
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
🌹✨💞✨🌹
Anisa terdiam, kepala nya mendadak terasa pusing. Ponsel di tangan seketika terlepas dari genggaman dan jatuh di bawah kasur.
Anisa kini mengingat kembali kejadian beberapa tahun yang lalu.
"Bagaimana bisa ini? aku tidak pernah kepikiran akan hal ini, dia kembali. Semua karena ku, kenapa berjanji sesuatu yang belum tentu aku tepati," ucap Anisa menyalahkan diri sendiri, betapa polos dan bodoh dirinya mengiyakan semua perkataan pria itu.
Dan sekarang janji lama nya menjadi bumerang untuk diri nya sendiri.
Sekarang otak nya tak bisa berpikir apapun, dia takut jika perkataan pria itu benar di lakukan.
"Sebaiknya, aku beritahu ini pada Mas Bara," ucap Anisa. Saat dia ingin menghubungi Bara ponsel sudah lebih dulu berdering, panggilan masuk dari nomor tak di kenal dan nomor itu nomor yang sama mengirimkan pesan pada nya.
Anisa belum ingin menjawab, dia menatap layar ponsel itu. Setelah menyakinkan diri, baru dia mengangkat.
"Halo, assalamualaikum," salam Anisa.
"Walaikumsalam, aku senang akhirnya kamu mengangkat telpon dari calon suami mu, aku sangat merindukan mu, tunggu aku di sana aku akan menemui mu," ucap Felix, langsung mematikan sambungan telpon.
Anisa semakin takut mendengar perkataan pria itu, menemui? apa maksud nya? di mana pria itu akan datang.
Hati Anisa tak tenang, jantung nya terus berdetak kencang, dia di kamar hotel sendirian tidak ada Bara di di dekat nya.
Anisa kembali mencoba menghubungi Bara, dia akan mengatakan apa yang terjadi hari ini. Mengenai pesan dan juga telpon tadi.
Namun panggilan Anisa tak di jawab Bara. Anisa tidak juga menyerah terus menghubungi.
"Mas kamu di mana sih, kenapa susah di hubungi. Aku takut Mas," ucap Anisa sedih, perasaan takut nya semakin besar.
__ADS_1
Di sisi lain, Felix sudah siap menghampiri Anisa di hotel. Dia sudah mendapat kabar dari orang nya jika pria itu pergi meninggalkan Anisa seorang diri dan lebih mementingkan wanita ular.
"Halangi siapa pun yang akan masuk nanti. Saya tidak ingin ada yang menganggu, kau paham itu?" Felix menatap Rio yang cepat langsung mengangguk iya.
Beberapa menit kemudian, Felix tiba di hotel tempat Anisa menginap, dia segera berjalan masuk dan anak buah mengikuti dari belakang.
Anisa sudah siap pergi menghampiri Bara, dia bergegas keluar dari kamar.
Belum juga menyentuh handle pintu, pintu sudah terbuka dari luar. Dan Anisa mengira itu Bara. Hingga dia berlari dan memeluk orang yang baru masuk tersebut.
"Mas, syukurlah kamu pulang, aku takut Mas, tadi ada yang mengirim ku pesan dan dia juga menelpon ku," ucap Anisa mencurahkan semua ketakutan yang di rasakan pada pria yang di peluk.
"Iya, sayang aku kembali untuk membawa mu, aku janji tidak akan meninggalkan mu lagi," sahut Felix.
Mendengar suara yang bukan suara Bara, Anisa melepaskan pelukan dan melangkah mundur segera mengambil cadar nya.
Namun sangat di sayangkan sebelum itu benar terjadi, Felix sudah menahan Anisa.
"Mau kemana sayang? kenapa buru-buru? aku masih merindukan mu," Felix memengang lengan tangan Anisa, pandangan nya lekat menatap wajah cantik Anisa, wanita yang membuat nya menutup rapat pintu hati untuk wanita manapun.
