Dendam Sang Bunga Desa (ALLETHA)

Dendam Sang Bunga Desa (ALLETHA)
Bab 22


__ADS_3

Pak kades terus mengamati istri nya yang sedang menyiapkan makan siang untuk nya tanpa mengeluarkan satu patah kata pun dari mulut nya sejak tadi.Terlihat mata istri nya masih sembab,pak kades merasa sangat yakin bahwa istri nya tidak tidur semalaman.Sebab,pak kades sempat beberapa kali memergoki kepala istri nya bergetar dan itu pertanda bahwa istri nya memang sedang menangis meski suara isakannya sangat pelan!


"Sudah lah buk! kau tidak usah terlalu memikirkan putra mu yang sampai saat detik ini juga masih tidak memikirkan diri mu" ucap pak kades sambil memegang ke dua bahu milik istri nya.


"Tidak perlu menangisi diri nya,itu sudah cukup buk" tambah pak kades yang membuat pundak itu semakin gemetar


"Paak!" panggil istri nya yang kini sudah berbalik menatap pak kades dengan berlinang air mata.


"Maafin ibuk ya pak! ibuk akui ibuk salah"


Pak kades menggeleng pelan.lalu,menarik tubuh sang istri ke dalam pelukan nya "Bapak sudah memaafkan ibuk" ujar pak kades dan beberapa menit kemudian melepaskan pelukan itu.


"Assalamualaikum"


"Pak kades!"


"Siapa itu pak?" tanya istri nya sambil menghapus air mata nya


"Bapak juga tidak tau buk,ibuk tetap lah di sini biar bapak saja yang menemui seseorang itu" kata pak kades yang kemudian mendapat sebuah anggukan dari istri nya.


Setelah kepergian suami nya,diam diam buk kades merasa sangat bersalah.Tapi semua ini bukanlah kesalahan darman-putra mereka seutuh nya! Sebagian kesalahan itu juga ada pada diri buk kades sendiri.Sebab,ia telah salah dalam mendidik darman dengan pola asu yang buruk sejak kecil!


Jika saja buk kades mendidik nya dengan baik,dan tidak terlalu memanjakan anak semata wayangnya itu.Mungkin ini tidak akan pernah terjadi.Darman akan tumbuh dan hidup menjadi seseorang yang memiliki kepribadian dan sikap yang baik.


Sementara itu,pak kades terus melangkah menuju halaman rumah milik nya,kemudian dengan cepat membukakan gerbang itu dan mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam.


"Tidak usah pak kades,ibuk ini saja yang masuk ke dalam!" tolak pak imbron


"Saya hanya mengantarkan beliau saja,kata nya ibuk ini ingin bertemu dengan darman putra bapak!" Jelas pak imbron lagi yang membuat kening pak kades mengkerut


"Darman?" Ulang pak kades

__ADS_1


"Iya pak,saya ingin bertemu dengan darman" sahut wanita itu


"Baik pak,kalau begitu saya permisi dulu ya! soalnya pekerjaan saya masih belum selesai" ucap pak imbron


"Yah! silahkan,terimakasih karna pak imbron sudah mau mengantar ibuk ini ke rumah saya" ucap kades dengan senyum tulus


"Sama sama pak! mari buk,saya tinggal ya" pamit pak imbron yang kemudian melenggang pergi kembali menuju kebun milik nya.


"Mari buk masuk" Ajak pak kades namun wanita itu menggeleng tanda menolak


"Di sini saja pak! saya tidak akan lama."


"Kedatangan saya kemari hanya ingin menagih ini pada anak bapak! sekaligus mengembalikan kartu tanda penduduk ini" ujar wanita itu sambil memberikan sebuah kertas tagihan dan juga kartu identitas milik darman.


Dengan sopan pak kades menerima apa yang di berikan wanita itu pada nya,dengan seksama pak kades melihat apa isi dari secarik kertas itu!


"Kapan anak saya mampir ke kedai kopi ibuk?" tanya pak kades saat selesai membaca isi secarik kertas itu.


"Ini buk! maaf karna sudah merepotkan" ujar pak kades sambil menyerahkan 1 lembar uang bewarna merah pada wanita itu.


Dengan ragu wanita itu menerima uang yang di berikan oleh pak kades sambil terus menatap wajah pak kades.Menyadari hal itu,dengan cepat pak kades langsung berkata bahwa ia tidak mau kembalian nya dan meminta pada wanita itu untuk menyimpan sisa nya sebagai permintaan maaf.


"Terimakasih banyak pak! kalau begitu saya permisi,soal nya kedai saya tidak ada yang menjaga"


Pak kades mengangguk "Baik buk,hati hati di jalan" pesan pak kades


Pak kades terus memperhatikan punggung wanita itu hingga benar benar hilang dan tak terlihat lagi!


Tak berapa lama kemudian,tampak lah damar yang baru saja keluar dari dalam rumah abah.Yang membuat pak kades langsung datang menghampiri damar!


"Bagaimana keadaan letha mar?" tanya pak kades

__ADS_1


"Kondisi letha sudah mulai baikan pak kades,cuma yaaah.....


"Cuma apa?" tanya pak kades penasaran


"Sosok yang merasuki tubuh nya malam tadi,masih belum benar benar keluar pak kades! bahkan sampai saat ini pandangan letha masih terlihat kosong dan tidak mau bicara meski abah dan saya sudah berulang kali mengajaknya berbicara" terang damar panjang lebar


"Lalu? kenapa kau tidak memanggil mbah narsih saja mar?"


Damar menggeleng "Mbah narsih dia sedang pergi ke hutan keramat di desa sebelah pak kades"


"Dan saya masih belum tau kapan mbah narsih pulang dan menyelesaikan semedi nya" tambah damar dengan raut wajah sedih begitupun dengan raut wajah pak kades.


"Oh ya pak! apa darman sudah kembali ke rumah?" tanya damar mengalihkan pembicaraan


"Masih belum mar! saya juga tidak berharap dia kembali lagi ke rumah" Jawab pak kades yang membuat damar menatap wajah pak kades dengan tatapan tak percaya.


"Yasudah kalau begitu,saya mau kembali lagi ke rumah"


"Bapak tidak ingin melihat letha dan menemui abah dulu?" tanya damar


"Nanti saja" sahut pak kades dan langsung melenggang pergi.


Kening damar berkerut kala mendengar penuturan dari pak kades,ia merasa sedikit heran dengan perubahan yang di alami oleh pak kades.Sebab,tak biasa nya bahkan tak pernah ia menolak untuk menemui abah maupun letha! Bahkan,dengan terang terangan ia mengatakan bahwa ia tidak ingin darman-putranya kembali lagi ke rumah!


Padahal di waktu waktu dulu,saat darman tak kembali atau telat pulang ke rumah dengan sigap pak kades langsung pergi dan mencari putranya itu.Tetapi kenapa kali ini sikap nya berbeda sekali? Batin damar


"Bang!" seru mela yang membuat damar tersadar bahwa diri nya sudah cukup lama mematung di sana


"Abang sedang apa di sana?" tanya mela sewot namun,damar hanya diam dan malah menyuruh mela kembali ke rumah abah dan memintanya untuk menemani letha di sana.Sebab,abah harus pergi ke kebun dan menaburkan pupuk terakhir sebelum hari penen tiba.


"Yasudah! Iya,iyaaa!" sahut mela setuju meski dengan raut wajah kesal dan berjalan malas menuju rumah abah!

__ADS_1


__ADS_2