Dendam Sang Bunga Desa (ALLETHA)

Dendam Sang Bunga Desa (ALLETHA)
Bab 7.Kepergian Radit


__ADS_3

"Letha,buka pintunya ndok! Ini ada nak radit"


"Dia ingin bertemu dengan mu terlebih dahulu sebelum pergi"


Abah berulang kali memanggil dan mengetuk pintu kamar ku,aku memang sengaja mengunci nya.Sebab aku tau,bang radit akan datang kemari sebelum benar benar pergi.


Bukannya aku tak ingin bertemu dengan nya untuk yang terakhir kali,tapi hati ku tak sanggup melakukan itu! Aku hanya takut,jika aku menemuinya itu akan menambah rasa sakit dan rasa rindu ku pada nya.


Sebenarnya aku sangat menyayangi dan mencintai bang radit,tapi aku tak pernah memperlihatkan rasa itu apalagi mengungkapkannya.


Karna aku sadar,aku ini hanya lah gadis desa biasa! Dan di tambah lagi dengan kondisi diriku sekarang.Sedangkan bang radit? Dia orang kota,mapan,punya gelar,dan juga tampan.


"Letha?"


Suara bang radit membuat ku mendongakkan kepala,hati ini rasa nya sakit sekali! Dada ku terasa perih! Aku tak menyangka ini semua akan terjadi pada ku.


Andai saja malam itu aku tak keluar rumah,maka hidup ku tak akan menjadi seburuk ini!


Aku sangat benci dengan diri ku,aku benci! Aku benci ke dua lelaki beres*k itu.


"Apa kamu benar benar tidak mau menemui abang letha?"


Kembali terdengar suara bang radit,dengan sekuat tenaga aku berusaha meredam kan tangisan ku agar tak terdengar oleh nya.


"Letha?"


"Kamu sedang apa di dalam?"


"Izinkan abang menemui mu sebentar"


"Tidak bang!" Tolak ku dengan suara gemetar


"Pergilah! Letha tidak ingin bertemu dengan abang" lanjut ku


"Ada apa dengan suara mu? Apa kamu menangis lagi?


"Tidak! pergi lah"


"Baiklah" ucap bang radit pasrah


"Jaga diri mu baik baik selama abang tidak ada di sini"


"Pesan abang,stop untuk menyalahkan diri mu sendiri letha! Karna itu semua bukan salah mu"

__ADS_1


Aku hanya diam sambil membekap mulut ku dengan sebelah telapak tangan ku! Aku terus menyimak percakapan antara abah dan bang radit di dalam sini.Cukup lama mereka berbincang hingga akhir nya ku dengar bang radit berpamitan dengan abah dan meminta pada abah untuk terus menjaga ku.


"Hati hati nak radit! Jika sudah sampai tolong kabari abah"


"Iya bah! Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Aku yang mendengar itu langsung buru buru bangkit dari kasur ku dan terus berusaha melangkahkan kaki ini menuju ke arah jendela untuk sekedar melihat bang radit untuk yang terakhir kali nya.


"Awwww!" Aku meringis kala merasakan nyeri yang sangat luar biasa dari bagian int*m milik ku


"Cepat lah letha! Kau harus kuat" Ucap ku memberi semangat pada diri ku


Saat langkah ku berhasil sampai di depan jendela,dengan cepat aku langsung membuka nya.Dan sial nya aku tak lagi mendapati bang radit di luar sana! mungkin aku kalah cepat.


Rasa kecewa mulai menyelimuti hati ku,air mata terus mengucur dengan deras.Entah kenapa aku sangat merasa tidak ikhlas bang radit benar benar pergi meninggal kan ku dan juga desa ini.


Perlahan lahan aku mulai tergugu serta terisak,berulang kali ku hantam dada ini dengan tangan ku berharap rasa sakit ini bisa menghilang!


Ternyata tidak! Rasa sakit ini malah semakin bertambah saat ekor mata ku tak sengaja menangkap sebuah bingkai kecil yang tergelantung di sisi sebelah kanan kamar ku! yang di mana di dalam bingkai itu ada aku dan bang radit.


