Dendam Sang Bunga Desa (ALLETHA)

Dendam Sang Bunga Desa (ALLETHA)
Bab 19.Meminta Persetujuan


__ADS_3

"Kamu yakin mau menikahi gadis itu dit?" Tanya mama dengan lembut pada ku


Aku tersenyum dan mengangguk dengan yakin "Tentu ma! Radit sangat mencintai letha" Sahut ku yang membuat mama menghela nafas berat


"Baiklah,jika itu memang sudah menjadi keputusan mu mama akan dukung"


"Tapi,ingat! mama dan papa harus tau dulu bagaimana bibit bobot nya gadis itu! Mama ingin bertemu dengan nya secara langsung!"


Aku terkekeh pelan "Iya maaa! Waktu nya tak akan sampai 2 minggu lagi radit akan membawa mama dan juga papa datang menemui letha dan juga abah nya"


"Radit yakin" Ucap ku sambil memegang tangan mama "Mama pasti akan langsung menyukai nya sama seperti radit" sambung ku yang membuat mama mengangguk


"Jadi,mama setuju?" Jawab ku antusias


Mama menegelus pipi ku lembut "Mama masih belum menjawab setuju atau tidak! Mama hanya bilang akan mendukung mu" jelas mama yang membuat ku sedikit kecewa.


"Mama tidak bisa langsung memberikan persetujuan dit,sekarang keputusan yang valid itu hanya ada pada papa mu"


"Tunggu sampai dia pulang! Setelah papa mu pulang,katakan lah niat baik mu untuk melamar gadis itu pada papa mu"


"Tapi,lagi lagi kamu harus ingat! jika papa mu bilang tidak maka kamu harus menerima nya"


"Dan jangan sekali sekali,membantah keputusan nya" terang mama panjang lebar pada ku!


"Yasudah,kalau gitu mama mau ke dapur dulu,untuk memasak makan siang kita!" pamit mama yang ku balas dengan sebuah anggukan


Setelah kepergian mama,ku hempaskas kan tubuh ku di atas sofa! Mendengar penuturan mama tadi,membuat ku semakin merasa tegang!


Meminta sebuah persetujuan dari papa bukan lah hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan! Walau,sekeras apa pun aku membujuk dan terus meyakinkan diri nya itu belum tentu berhasil!


Papa itu sangat tegas dan juga keras kepala! Dia memiliki pendirian yang sangat kuat dan bahkan tidak bisa tergoyahkan sedikit saja meski dengan cara apapun itu!


"Haaaah"


Rasa bimbang,dan gelisah! Membuat ku sangat tidak nyaman! Aku hanya takut,jika aku mengatakan niat baik ku pada papa nanti dia akan langsung menolak nya!


Apalagi,jika aku mengatakan hal yang sejujur nya tentang apa yang sudah menimpa letha pada papa!


"Aaaargh" Ku raup wajah ini dengan kasar


Rasa nya kepala ini mau pecah memikirkan berbagai cara untuk meyakinkan papa,tetapi cara cara yang muncul di dalam pikiran ku masih belum ada satu pun yang menurut ku benar benar ampuh!


Jika,bertanya pada mama pun sepertinya juga tidak akan ada arti nya! Sebab,mama bukan lah pemberi solusi yang baik dia hanya seorang ahli pendenggar yang baik tetapi tak bisa memberikan saran,atau kritik sekali pun.


Contoh nya saja malam tadi,saat pertama kali aku mengutarakan niat ku pada mama dan memutuskan untuk menceritakan semua yang terjadi pada letha! Mama hanya menujukkan raut wajah syok,dan juga kesedihan.


Dan seperti biasa,mama hanya akan diam setelah nya! lalu meminta pada ku untuk bertanya langsung pada papa!


"Ting"


"Tong"


Aku sedikit terlonjak saat mendengar suara bel berbunyi.

__ADS_1


"Sebentaaaar!" seru mama dan langsung berlari kecil menuju pintu utama


"Eeeh papa sudah pulang?"


Mata ku membulat sempurna saat mengetahui siapa yang datang.Bukan nya mama bilang pada ku kalau papa akan pulang dalam kurun waktu satu minggu lagi?


"Gimana proyek nya pa? semuanya lancar kan?" tanya mama yang terlihat sangat antusias menyambut kepulangan papa,sambil mengambil alih dua buah koper yang ada di kedua tangan papa.


