
"Menuduh?" sahut ku dengan menaikkan sebelah alis ku
"Bagaimana bisa kau berkata kalau saya menuduh mu? Bukan kan kita bertemu malam tadi? Bahkan saya sempat meminta tolong pada mu"
"Jika kau bertemu dengan letha maka langsung antarkan dia pulang" terang ku yang membuat semua mata kini langsung tertuju menatap darman yang sudah mulai gelisah.
"Apa benar apa yang dikatakan oleh nak radit itu man?" Tanya pak kades
"Mengapa kau datang ke kebun malam malam begitu?"
Darman hanya diam,kepalanya menunduk dan aku juga melihat peluh mulai keluar dari keningnya.
Saat ini aku sungguh merasa heran dengan reaksi yang ia tunjukkan,apakah dia mengetahui suatu hal yang menimpa letha? Atau dia juga ikut serta dalam kasus pemerkaosan itu?
Pikiran jelek ku pada darman semakin membuat ku gelisah,bagaimana kalau pikiran ku itu memang benar? jika iya,maka aku tidak akan pernah bisa memaafkan nya!
"Kenapa kau diam saja darman?" tanya pak kades
"Apakah artinya kau mengiyakan itu semua?"
Darman langsung mengangkat kepala dan bergeleng cepat "Tidak pak! Dia sudah menfitnah darman!
"Itu semua bohong"
"Semakin kau mengelak semakin terlihat jelas bahwa kau memang terlibat dalam kasus ini" lirih ku
"Apa maksud mu nak radit?" tanya abah yang sedari tadi hanya diam
"Bukan apa apa bah! Radit hanya menyimpulkan nya sendiri"
"Dan,radit belum punya cukup bukti untuk mengatakan bahwa darman memang terlibat atau tidak"
"Tapi radit yakin...
Aku sengaja menggantung kalimat ku di sana hanya untuk memastikan bagaimana reaksi darman atas setiap kalimat yang keluar dari mulut ku"
"Yakin tentang apa nak radit? Apa yang kau ketahui? Katakan pada abah,pak kades,dan buk kades nak agar masalah ini cepat selesai"
"Abah sangat tidak tega melihat letha dalam keadaan seperti itu nak radit! Abah sangat menghawatirkan masa depan nya yang sudah hancur sekarang"
"Tenang bah! Abah tidak perlu mencemaskan hal itu dan tentang masa depan letha" ucap ku menenangkan abah
"Pak kades!" panggil ku
"Iya nak radit?"
"Atas permintaan pak kades yang meminta saya untuk kembali ke kota dan pergi dari desa ini juga atas permintaan dari seluruh warga desa"
"Saya menerimanya! Saya akan pergi dari sini"
"Tetapi dengan 1 syarat" ucap ku
"Syarat? Syarat apa?" tanya pak kades bingung
__ADS_1
Aku menatap wajah darman sebentar "Tolong,jangan biarkan darman putra bapak datang ke rumah abah dengan alasan apapun.Apalagi berusaha mendekati letha"
"Karna saya tidak akan mentoleransi hal itu" ujar ku
"Apa?!" pekik darman bangun dari duduk nya
"Apa kau tidak malu mengatakan itu radit?" seru nya
"Kau tidak punya hak melarang ku untuk datang ke sini dan menemui letha"
"Karna letha adalah milik ku! Dan hanya milik ku"
"Oh ya?" tanya ku yang kini juga ikut berdiri yang di ikuti oleh abah,pak kades,dan buk kades
"Apakah letha pernah menganggap dan juga menginginkan diri mu?"
"Tidak kah kau menyadari tentang satu hal?"
"Jika letha memang menaruh hati padamu,tidak mungkin dia terus menerus menolak pinangan dari mu"
"Bukan hanya itu saja,letha juga tidak pernah menatap wajah mu secara langsung dan intens!"
"Letha hanya menunduk dan terus menundukkan kepalanya jika berpapasan dan juga bicara pada mu"
Aku tersenyum puas saat melihat wajah darman merah padam bak seperti kepiting rebus,dan aku yakin sekali bahwa saat ini hati dan telinga nya juga ikut terbakar!
