Di Balik Cadar (Istriku Orang Kedua)

Di Balik Cadar (Istriku Orang Kedua)
Bab 33: Sosok misterius


__ADS_3

H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


🌹✨💞✨🌹


Anisa masih saja mencoba membujuk Bara agar membiarkan nya merekrut satu atau dua orang pengawai pria.


"Ayo lah Mas, bagaimana juga nanti aku akan membutuhkan tenaga pria di toko ku," bujuk


Anisa dengan wajah penuh harap agar Bara mengizinkan.


"No sayang, percuma kamu membujuk ku karena sampai kapan pun keputusan ku akan tetap sama, tidak!" tegas Bara menolak keras bujukan Anisa.


"Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusan Mas yang tidak bisa di ganggu gugat lagi, aku tidak akan memaksa. Terus bagaimana dengan toko ku, seumpama membutuhkan tenaga pria, apa yang harus ku perbuat? Mas tau bukan tenaga wanita tak sebesar tenaga yang pria miliki," ujar Anisa menjelaskan, menatap Bara yang juga menatap nya.


"Masalah itu tidak perlu kamu pikirkan. Kapan pun kamu butuh bantuan, hubungi aku saja, aku akan langsung datang," ucap Bara. Meraih tangan Anisa dan menggenggam erat.


"Sayang kamu kenapa? masih ragu? atau...," Bara memperhatikan Anisa yang terdiam seketika.


"Tidak, aku tidak ragu. Aku hanya berpikir saja, apa mungkin kamu akan langsung datang jika aku hubungi? bagaimana jika saat aku telpon kamu sedang rapat penting, apa kamu akan tetap datang?" tanya Anisa, sengaja memberi pertanyaan menjebak pada Bara.


Dalam hati, Anisa terus saja tersenyum. Dia yakin Bara saat ini pasti sangat pusing dengan pertanyaan nya.


Bara menarik Anisa masuk dalam pelukan nya, mengelus rambut wangi Anisa dengan lembut.


"Apapun itu untuk mu, akan aku lakukan," ucap Bara penuh keyakinan.


"Tidak perlu Mas, tadi aku hanya becanda," sahut Anisa.


"Kenapa? serius juga gapapa sayang, aku tak masalah."


"Terima kasih suami ku, tapi aku rasa itu tidak perlu."


"Ya sudah kalau seperti itu, istirahat lah."


"Iya Mas."

__ADS_1


Anisa berbaring dengan kepala bersandar di dada bidang Bara. Dan tangan Bara mengusap pipi Anisa.


Pandangan Bara tak lepas menatap wajah cantik Anisa yang tidur.


"Aku beruntung memiliki mu Anisa. Kamu wanita yang tak banyak nuntut, dan selalu nurut. Aku tidak ingin kehilangan mu Nisa, aku ingin kamu selalu berada di dekat ku, dan menemani ku hingga tua nanti," batin Bara, tersenyum.


Di sisi lain, Rini melempar dan membuang semua berkas dokumen di meja kerja nya. Dia benar-benar marah dengan semua yang terjadi tadi.


"Sial! sial! aku membenci mu Anisa! aku berjanji dengan tangan ini akan membunuh mu langsung, kau sudah mengambil apa yang ku suka sejak lama. Dan itu kau harus terima konsekuensi nya," ucap Rini marah, mata nya merah, menatap lantai yang berserakan dengan dokumen yang di lempar sembarang arah.


Rini melangkah dan duduk di sofa. Memutari ponsel atas bawah. Otak nya tak henti berpikir langkah kedepan apa yang harus di lakukan.


Melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan pada Rina seperti nya itu tidak bisa lagi.


Anisa bukan wanita bodoh, bahkan Anisa bukan lah kakak nya yang muda percaya dengan apa yang di katakan. Makanya hal itu yang membuat Rini kesulitan dalam menyusun rencana menyingkirkan Anisa.


"No, Rini keluar kan semua kecerdasan mu. Kak Bara hanya milik mu. Singkirkan mereka yang ingin mengambil milik mu, jika bisa buat mereka menyesal dan menginginkan kematian karena tidak ingin melihat dunia lagi," ucap Rini. Meremas kuat ponsel yang berada di tangan kanan nya.