"Alhamdulillah,semua proyek papa lancar ma! Bahkan,jauh lebih cepat dari waktu yang sudah di tentukan" sahut papa bangga dan membuat mama tersenyum bahagia


Tak sengaja pandangan ku dan papa bertemu "Kamu sudah kembali dit?" tanya papa dengan raut wajah bingung


Aku tersenyum masam "Iya pa!" jawab ku seadanya lalu berganti menatap mama yang memang juga sedang menatap ku


"Iya pah,radit baru kembali kemarin sore dari desa itu"


"Kepulangan anak kesayangan mu itu bukan lah tanpa alasan!" jelas mama yang membuat jantung ku berdegup lebih cepat!


Mendengar penuturan mama papa terlihat menyipitkan sedikit mata nya "Alasan apa?" tanya papa pada mama


Mama hanya tersenyum "Nanti saja,sekarang papa mandi lah dulu!"


"Setelah itu,turun lah ke bawah dan kita akan makan siang bersama"


"Ayo pah" ajak mama tetapi papa hanya bergeming sambil terus menatap ku,dan itu semakin menambah kegelisahan yang ada pada diri ku


"Paaah!" panggil mama lagi


"Ah,iya ma"


Setelah 1 jam berlalu,papa sudah selesai dengan ritwal mandi nya.Dan papa langsung turun dari kamar tidur nya lalu berjalan dengan langkah pelan menuju ruang makan untuk bergabung bersama ku dan juga mama.Yang memang sudah menunggu papa sejak tadi!


Papa menatap ku sebentar sebelum benar benar mendaratkan bokong nya di atas kursi!


"Cukup ma" Ucap papa saat mama menuangkan 2 sendok nasi di atas piring papa


"Mau ikan nya pa?" tawar mama


Papa menggeleng "Tidak ma! berikan telur dadar itu saja" tunjuk papa


Mama mengangguk sambil meraih piring yang berisakan telur dadar itu,kemudian memberikan sepotong pada papa.


"Sudah pa?"


"Sudah ma,biar papa saja" sahut papa


Aku hanya diam tanpa melakukan apapun,selain menyimak obrolan mereka dan sesekali melirik ke arah papa.


"Kamu tidak makan dit?" tanya mama yang kembali mengundang perhatian papa


"Radit masih kenyang ma! Kalian saja yang makan" sahut ku yang membuat papa menggelengkan kepala dan kembali pokus pada makanan nya.


"Makan lah walau hanya sedikit sayang,mama tidak mau kamu sakit" ujar mama

__ADS_1


"Biarkan saja ma!" potong papa cepat sebelum aku benar benar menjawab mama


"Tapi paaa....


"Sudah! Biarkan saja" tegas papa yang membuat mama pasrah dan tak lagi berani membantah papa.


"Apa yang ingin kamu katakan pada papa dit?" ujar papa tiba tiba yang membuat ku sedikit terkejut.


"Bagajmana papa tau? Apa mama sudah mengatakan nya pada papa sebelum aku?"


"Tidak ada pa!" Sahut ku


Papa mendongakkan kepala nya dan memandang wajah ku "Katakan saja,papa akan mendengar nya" ucap papa lagi yang membuat ku semakin tegang.


Ku alihkan pandangan ku sebentar ke arah mama yang memang duduk tepat di hadapan ku.


"Katakan saja" Ujar mama


"Emmm begini pah......" ucap ku akhir nya yang mencoba memberanikan diri


"Radit ingin memberitahukan sebuah keinginan dan juga niat baik radit"


"Apa itu?" tanya papa


"Radit ingin melamar seseorang tapi....


"Siapa dia?" potong papa cepat


"Namanya Alletha pa" jawab ku


"Usia nya?"


"Tak jauh beda dengan radit hanya berselisih 3 tahun saja" jawab ku lagi


"Apa pekerjaan nya?"


Aku menggeleng ragu ragu "Tidak ada pa! keseharian nya hanya membantu abahnya di kebun"


"Ibu nya?"


"Ibu nya sudah meninggal saat letha masih kecil"


"Baik,sampai mana pendidikan gadis itu?"


"Pendidikannya hanya sampai sekolah dasar saja pa" jawab ku


"Tidaaaak!" tolak papa dengan wajah datar


"Cari lah gadis lain yang jauh lebih baik dari nya"


"Papa mau,kamu mendapatkan seorang gadis yang memiliki pendidikan yang tinggi dan setara dengan krateria keluarga kita"


"Tapi pa.....

__ADS_1


"Cukup! Jawaban papa tetap tidak!" tegas papa dan langsung berlalu meninggalkan meja makan.


__ADS_2