
H 4 P P Y R 3 4 D I N Gπ»
πΉβ¨πβ¨πΉ
Anisa terdiam bingung memikirkan apa dia harus berjalan mendekat memastikan apa yang di dengar itu benar atau bersikap bodoh amat.
Menarik nafas panjang, Anisa memberanikan diri langsung menghampiri.
Saat tiba, belum juga mengatakan sesuatu Bara sudah mengakhiri telpon nya.
"Ada apa?" tanya Bara sedikit terkejut saat berbalik Anisa berada di belakang nya.
"Makanan sudah siap," jawab Anisa mengurungkan niat nya untuk bertanya.
Melihat sikap Bara seperti ini, membuat nya ragu. Semua terlihat jelas jika pria di depan nya ini tak ingin mengatakan apa pun mengenai panggilan telpon nya.
"Oh, ya sudah ayo kita turun," ajak Bara.
"Tidak, Mas saja aku ingin istirahat lebih dulu. Satu lagi aku ingin tidur pisah. Mas bisa tidur di kasur biarkan aku di sofa," ujar Anisa memberitahu apa yang sudah di pikir kan tadi.
"Kenapa? kita suami istri Nisa, tidak baik tidur terpisah."
"Apa kata Mas, tidak baik? lalu kemarin-kemarin apa? itu baik? atau sebalik nya! Stop memaksa kehendak diri sendiri. Kita manusia harus bisa mengontrol diri, jangan terlalu egois ingin orang lain menuruti apa yang kita suka, tanpa memikirkan apa hal itu benar di suka orang tersebut," ujar Anisa marah.
"Kapan aku memaksa kehendak ku padamu? jika itu benar terjadi aku sudah meminta mu memberikan ku hak yang sudah seharusnya aku dapatkan sebagai suami," ucap Bara.
"Jangan lupa aku memiliki hak penuh atas diri mu, kamu adalah istri ku," lanjut Bara lalu pergi meninggalkan Nisa.
Mendengar itu benar-benar membuat Anisa kesal, muak dan marah.
Tak ingin berlama dalam keadaan buruk.
Anisa beranjak dari tempat nya menuju ranjang kasur. Dia mencoba melupakan kejadian hari ini, menenangkan diri agar bisa tidur nyenyak.
Meski awal sedikit sulit, dia terus berusaha hingga akhirnya berhasil.
Memeluk bantal guling, Anisa kini benar-benar sudah berada di alam bawah sadar.
Bara yang baru menyelesaikan makan malam, langsung segera naik ke atas.
Setiba di dalam melihat Anisa tertidur sambil memeluk bantal guling. Bara mendekati kasur, lalu naik ke atas.
"Maaf kan aku Nisa, aku akui aku pria yang tak memiliki pendirian, aku cepat berpindah haluan. Tapi percaya lah semua yang lakukan demi kebaikan mu," ujar Bara pelan sambil membelai rambut Anisa.
"I love you istri ku, semua akan kembali membaik jika tiba waktu nya," lanjut Bara.
Bara mengambil bantal guling yang di peluk Anisa dan memeluk Anisa dengan sangat erat.
Hati nya juga merasa sakit kalau melihat anisa sedih.
__ADS_1
Tanpa Anisa sadari, Bara selalu memperhatikan Anisa yang menyemangati diri sendiri untuk selalu kuat tidak lemah.
Semua perkataan Anisa yang mengatai nya buruk pun di dengar, tapi Bara tak pernah marah. Dia memaklumi hal tersebut.
Lalu dia pun tertidur menyusul Anisa dengan tangan masih setia memeluk erat istri nya.
...----------------...
Pagi hari.
Anisa sudah terbangun, tapi dia tak Nisa bergerak bebas. Bara memeluk nya sangat erat.
Bahkan wajah nya kini menempel di dada bidang Bara.
"Mas," panggil Anisa membangunkan Bara.
"Mas Bara."
Namun lagi dan lagi hasil nya nihil pria itu tidak juga sadar, pelukan nya semakin erat.
"Mas hari sudah pagi, aku harus membantu Mama masak."
"Diam lah, biarkan Mama di bantu art tetap lah seperti ini," kata Bara.
"Tidak Mas, aku tidak mau cepat bangkit," tolak Anisa tetap dengan pendirian nya.
