Di Balik Cadar (Istriku Orang Kedua)

Di Balik Cadar (Istriku Orang Kedua)
Bab 39: Sebuah pesan


__ADS_3

🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻




🌹✨💞✨🌹


Anisa duduk di kamar hotel sendiri, Bara sudah pergi meninggalkan nya beberapa menit yang lalu menemui klien yang akan bekerja sama dengan perusahaan Bara.


Selama berada di kamar hotel, Anisa menghabiskan waktu dengan mendesain. Pagi tadi sebelum berangkat Anisa memasukan semua keperluan menggambar nya ke dalam koper.


Anisa asyik mendesain, tanpa dia sadari ponsel nya sejak tadi berdering.


"Aku rindu sama Ayah dan Bunda, sejak menikah mereka tak pernah menghubungi ku," ucap Anisa sedih, seketika dia teringat pada kedua orang tua nya di kota A.


Hati nya merasa sakit mengingat masa lalu di mana dia harus di rendahkan, dan tidak di percayai oleh orang tua nya sendiri.


Di saat Anisa mencoba mengatakan dan menjelaskan semua yang terjadi jika dia tidak seperti apa yang mereka tuduhkan, tidak ada seorang dari keluarga nya yang percaya.


"Ayah, Bunda, apa kalian sangat sibuk di sana hingga tidak ada sedikit waktu untuk ku? Aku sudah mencoba menghubungi kalian, tapi tak pernah di respon," sedih Anisa, air mata nya tak bisa di tampung lagi, hingga jatuh membasahi wajah di kedua pipi nya.


"Aku ingin mendengar suara kalian, aku ingin melihat wajah kalian Ayah, Bunda, aku rindu... aku sangat rindu," Anisa menangis, butiran kristal jatuh membasahi kertas desain nya.


Ponsel Anisa terus berdering hingga sekarang, dan Anisa belum juga menyadari itu. Dia bangkit berpindah dari tempat duduk nya sekarang, ke kamar mandi.


Anisa membersihkan diri, mencuci wajah dengan air, dia tidak ingin Bara tau dengan apa yang terjadi pada diri nya.


Biarkan semua seperti ini, Anisa tidak mau Bara kepikiran.


Di sisi lain, Felix yang menunggu pesan balasan atau telpon balik dari Anisa di sebrang sana tidak juga melakukan.


Perasaan nya menjadi tak karuan, dia khawatir Anisa kenapa-kenapa di luar sana.


"Di mana kamu Anisa? kenapa tidak menjawab? apa kamu baik-baik saja? jangan membuat ku cemas dan berpikir yang tidak-tidak pada mu. Jika terjadi sesuatu padamu pria itu tidak akan aku ampuni. Aku janji itu," serius Felix menatap layar ponsel yang sejak tadi tidak berhenti menghubungi Anisa dan juga mengirim banyak pesan.


"Rio!" teriak Felix, suara nya begitu keras memanggil orang kepercayaan nya itu.


"Iya Bos," sahut Rio ngos-ngosan, dia tadi berlari mendengar teriakan bos nya memanggil dengan teriakan mengeluarkan seluruh volume suara.

__ADS_1


"Huh, huh, huh," Rio mengatur nafas, lari nya tadi sudah seperti melihat hantu.


"Dari mana saja kau? kenapa lama?" marah Felix menatap tajam Rio yang berdiri di depan nya sekarang.


"Maaf Bos," jawab Rio, tak mengatakan atau menjelaskan apapun selain mengucapkan permintaan maaf.


"Lain kali jika masih seperti ini, kepala kau akan berpindah di bawah kaki mu, dengar itu?" tegas Felix memperingati Rio dengan ancaman yang di berikan.


Glek!


"Ada apalagi ini, kenapa kata-kata nya seperti orang yang sedang frustasi, atau ini ada kaitan nya dengan wanita nya? tapi kenapa setiap ada masalah dan perubahan mood yang kurang baik selalu aku yang kena getah nya?" batin Rio.


"Kau dengar tidak? kenapa diam?" tanya Felix melihat Rio tak menjawab perkataan nya.


"Iya Bos saya dengar," jawab Rio.


"Dengar? lalu kenapa tidak menjawab? kenapa harus di tanya lagi?"