*****


Tangan menggeser layar ponsel ke samping, memandang wajah cantik perempuan berhijab.


Senyum terus mengukir ujung bibir nya.


"Maaf sayang, aku baru bisa kembali sekarang. Tapi jangan khawatir, meski kita sudah lama tidak bertemu selama puluhan tahun, itu tidak membuat ku melupakan mu. Dan sekarang aku kembali untuk mu. Aku akan mengambil apa yang sudah menjadi milik mu sejak dulu, sesuai janji kita saat kecil," ucap pria tersebut, mengusap foto wanita berhijab di layar ponsel nya.


Lima menit kemudian, datang lah seorang pria menghampiri nya.


"Siang, Bos. Maaf telat," ucap pria yang baru datang, menunduk kepala karena takut sudah membuat bos nya menunggu lama.


"Lain kali jangan seperti ini, atau kau akan ku tembak dan ku gantung di tiang listrik," ancam pria tersebut, menatap pria yang baru datang, berdiri di depan nya.


"Duduk lah, berdiri seperti kau hanya akan membuat saya benar melakukan seperti apa yang saya katakan barusan. Lihat ini tangan saya sudah begitu gatal," lanjut pria itu menakutkan pria di depan nya.


"Tidak, ampun Bos. Saya janji tidak akan mengulangi hal seperti ini," mohon, dengan wajah penuh ketakutan jika bos nya benar nekat melakukan seperti apa yang di katakan.

__ADS_1


"Ya sudah duduk, untuk apa terus berdiri! apa kau sengaja agar menjadi sorotan semua orang yang berada di sini?"


"Tidak Bos. Ini juga mau saya duduk sekarang," pria itu langsung mendaratkan bokong nya di kursi.


"Bagaimana, apa semua saya perintah kan sudah kamu lakukan?"


"Sudah Bos, sekarang wanita itu sedang membuka toko butik. Tapi...," pria itu ragu mengatakan, melihat wajah bos nya seperti ini sudah membuat nyali nya menciut.


"Tapi apa? cepat katakan jangan membuat ku penasaran!"? marah pria tersebut kesal melihat pria di depan nya menarik ulur informasi yang akan di sampaikan.


"Iya bos. Ada seorang wanita yang berencana menghabisi wanita Bos. Dia bakan sudah menyuruh orang untuk menjalankan rencana nya, tapi Bos jangan khawatir karena saya sudah mencegah semua itu. Jadi semua aman terkendali."


"Bagus jika seperti itu, jangan biarkan seorang pun mencelakai wanita ku, dan awasi wanita itu, jika dia berani macam-macam beri dia pelajaran."


Pria itu terdiam, meremas kuat jemari nya. Dia tidak membiarkan seorang pun hidup tenang jika ada yang berani menganggu wanita nya.


Orang suruhan nya melihat tatapan menakutkan dari wajah Bos nya, menjadi merinding. Dia kasihan pada orang-orang di luar sana yang akan berhadapan dengan Bos nya.


"Habis lah kau wanita bodoh, kenapa mengusik wanita bos ku. Lihat lah sekarang kau akan berhadapan langsung dengan Bos ku," batin Pria itu kasihan.


Meski tidak tau apa yang akan Bos nya lakukan pada orang yang berani menganggu kesayangan nya. Tapi dia dapat menjamin wanita itu akan tersiksa nanti nya.


"Sekarang di mana wanita ku berada? apa dia baik-baik saja?"


"Iya Bos, wanita bos baik-baik saja. Sekarang berada di kantor suami nya."


Prak!


Pria itu memukul kuat meja, hingga menimbulkan bunyi yang keras, menarik perhatian pasang mata pengujung mengarah pada mereka.


"Sekali lagi kau berkata seperti itu, mulut mu akan ku potong!" ancam nya, dengan wajah penuh amarah menatap orang suruhan nya.


"Ampun Bos. Maaf."


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......

__ADS_1


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2