
"Sudah berulang kali ku katakan,aku tidak mengenali mu!" Tegas ku
"Sebaik nya kau pergi lah dari sini! Kembali lah ke alam mu,jangan ganggu aku lagi"
"Aku tak akan pernah mau memberikan tubuh ku pada mu" terang ku
Sosok itu tersenyum sambil terus memandang ku tanpa berkedip,dan itu semakin menambah rasa takut pada diri ku!
"Aku tidak akan pernah pergi meninggal mu walau sekeras apa pun kau mengusir ku alletha!" Jawab nya dengan sangat lembut
"Kau yang telah memanggil ku"
Aku terhenyak,kapan aku memanggil nya? maksud ku,aku dan dia beda alam! Ba-gaimana bisa? Itu tidak mungkin.
Tiba tiba sosok itu kembali menggerakkan tangan nya memegang kepala ku,lalu mengelus kembali rambut ku dengan lembut! Dan itu membuat ku merasa nyaman dan mulai menikmati setiap gerakan tangan nya.
"Kau tak perlu takut dengan ku! Sebab aku tidak akan pernah menyakiti diri mu"
"Tapi jika kau terus menolak ku,kau akan tau apa akibat nya alletha"
"Sudah begitu lama aku menginginkan diri mu,aku selalu hadir dalam mimpi mu! Tetapi kau tidak pernah menganggap ku ada"
Aku hanya diam dan terus menatap wajah damai milik nya,wajah itu tidak lagi dingin dan seseram seperti tadi! Wajah nya begitu teduh.Siapa pun yang melihat rupa nya pasti akan terkagum kagum.
"Siapa nama mu?" entah kenapa mulut ku bertanya demikian,padahal tak ada terbesit sedikit pun di hati ku untuk menanyakan siapa nama nya.
"Sabrina" Ucap nya pelan sekali,hampir setengah berbisik namun telinga ku mampu mendengar nya dengan jelas.
Sedetik kemudian tangan yang ada di kepala ku,perlahan ia turun kan menuju kening dan terus turun hingga menuju ke kedua mata milik ku,yang membuat ku langsung terpejam.
Bersamaan dengan itu,sekelebat angin lembut menyapu seluruh bagian wajah ku!
Perlahan ku buka lagi mata ini,saat aku melihat ke samping kanan ku.Aku tak lagi mendapati diri nya di sana.
"Seperti nya dia sudah pergi" batin ku
Kutarik nafas panjang lalu menghembuskan nya perlahan,ku tatap langit langit plafon yang memang sudah sangat usang,tetapi masih terlihat lumayan kokoh dan mampu melindungi ku dari panas nya sinar matahari dan air hujan yang turun dari langit.
"Letha" panggil abah yang membuat ku beralih melihat nya
"Iya bah" sahut ku
__ADS_1
"Kau baik baik saja kan ndok" tanya abah tiba tiba yang membuat ku sedikit merasa bingung.
"Letha baik baik saja kok bah! Abah tenang saja yah" ujar ku
Abah mengangguk,wajah nya murung dan membuat ku kembali dilanda rasa bingung."Ada apa bah?" tanya ku ingin tau
"Abah hanya merasa kasihan pada mu ndok!" ucap abah sedih
Aku tersenyum "Tidak perlu mengasihani letha bah,letha baik baik saja"
"Sebentar lagi luka luka ini akan sembuh"
"Dan letha akan bisa menjalani kehidupan letha seperti biasa nya,meski tak mungkin kembali seutuh nya" ucap ku sedikit gemetar
Perlahan abah berjalan mendekat dan duduk di atas kasur tepat di samping ku berbaring saat ini.