Bagaimana tidak? apa yang ku ucap kan memang benar adanya.Jujur,aku tidak ada bermaksud apa apa! Aku hanya ingin memberinya sedikit pencerahan,agar dia sadar dan mengerti akan hal itu.
Dan berharap dia berhenti mengganggu kehidupan letha dan juga abah!
"Buuugh!"
"****! Awww" rintih ku
"Kurang ajar" umpat ku dan membalas sebuah tonjokan keras tepat di hidung darman
"Sudah bang,hentikan! Teriak letha yang kini sudah berdiri di depan pintu kamar nya
"Letha!" panggil abah dan langsung datang menghampiri nya
"Kenapa kau turun dari kasur mu ndok?"
"Masuk lah! Masuk kembali ke kamar mu"
"Kau harus banyak istirahat agar luka mu lekas sembuh" ajak abah namun letha menggeleng tanda menolak
Letha menangis lagi dan berkata dengan suara parau "Sudah berdebatnya bang! Itu semua tidak akan berguna"
"Semua ini sudah terjadi,dan tidak akan mungkin bisa membuat letha menjadi utuh kembali"
"Letha sudah kotor bang"
"Tidak usah saling memperebutkan wanita kotor seperti letha ini bang"
__ADS_1
"Letha tidak pantas untuk bang darman,bang radit,dan juga lelaki manapun"
"Benar apa yang di ucapkan bang darman,letha ini cocok di panggil sebagai wanita pel*cur"
"Tidak letha tidak!" ucap ku sambil berjalan ke arah nya
"Kamu bukan wanita seperti itu" ucap ku lembut
"Jangan pernah mengulang kata kata itu lagi,abang tidak menyukai nya"
"Sekarang masuk lah kembali ke dalam kamar"
"Mari,biar abang bantu" ujar ku mencoba meraih tangan nya lalu dengan perlahan menuntun nya sampai di atas kasur
"Berbaring lah" ucap ku
Letha menurut,dan kembali membaringkan tubuh nya dengan perlahan di atas kasur!
"Istirahat lah dulu! Abang harus kembali lagi ke sana untuk menyelesaikannya"
"Tapi bang...
"Tenanglah! Abang janji tidak akan mengulangi hal seperti tadi lagi!"
"Percaya lah" ucap ku mencoba memberinya sedikit ketenangan
"Apakah abang benar benar ingin pergi?" lirih nya dengan suara parau
Aku menggeleng "Abang pergi bukan untuk meninggalkan mu selamanya letha"
"Abang akan kembali"
Setelah itu tak ada lagi yang di ucap kan oleh letha yang membuat ku memutuskan untuk kembali lagi ke ruang tamu.
Ku tatap wajah nya sebentar,namun letha berpaling menatap ke arah luar jendela yang memang terbuka.
"Haaah" ku hembuskan nafas panjang untuk sekedar menghilangkan rasa penat yang bersarang di seluruh tubuh.
"Baiklah! Kalau begitu abang keluar ya" pamit ku pada nya
Baru saja aku berbalik dan melangkah, kembali terdengar suara pilu letha yang memanggil nama ku.
"Emm?" sahut ku berbalik melihat ke arah nya,tetapi letha masih dengan pandangan yang menatap ke arah luar jendela.
Cukup lama aku menunggu,tetapi letha tak kunjung meneruskan ucapan nya! Entah apa yang ingin di bicarakan nya pada ku.Tapi yang jelas tatapan letha begitu sayu dan di penuhi oleh kesedihan yang sangat mendalam.
Akhirnya dengan perasaan gusar,kembali ku langkah kan kaki ini.
"Jangan pergi bang!" lagi lagi letha bersuara dan membuat ku kembali menghentikan langkah namun tak berbalik ke arah nya.
"Letha tidak sanggup jika abang pergi meninggalkan letha sendiri"
"Kalau abang tetap pergi,letha juga ikut pergi tetapi tidak bersama abang"
__ADS_1
"Letha akan ikut dengan nya yang sudah lama menginginkan letha"