
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
🌹✨💞✨🌹
Pagi hari.
Nisa bangun lebih awal dari kemarin, ponsel nya terus bunyi, itulah salah satu penyebab Anisa bangun.
Dia bangun, berjalan mengambil ponsel di meja rias. Anisa kaget, mata nya terbuka lebar melihat nama penelpon di sebrang sana.
Tangan nya masih memengang ponsel tersebut, tapi dia engan mengangkat panggilan tersebut. Anisa membiarkan panggilan itu, dia mematikan volume panggilan dering ponsel.
Anisa tidak ingin tidur Bara terganggu, dia tidak tega, Bara pasti kelelahan, sejak kemarin terus mengurusi nya. Dan bahkan tak sedetik pun Bara meninggalkan nya.
Anisa benar-benar bersyukur di keadaan seperti ini, ada sosok pria yang baik dan dan setia selalu mendampingi nya.
"Jika saja kamu tidak, aku tidak tau akan jadi seperti apa hidup ku Mas," gumam Anisa mengarah memandang Bara yang masih berbaring di ranjang.
Membiarkan ponsel dengan panggilan yang terus menghantui nya, Anisa pergi masuk ke kamar mandi. Dia mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat sunah.
Mengerakkan tangan ke samping, tidak mendapatkan apapun, Bara perlahan membukakan mata. Dan saat mata menoleh ke arah kanan, dia tersenyum.
Wanita yang di cari, ternyata saat ini sedang melaksanakan sholat sunah. Bara bahagia, sedikit demi sedikit Nisa sudah melupakan kejadian hari itu, meski belum sepenuh nya. Tapi itu tidak jadi masalah, karena Bara akan melalukan lebih keras lagi, agar Nisa bisa menganggap kejadian hari itu hanyalah mimpi buruk.
"Aku akan melalukan lagi, mungkin dengan cara itu, Nisa bisa tidak takut," ucap Bara dalam hati, sambil memandang Nisa yang melaksanakan sholat sunah.
Semalam saat melalukan bersama Nisa, Bara sangat mengingat jelas betapa takut dan gelisah nya Nisa, tapi dengan kerja keras Bara terus menyakinkan Nisa, jika semua akan baik-baik saja.
Dan dengan perlahan Nisa mencoba percaya dan yakin, jika semua baik-baik saja.
"Mas, kamu sudah bangun?" Nisa memandang Bara, sambil melipat pakaian sholat nya.
"Iya honey. Aku bangun karena mencari Mu. Mendadak kamu hilang, kan aku khawatir," jawab Bara.
"Maaf, tadi aku gak bangunin kamu Mas. ku pikir kamu sangat ngantuk, karena gak gerak-gerak, yah sudah aku bangun sendiri," ucap Anisa.
__ADS_1
"Ya sudah gapapa, tapi lain kali jangan kayak gini lagi. Kalau mau apa-apa, mau itu kemana pun kamu harus kabarin aku. Aku khawatir tadi pas nyadar kamu gak ada di sebelah ku. Jadi lain kali jangan kayak lagi ya honey, aku tidak sanggup kehilangan mu."
"Iya Mas, aku janji gak bakal ulangi lagi. Ini pertama dan terakhir."
"Istri sholehah. Semoga anak kita nanti seperti kamu. Anak yang baik, yang dapat membanggakan kedua orang tua nya."
"Amin," sahut Anisa.
"Amin," seru Bara.
Anisa menghampiri Bara, dan duduk di samping nya. "Mas, tadi dia menelpon ku," ucap Anisa dengan wajah sedikit mulai cemas.
"Jadi, apa karena telpon nya itu, hingga kamu bangun?" tanya Bara sambil menatap Anisa yang hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Bara.
"Lalu, apa kamu menjawab panggilan itu? atau kamu biarkan?" tanya Bara lagi.
Anisa menggeleng kepala. "Tidak, aku tidak menerima panggilan itu Mas. Aku biarkan saja setelah mengetahui nama penghubung itu dan langsung masuk ke kamar mandi ambil air wudhu," jawab Anisa.
Mendengar itu, Bara bernafas lega. Tapi dia masih sedikit khawatir dengan pria itu seperti nya sangat terobsesi dengan Anisa.