"Kau wanita yang kuat ndok! Abah yakin kau pasti akan bisa melewati semua ini dengan tabah dan juga sabar"
"Kau sangat persis dengan almarhuma ibu mu,tetapi entah kenapa nasib mu juga bisa sama dengan apa yang di alami ibu mu"
"Abah selalu berdoa yang terbaik untuk mu ndok,abah sangat berharap apa yang terjadi pada ibu mu di masa lalu tidak akan pernah terjadi pada mu"
Abah tergugu dan tak mampu melajutkan perkataan nya.
"Sudah bah! Tidak baik jika mengingat masalalu itu lagi"
"Letha yakin,ibu sudah tenang di sana bersama dengan adik letha bah" ucap ku yang mencoba menenangkan abah.
Jujur,sebenar nya hati ini juga ingin ikut menangis dan mengeluarkan semua uneg uneg kesedihan ku.Tetapi aku tidak mau menumpah kan nya sekarang!
Aku khawatir tangisan ku ini akan membuat abah semakin merasa sedih dan juga terpuruk! Serta membuat nya akan terus mengingat almarhuma ibu.
"Di mana nek mirna bah?" tanya ku saat setelah aku menyadari bahwa tidak ada lagi tanda tanda keberadaan nek mirna di sini.
"Dia sudah pulang ndok" jawab abah
"Pulang? Kenapa cepat sekali bah?" tanya ku heran,sebab tak biasa nya nek mirna akan pulang secepat itu jika sudah bertamu ke rumah ku.
"Abah juga tidak tau ndok,kata nya masih ada urusan"
Aku hanya mengangguk sambil ber o o ria saat mendengar jawaban dari abah.
__ADS_1
"Abah tidak pergi ke kebun lagi hari ini?" tanya ku
"Bagaimana bisa abah pergi berkebun,sedangkan kau sedang sakit seperti ini ndok" terang abah
"Abah tidak akan tega meninggalkan mu sendirian di sini"
"Tidak apa apa bah,jika kebun kita terus di biarkan seperti itu pasti tidak akan lagi terawat"
"Bukankah hanya butuh waktu 2 minggu lagi untuk menunggu hasil panen tiba bah?" tanya ku
"Iya ndok,2 minggu lagi"
"Lalu? apakah abah akan terus berada di rumah menjaga letha,dan membiarkan hasil kebun kita terus seperti itu tanpa di siram atau di beri pupuk sampai masa panen itu tiba bah?"
"Apakah abah tidak takut rugi? Kalau kalau hasil kebun kita jelek dan tidak memuaskan?"
"Dan tidak ada lagi 1 pun pedagang yang akan mau membeli hasil dari kebun kita,meski abah menjual nya dengan harga murah!"
"Jika pun bisa,bukan kah itu semakin merugikan?"
Aku terus melemparkan berbagai pertanyaan dengan tujuan menakut nakuti abah,agar mau pergi ke kebun.
"Yah,baik lah! abah akan pergi" ucap abah yang akhir nya mengalah
"Tapi ingat,kau jangan sekali pun berniat untuk turun dari kasur mu sampai abah pulang"
"Jika ada seseorang mengetuk pintu,baik itu darman jangan di buka ya ndok"
"Sebab radit sudah berpesan pada pak kades,untuk menjauhkan darman dari mu"
"Iya bah" sahut ku
"Yasudah,abah pergi ya" Pamit abah dan mendaratkan sebuah kecupan hangat untuk ku
Aku tersenyum kemudian mengangguk "Iya bah,hati hati di jalan! Letha akan menunggu abah pulang"
Setelah kepergian abah,entah mengapa aku merasa suasana di rumah ini tiba tiba menjadi sangat hening.
Bukan hanya itu,suara suara riuh di luar rumah juga tidak ada ku dengar.Biasa nya akan terdengar suara ibu ibu berkumpul sambil bercerita dan sesekali tertawa jika ada dari salah satu dari mereka menceritakan hal yang lucu.
Suasana hening ini,lagi lagi membuat ku harus menatap kembali langit langit plafon dan sangat berharap rasa kantuk itu datang agar membuat ku tertidur.
__ADS_1