang tumbuh di badanya seakan kompak berdiri.
"Brrrrrrr!" Wanda menggidik ngeri. "Kenapa ya? Kayak nonton film hantu aja, pas adegan hantunya muncul, pas banget nih kayak gini." Wanda berulang kali mengusapkan kedua telapak tangannya ke permukaan kedua lengannya.
"Baru pulang dek?" Sosok kembarannya itu sudah berada di depan pintu.
"Kak Wenda, iya kak, aku baru pulang. Tadi anter nenek yang nolong kakak dulu pulang ke rumahnya." Wanda langsung mendekati Wenda. "Kita masuk yuk kak, sudah malam." Wanda melingkarkan lengannya di pinggang saudari kembarnya. Menjadi pemandu arah untuk saudari kembarnya, Kedua kembaran itu langsung masuk ke dalam rumah.
Saat memasuki rumah kecil sederhana tersebut, terlihat Winarti sudah memejamkan matanya begitu rapat. "Mak ketiduran di kursi, kakak aku anter ke kamar dulu, baru aku bangunin emak," ucap Wanda.
"Iya."
"Kak, kakak baik-baik aja kan?" Wanda memastikan.
"Tapi ... kenapa badan kakak dingin kayak mayat gini?" tanya Wanda.
"Iya, kan aku mayat hidup."
"Kak, bercandanya asem kak," protes Wanda.
"Sudah, anter aku sampai pintu kamar aja, kamu langsung bangunin emak, malam ini dingin banget, nanti emak sakit," pinta Wenda.
"Iya kak." Setelah mengantar Wenda sampai di depan pintu kamarnya, Wanda segera mendekati ibunya, dan membangunkan wanita tua yang sangat berjasa dalam hidupnya. "Mak ...." Wanda menggoyangkan pelan tubuh wanita itu.
"Hm ...." Perlahan sepasang mata yang berpejam rapat itu terbuka. "Baru pulang?" Suara Winarti terdengar serak.
"Iya mak, rumah tu nenek jauh banget, aku anternya juga pelan, ntar jatuh tu nenek kalau aku ngebut, mak."
Rasa kantuk yang membebani kelopak matanya lenyap begitu saja, saat sepasang mata milik Winarti melihat memar di pelipis kanan putrinya. "Pelipis kamu kenapa?" Dia sangat panik kalau salah satu anaknya terluka.
__ADS_1
"Nggak tau mak, nabrak burung atau apalah, lupa pakai helm mak," sahut Wanda.
"Ya salam, sini mak obati." Winarti bergegas bagun untuk mengompres bagian biru yang ada di pelipis putrinya.
"Aku bisa sendiri, mak. Saat ini mak istirahat ke kamar dulu."
"Tapi Wan-"
"Mak ...." Wanda berusaha meyakinkan ibunya.
Winarti mengalah, dia pun menuruti permintaan Wanda. Sedang Wanda menuju kamar mandi, untuk membersihkan wajahnya, selesai ..., kini dirinya segera mengambil handuk dan air hangat yang dia tampung di baskom kecil untuk mengompres bagian yang nyeri di pelipisnya.
Wanda membawa baskom kecil dan handuk kecil masuk ke dalam kamarnya. Terlihat di kamar itu, Wenda duduk berjuntai di sisi tempat tidur mereka.
"Belum tidur kak?" sapa Wanda.
"Belum ngantuk."
Wanda hanya tersenyum, dia menuju meja rias, dan segera mengompres lukanya.
Mendengar suara gemericik air, membuat Wenda melontarkan pertanyaan untuk Wanda. "Kamu nagapain dek?"
"Aku lagi kompres memar kak, tadi aku nggak tau nabrak apaan." Wanda masih sibuk mengompres bagian yang memar itu. "Kakak tidur aja, selesai ini, aku akan menyusul kakak."
"Kakak mau ngomong banyak sama kamu, sebelum waktu kebersamaan kita habis," ucap Wenda.
Mendengar perkataan Wenda seperti itu, membuat Wanda menghentikan kegiatannya. Dia mendekati kakaknya dan melingkarkan tangannya di bahu kakaknya. "Walau aku dan Jerry menikah, kalian akan bersamaku, itu janji Jerry. Jadi walau aku menikah, kita tetap bisa bersama."
"Kamu punya musuh dek?" tanya Wenda.
"Musuh? Aku ini anak baik dan manis, mana ada orang yang bisa marah atau kesal denganku," ledek Wanda.
"Mungkin orang yang patah hati, kalau kamu dan Pak Jerry menikah."
"Ada kali ya seperempat dari penghuni bumi ini yang patah hati, kan adik kakak ini wanita paling cantik, kalau aku menikah, itu akan jadi hari patah hati nasional kak." Wanda semakin erat memeluk kakaknya.
Sedang pada sisi pandangan lain, yang dipeluk Wanda tidak ada siapapun. Arwah Wenda justru duduk di sisi yang lain dari Wanda.
__ADS_1
"Tugasku akan selesai dek, kalau dendamku terbalas, dan kamu kupastikan hidup bahagia, baru aku bisa pergi dengan tenang." ucap Arwah Wenda.