Di Balik Cadar (Istriku Orang Kedua)

Di Balik Cadar (Istriku Orang Kedua)
Bab 36 Bersiap


__ADS_3

H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


🌹✨💞✨🌹


Pagi hari, setelah melaksanakan sholat subuh jamaah bersama Bara, kedua langsung menyiapkan barang yang akan di bawa ke luar kota.


Bara berencana setelah pertemuan, dia akan liburan beberapa hari dengan Nisa di sana.


"Sayang, kamu gak keberatan kan, kalau beberapa hari gak buka toko?" tanya Bara memastikan lagi, meski semalam Anisa menyetujui untuk ikut, Bara kembali bertanya.


"Iya, aku gak masalah, kemana pun suami ku membawa ku pergi, aku akan ikut," jawab Anisa, tersenyum menatap Bara.


Cup.


"Kamu yang terbaik, aku beruntung memiliki kamu menjadi istri ku sayang, selain baik, kamu juga cantik hingga aku takut kamu di ambil pria di luar sana," ucap Bara, mengusap pipi Anisa dengan lembut.


"Jangan berlebihan Mas, nanti aku bisa melayang," sahut Anisa malu mendengar ucapan Bara yang sejak semalam terus memuji nya.


"Tidak berlebihan sayang, yang ku katakan memang benar. Tapi jika kamu mau melayang juga gapapa, nanti aku tangkap," gombal Bara, dengan senyum menggoda memandang Anisa.


"Apaan sih, sana lanjut siap-siap, gak usah bahas ini lagi, aku malas dengar nya," usir Anisa, tidak ingin semakin malu dengan gombalan Bara.


"Tapi semua yang ku katakan benar sayang."


"Sudah Mas, sana urus yang lain. Atau tidak kamu pergi bersih-bersih gih."


"No, aku tetap ingin di sini sayang," tolak Bara.


Anisa menghela nafas panjang, suami nya sekarang benar-benar tidak ingin jauh dari Anisa.


"Ya sudah terserah Mas saja, tapi diam di sana, jangan berbicara apapun. Aku ingin beres-beres," ucap Anisa.


"Iya, gak bicara, diam di sini," sahut Bara.

__ADS_1


Anisa bangkit, beranjak pergi dari tempat nya meninggalkan Bara. Area bawah nya hingga sekarang masih sakit, tapi Anisa terus memaksa diri, dia tidak ingin merasa bersalah.


Menurut nya sakit yang di rasakan sekarang memang wajar karena ini pertama kali untuk nya.


Mengambil dan memindahkan pakaian nya dan Bara dari lemari, Anisa memindahkan semua ke dalam koper.


Mata Bara tak beralih sedetik pun, mata nya terus memandang Anisa, setiap gerak-gerik Anisa di perhatikan dengan lekat.


Senyum seketika terbit di wajah nya, dengan kedua ujung bibir yang naik ke atas.


"Sayang, apa mantan mu masih menganggu mu?" tanya Bara, seketika teringat dengan pesan kemarin yang di kirim pria itu ke ponsel Anisa.


"Aku tidak tau Mas, bukannya ponsel ku masih di kamu sejak kemarin, jadi gimana cara aku tau. Dan seharusnya yang tau itu kamu bukan aku," sahut Anisa, dia benar-benar merasa aneh dengan pertanyaan Bara suami nya.


"Astaga, aku lupa sayang, kemarin ponsel mu belum ku kembalikan lagi," Bara menepuk jidat nya.


"Iya," sahut Anisa.


Bara segera bangun dan mengambil ponsel Anisa yang hingga sekarang masih di letakan di tas kerja nya.


***


Di tempat lain, Rini sudah rapi, barang yang akan di bawa pun sudah di siapkan sejak semalam. Meski Bara sudah melarang Rini untuk tidak menjemput di rumah. Rini tetap saja keras kepala ingin menjemput.


Larangan Bara, tidak di anggap penting untuk Rini, bahkan hanya di anggap angin lewat.