"Baiklah, tapi sebelum itu dengar kan dulu penjelasan ku. Aku harap setelah ini hubungan kita tidak lagi rusak. Aku mempercayai mu melebihi diri ku sendiri," ujar Bara yang mana membuat Anisa mendengar itu menjadi bingung dan juga penasaran.
"Hmmm."
"Jelaskan semua, aku akan mendengar itu."
"Baik lah aku menceritakan padamu," kata Bara.
"Kamu ingat saat kamu menampar ku?" lanjut Bara bertanya.
"Ya, aku ingat itu, aku minta maaf."
"Sudah lupakan saja, lagian itu salah ku karena sudah berkata kasar padamu."
Anisa diam mengangguk mengiyakan.
"Di saat hari itu, aku mulai menaruh curiga dan mulai menyelidiki, meski awal biasa, tapi perlahan aku sadar ada yang aneh," lanjut Bara.
"Tunggu. Maksud Mas apa?" siapa yang curiga dan selidiki?" tanya Anisa penasaran.
"Coba kamu tebak siapa yang aku maksud?" ujar Bara malah meminta Anisa untuk menebak.
"Tadi kamu mengatakan jika kejadian saat aku menampar mu, apa orang itu adalah Rini?"
__ADS_1
"Tepat sekali, tanpa kalian sadari saat itu aku mendengar perdebatan kalian. Maaf aku tidak membela mu malah mengatai kamu yang buruk."
"Tunggu. tunggu. Aku benar-benar bingung sekarang. Apa maksud Mas semua yang terjadi hari itu hanya lah sandiwara?"
"Mungkin bisa di kata seperti itu. Aku minta maaf saat itu sudah membuat mu sangat terluka."
"Lalu yang kemarin, Mas meragukan aku, apa itu.... "
"Maaf, kalau itu memang benar adanya. Aku sempat meragukan mu, tapi aku kembali percaya setelah mendengar penjelasan mu. Jika saja dari awal kamu menceritakan semua tidak akan seperti ini," ujar Bara.
Mendengar itu, Anisa tertunduk yang di katakan Bara memang benar adanya.
Jika dia mengatakan lebih awal, mungkin kejadian kemarin tidak akan ada. Tapi mau bagaimana lagi? semua telah terjadi.
"Maaf," ucap Anisa ikut merasa bersalah karena sudah menutupi masa lalu nya.
"Iya, sekarang apa kamu memaafkan ku?"
"Iya Mas, kita sama-sama memaafkan."
"Oh iya, aku belum paham tadi apa yang Mas maksud menyelidiki? apa mengenai kematian Rina?" lanjut Anisa.
"Bagaimana kamu bisa tau? apa kamu sama mencurigai Rini?"
"Entahlah Mas, aku tidak ingin berprasangka buruk. Aku berencana menyelidiki semua."
"Jangan. Biar aku saja. Aku tidak ingin kamu celaka, jika benar Rini dalang nya, berarti dia sangat berbahaya."
"Mas jangan khawatir, aku bisa melindungi diri ku sendiri."
Setelah berbincang-bincang saling terbuka satu sama lain, akhir nya mereka pun berbaikan.
Anisa segera ke kamar mandi lebih dulu, lalu setelah selesai dia meminta Bara untuk bersiap dan dia akan menyiapkan pakaian ganti.
"Mas, hari ini dan seterusnya aku minta izin untuk kerja. Kamu gak keberatan kan?"
"Kerja? kerja di mana? kenapa mendadak? apa tidak sebaiknya kamu di rumah saja, kita tidak kekurangan uang jadi apapun keinginan mu masih bisa aku penuhi."
"Mas, bukan itu masalah nya. Ini adalah cita-cita ku dari kecil. Aku akan bahagia jika cita-cita ku tergapai dan kamu memberi izin."
"Cita-cita apa?"
"Rahasia, aku akan memberitahu mu jika sudah berkembang."
"Baiklah, tapi pulang tidak boleh malam, kalau malam hubungi aku."
"Siap, laksanakan. makasih Mas," ujar Anisa bahagia dengan senyum mengukir di wajah nya.
...Bα΄Κsα΄α΄Κα΄Ι΄Ι’......
__ADS_1
...β¨____________ πΌπΌ_______________β¨...
Maaf ya semua hari ini author telat up nya.ππ