"Jangan takut sayang. Aku datang untuk menjemput mu, apa kamu lupa janji kita dulu. Menikahi mu, meski nanti kamu sudah menikah kita akan tetap bersama, karena aku akan mengambil mu kembali ku harap kamu tidak lupa akan janji itu. Kau juga pernah bilang janji adalah hutang dan harus di tepati. Sekarang aku sudah tepati, tinggal giliran mu," ujar Felix mengingatkan Anisa.
Deg!
Anisa seperti mendengar ledakan, jantung nya berdetak tak berima, mata tak berani menatap pria di depan, dia begitu syok akan pengakuan pria tersebut. Bahkan dia tak bergerak dari tempat nya, berdiri mematung bingung akan semua yang terjadi hari ini.
Felix menyadari Anisa kaget, tersenyum. Dia berjalan lebih dekat dengan Anisa dan menggendong ala brydel.
"Apa yang kau lakukan! turunkan aku, jangan macam-macam atau aku akan teriak!" ancam Anisa dan Felix mendengar itu tersenyum.
"Lakukan baby, silakan, aku tidak melarang mu," Felix mempersilakan Anisa untuk melakukan seperti apa yang di katakan.
Bugh.
Felix menjatuhkan Anisa di bawah ranjang, dan menindih tubuh Anisa.
__ADS_1
"Aku kembali untuk mengambil hak ku. Tapi seperti nya kamu sudah memberitakan itu pada orang lain, tidak masalah jika aku mendapat bekas, asal itu selama nya tidak di over pada orang lain lagi, karena aku tidak akan menyukai itu," ucap Felix membelai pipi Anisa.
Anisa tak bisa melakukan apapun, dia tak berdaya saat ini pergerakan nya di kunci Felix.
Hanya air mata dan doa yang bisa dia lakukan sekarang, Anisa berharap Bara bisa segera datang menyelamatkan nya.
"Kau pria gila, bagaimana bisa melakukan ini pada ku. Semua sudah lama kenapa masih kau ingat, jika kau ingin aku tepati janji kenapa tidak kau datang saat aku belum menikah, kenapa baru sekarang?" Anisa terus menangis dengan mata tertuju pada Felix.
"Maaf, saat itu aku benar-benar banyak kerjaan, tapi sekarang jangan khawatir semua sudah beres," jawab Felix, mencium kening Anisa.
"Ya Allah, ampuni aku yang tidak bisa menjaga diri, aku perempuan kotor, aku sudah di sentuh pria lain yang bukan muhrim ku. Maafkan aku Mas," tangis Anisa dalam hati, dia merasa hancur begitu dalam, rasanya tak sanggup untuk hidup lagi sekarang.
"Aku mohon jangan lakukan ini padaku, aku sudah memiliki suami. Aku tau aku salah sudah tidak menepati janji, tapi seharusnya kamu bisa memahami itu," ucap Anisa berharap Felix dapat mengerti.
Tapi semua tidak sesuai dengan apa yang di harapkan Anisa, Felix tidak mempedulikan itu.
Prinsip Felix, Meski harus merebut paksa Anisa akan membuat Anisa tersiksa dan terus menangis, dia tak peduli asal Anisa selalu bersama nya. Karena dia tak suka Anisa bahagia dan tertawa bersama pria lain.
*****
"Dimana Nisa? ini sudah satu jam, tapi belum juga datang. Kenapa perasaan ku mendadak tidak enak begini?" batin Bara.
Bara tidak tau apa yang terjadi, hingga Rini menyadarkan Bara yang terus terdiam tidak menyahuti apa yang di ucapkan.
"Maaf Rini, tapi saya harus pergi sekarang, jika kamu mau menangis seperti biasa yang kamu lakukan silakan, saya tidak peduli lagi," tegas Bara, beranjak pergi. Dia begitu mencemaskan Anisa.
Bayang-bayang wajah Anisa sejak tadi terus melintasi benak Bara.
Betapa kaget Bara mengecek ponsel terdapat banyak panggilan tak terjawab dari Anisa. Dan dia segera menghubungi ulang, tapi tak di jawab dan itu semakin membuat Bara khawatir.
"Apa sebenarnya yang terjadi? kenapa Anisa menghubungi ku sebanyak ini, dan saat aku hubungi ulang kenapa tidak di angkat?"
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...
__ADS_1