"Jangan harap kau bisa berdua dengan milik ku, karena semua itu tidak akan aku biarkan begitu saja. Dan di sana aku akan menyusun rencana untuk menyingkirkan mu, ku harap kali ini tidak gagal lagi," ucap Rini serius, dengan senyum tipis, jika saja ada orang di dekat Rini, semua tidak akan sadar dengan senyuman Rini.


30 menit menempuh perjalanan, mobil yang di kendarai Rini tiba di depan rumah Bara.


Rini turun dari mobil dan masuk ke dalam.


"Pagi Tan, pagi Om," sapa Rini, tiba di ruang keluarga melihat kedua orang tua Bara di sana.

__ADS_1


"Pagi juga Rini," sahut Kedua orang tua itu bersamaan.


"Tumben pagi-pagi ke sini? apa ada yang penting?" tanya Mama Tari menatap Rini yang masih berdiri tidak jauh dari tempat yang mereka duduk.


"Iya Tan, hari ini ada jadwal pertemuan dengan klien di luar kota, makanya Rini pagi-pagi kesini untuk berangkat bersama agar tidak telat tiba di sana," jawab Rini beralasan, jawaban nya itu tidak lah benar, karena itu hanya alasan semata agar dia bisa memantau Bara dan Anisa sejauh dan sebaik mana hubungan mereka sekarang.


"Apa Bara sudah mengetahui ini? seingat Tante, semalam Bara tidak mengatakan apapun mengenai ini, Bara hanya mengatakan akan pergi keluar kota bertemu klien setelah itu akan liburan berdua bersama Anisa untuk beberapa hari, tapi Bara tidak ada menyebut nama mu, dan Bara juga bilang akan menyetir sendiri," ujar Mama Tari menjelaskan dan perkataan Bara semalam yang meminta izin pada mereka, masih di ingat jelas.


"Sial! Tante Tari sekarang kenapa sih, kok aku merasa sikap nya berubah gitu, apa ini hanya firasat ku saja?" batin Rini sedikit kesal dengan Mama Tari.


"Sabar, aku harus bisa tenang. Bukan saat nya aku menunjuk rasa kesal ku," batin Rini menenangkan diri. Dia harus bisa ekstra sabar sekarang dalam menyikapi situasi seperti ini.


"Iya, Tante benar, tapi Rini yang berinisiatif untuk menjemput, Rini pikir lebih baik jalan bareng dari pada sendiri, lagian Rini juga ingin liburan, jadi kenapa tidak bareng saja kalau memiliki tujuan yang sama," ujar Rini bohong.


"Ada apa ini, kok pagi-pagi sudah rame gini," ucap Bara, tiba di dekat mereka dari belakang, tangan nya menggenggam erat tangan Anisa.


"Ini lho sayang, Rini datang kata nya mau jemput kalian ngajak pergi bareng," sahut Mama Tari.


"Berangkat bareng?" kaget Bara, lalu menoleh Rini.


"Kenapa Rini? bukannya saya sudah bilang kemarin di kantor jika kita pergi sendiri-sendiri dan kamu tidak perlu menjemput. Lagian setelah pertemuan ini saya dan Anisa tidak akan pulang, kita akan liburan dulu, jadi sebaik nya kamu pergi duluan saja, kami akan berangkat 1 jam lagi," sambung Bara, menjelaskan pada Rini dan berharap penjelasan nya dapat di mengerti dan Rini bisa segera pergi.


"Kak, aku juga akan liburan di sana, jadi tak masalah bukan jika aku ikut mobil kakak," pinta Rini, dia tidak menyerah.


Meski berulang kali di tolak, maka akan semakin keras Rini dalam bekerja agar apa yang di inginkan tergapai.


"Bukan seperti itu Rini, hanya saja sa-"


"Mas, sudah tidak apa-apa, biarkan saja Rini ikut dengan kita, kasihan jika Rini harus mengemudi sendiri, gak ada teman ngobrol pula," ucap Anisa cepat, karena sudah memotong perkataan Bara yang belum selesai.


Anisa juga memberi kode, dengan kedipan mata kanan nya pada Bara, agar tidak banyak bicara dan diam menurut padanya.


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......

__ADS_1


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2