"Seperti nya aku harus melakukan sesuatu jika terus seperti ini, aku khawatir dia bisa melakukan sesuatu yang lebih nekat dari kemarin, aku tidak bisa menunggu lagi," batin Bara.
"Mas, kamu kenapa? apa kamu khawatir padaku? aku baik-baik saja," ucap Anisa, perasaaan nya memang saat ini sedang cemas, karena Felix tidak henti menghubungi nya. Tapi dia tidak mau, masalah itu membuat Bara kepikiran.
"Tidak honey, aku tidak memikirkan mu, karena selama aku berada di sisi mu, saat itu juga kamu akan aman," sahut Bara.
"Ya, aku percaya itu. Karena suami tercinta ku ini tidak akan membiarkan istri nya kenapa-napa, benar bukan?"
"Benar honey, bahkan seekor semut pun tidak akan aku biarkan menyentuh mu sekecil apapun itu."
"Terima kasih Mas," Anisa memeluk Bara.
Dia benar-benar terharu dengan perkataan Bara. Berada di dekat Bara membuat nya merasa nyaman dan aman, tidak ada ketakutan yang di rasakan lagi.
Meski sekali-kali akan kembali takut, itu juga kalau dia mengingat, jika tidak, ya tidak, semua aman.
Bara membalas pelukan Anisa, dia sangat mencintai Anisa, dia tidak mau Anisa kepikiran, dan hal itu membuat nya jatuh sakit karena terus kepikiran.
"Honey sekarang kamu lanjut istirahat, aku akan pergi sebentar, nanti saat aku kembali kita akan lakukan lagi," ucap Bara, melepaskan pelukan dan menatap Anisa.
__ADS_1
"Mas mau pergi kemana?" tanya Anisa penasaran.
"Ada, aku akan beritahu nanti, setelah semua selesai. Sekarang kamu di sini jangan kemana-mana sebelum aku pulang. Kalau lapar pesan delivery saja," pesan Bara panjang lebar.
"Ponsel kamu mana?" sambung Bara, menanyai ponsel Anisa dengan tangan maju kedepan.
"Ponsel? untuk apa?" tanya Anisa penasaran.
"Berikan saja honey, aku akan jelaskan nanti bersamaan dengan pertanyaan pertama mu itu."
"Baiklah," Anisa bangun dari ranjang tempat tidur menuju meja rias dan mengambil ponsel yang di letakkan di sana.
Dan saat dia mengambil ponsel, ponsel nya berdering dan penelpon di sebrang sana adalah orang yang sama saat pagi tadi menelpon.
Tangan nya kembali mundur lagi, tidak berani mengambil.
"Honey, ada apa?" Bara memperhatikan Anisa yang tidak jadi menyentuh ponsel nya.
"Dia menghubungi ku lagi," ucap Anisa menoleh ke Bara.
"Mana biar aku saja yang berbicara," Bara bangun, mendekati Anisa dan segera mengangkat panggilan telpon tersebut.
"Honey, kamu siapkan aku air mandi, aku akan bicara sebentar pada nya," ucap Bara. Dia akan menerima panggilan dari Felix, tapi sebelum itu dia harus membuat Anisa menjauh, karena sekarang bukan saat nya Anisa untuk tau.
"Iya, Mas. Kamu jangan sampai kepancing emosi dengan apa yang dia katakan nanti, dia pria miring," kata Anisa.
"Tenang saja, itu tidak akan terjadi honey. Kamu jangan khawatir. Sana siapkan air. Aku hanya akan berbicara dengan nya tidak sampai 5 menit," sahut Bara mengusir Anisa agar segera pergi, sebelum panggilan telpon terputus, karena Anisa masih di tempat.
"Bagus jika seperti itu, aku lega dengar nya."
"Iya."
Anisa beranjak pergi dari hadapan Bara, menuju kamar mandi untuk mengisi air hangat di bathtub.
Sambil menunggu bathtub terisi penuh, Anisa tetap stay. Dia kini menjadi kepikiran hal apa yang akan di bicarakan Bara pada Felix.
"Kenapa Mas Bara seperti tidak ingin aku tau obrolan nya? apa ada hal serius? tapi apa? kenapa hingga aku tidak boleh tau?" ucap Anisa bertanya-tanya, penasaran sudah menguasai otak nya, hingga tidak bisa tenang.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
__ADS_1
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...