"Tok"


"Tok"


"Tok"


"Mari kita makan,kau belum makan sejak kemarin"


"Iya bah sebentar" sahut ku dan langsung buru buru menghapus air mata ini,kemudian dengan langkah terseok seok berjalan ke arah pintu sambil menahan rasa nyeri dan ngilu.


Pandangan ku edarkan ke seluruh bagian ruang tamu hingga ruang tengah,entah kenapa hati ku sangat mengharapakan bahwa sosok bang radit masih ada di sini dan menunggu ku keluar dari dalam kamar! Sebab indra penciuman ku masih bisa menghirup bau parfum milik nya.


"Nak radit sudah pergi ndok!" Ucap abah yang membuat ku tersenyum masam


"Iya bah,letha tau"


"Kemarilah,duduk lah di sini dan makan bersama abah" ajak abah sambil menepuk kursi kosong tepat di samping nya


Aku mengangguk tanda mengiyakan,dan kemudian mendaratkan bokong ini di atas kursi.


Dengan cekatan abah menuangkan nasi dan juga lauk pauk di atas piring ku. "Cukup bah" ujar ku kala abah ingin memambahkan kembali sayur kangkung di atas nasi ku.

__ADS_1


"Baiklah,jika kurang tambah lagi ya ndok" ucap abah yang kini berganti menuangkan nasi di atas piring nya


"Iya bah!" jawab ku


Cukup lama aku merenung menatap makanan yang ada di hadapan ku,ku tarik nafas panjang dan menghembuskan nya lalu mengerakkan tangan ku meraih makanan itu menggunakan sendok lalu menyuap kan nya kedalam mulut ku.


"Kenapa ndok? Apa makanan nya tidak enak?" tanya abah saat menyadari bahwa aku sangat sulit mengunyah dan menelan makanan ku.


"Enak bah,letha hanya tidak bernafsu makan" jawab ku jujur


Abah menatap ku iba "makan lah walaupun sedikit ndok,abah tidak mau kau sakit" nasehat abah


Aku mengangguk dan kembali menyupakan makanan yang ke dua ke dalam mulut ku meski dengan rasa terpaksa.


Terus ku tatap wajah abah yang sudah mulai keriput,rasa bersalah lagi lagi datang dan kembali membuat air mata ku terjun dengan bebasnya.


"Bah?" panggil ku dengan lembut membuat abah tak tak jadi menyuap kan makanan itu ke mulutnya dan abah malah meletakkan kembali sendok itu di atas piring.


"Ada apa ndok?" tanya abah


"Kenapa kau terus menangis? Tidak kah kau merasa bahwa kelopak mata mu itu sudah sangat bengkak dan wajah mu juga sembab ndok"


"Maafin letha ya bah,karna letha sudah membuat abah malu" ucap ku sambil tergugu


"Tidak ndok! Kau tidak pernah membuat abah malu.Jangan berkata seperti itu ndok"


"Abah sangat sayang pada mu! Maaf kan abah karna lalai dalam menjaga mu" sambung abah dan mulai ikut menangis bersama ku


"Letha tidak tau harus berbuat apa sekarang bah! Letha sangat takut dan juga malu jika harus keluar rumah dan bertemu dengan orang orang bah"


"Letha takut orang orang akan mencecar letha"


"Kenapa kau berfikir terlalu jauh seperti itu ndok? Warga desa tidak mungkin mencecar mu!"


"Mereka semua sayang pada mu"


Aku menggeleng "Itu dulu bah,letha yakin pasti sekarang mereka sangat benci dengan letha!"


"Setelah apa yang terjadi tidak mungkin tidak ada rasa benci dan tidak suka di hati mereka untuk letha"


"Apa sebaiknya letha mat* saja ya bah? Letha tidak sanggup membayangkan apa yang akan letha alami selanjut nya" ucap ku frustasi


"Apa yang sedang kau katakan itu ndok? Istighfar ndok istighfar" ucap abah

__ADS_1


__ADS_2