"Maaf Bos."


"Maaf, maaf, dan maaf saja yang bisa kau katakan."


"Suruh orang kita ke tempat wanita ku sekarang, lihat keadaan nya?" perintah Felix, perasaan nya tak akan bisa tenang jika belum mengetahui keadaan Anisa baik-baik saja.


"Kenapa tidak Bos temui wanita Bos langsung?" tanya Rio penasaran.


20 menit yang lalu mereka baru tiba di kota B, dengan menggunakan helikopter.


"Apa ada masalah? atau kau keberatan?"


"Tidak Bos. Baik akan saya kerjakan," jawab Rio cepat, wajah nya keringat, tatapan tajam yang di berikan Bos pada diri nya sudah membuat nyali nya menciut.


"Bagus. Satu lagi, terus pantau tikus got itu apa dia benar melakukan apa yang saya perintahkan dan rekam semua yang dia katakan, saya ingin mendengar itu."


"Siap Bos."


"Ya sudah sana, kau bisa pergi sekarang," Felix mengusir Rio untuk pergi.


*****

__ADS_1


Bara dan Rini baru menyelesaikan meeting mereka bersama klien, dan sekarang Rini sedang berusaha menghalangi Bara untuk tidak kembali ke kamar hotel menghampiri Anisa.


"Kak, untuk apa cepat-cepat kembali ke kamar hotel, mending sekarang kita jalan-jalan dulu. Sebelum nya kita juga pernah ke sini bersama kak Rina. Kita bahkan selalu menghabiskan waktu bersama setelah melakukan meeting dan sekarang kenapa kakak menolak ajakan ku? apa karena kakak ipar?" tuduh Rini dengan wajah yang di pasang sedih mendapat tolakan dari Bara.


"Bukan seperti itu Rini, kasihan Nisa kalau di tinggal lama di hotel," ucap Bara beralasan.


"Selalu saja perempuan itu jadi alasan kak Bara, kamu memang sudah seharusnya di singkirkan, semakin lama kamu hidup, semakin susah untuk ku memiliki kak Bara seutuhnya," marah Rini berucap dalam hati.


"Kakak selalu saja seperti ini, kakak sudah berubah semenjak dekat dengan kakak ipar, kakak tidak lagi sayang padaku, bahkan jalan-jalan saja kakak tidak mau menemani ku? seandainya kak Rina masih hidup pas-" Rini menangis, tidak mampu lagi melanjutkan perkataan nya.


"Baiklah saya akan menemani mu jalan-jalan," putus Bara, tidak mau menjadi sorotan dengan tangisan Rini yang kini sudah membuat pengujung sini melihat ke arah mereka.


"Yes, sudah ku duga kak Bara tidak akan tega melihat ku menangis," senang Rini bersorak riang di dalam hati.


"Sebaiknya aku kirim pesan pada Nisa meminta nya menyusul," batin Bara berpikir jalan terbaik agar tidak terus berdua dengan Rini.


Ting!


Anisa baru keluar dari kamar ganti. Dia sengaja berdandan cantik karena sebentar lagi Bara akan pulang.


Anisa mengambil ponsel yang di letakkan di atas kasur, betapa kaget saat menghidupkan ponsel, banyak panggilan masuk dan telpon dari nomor tak di kenal. Dan salah satu pesan itu ada pesan dari Bara yang baru beberapa menit di kirim.


Sayang, aku akan pergi bersama Rini, nyusul aku di jalan Xxx.


Seperti itu lah pesan yang Bara kirim untuk Anisa.


Anisa pun langsung beralih ke pesan berikut dari nomor yang tak di kenal.


Assalamualaikum calon istri ku. Aku kembali untuk menepati janji ku, menikahi mu meski kamu sudah menikah, aku akan mengambil mu dari pria itu seperti janji ku dulu. Janji adalah hutang dan harus di tepati.


Deg!


Deg!


Deg!


Jantung Anisa berdetak dua kali lebih cepat dari biasa, keringat sudah bercucuran keluar dari wajah, entah kenapa kata-kata terakhir dari pesan itu tak asing, dia seperti pernah mendengar kata itu.


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......

__ADS_1


✨____________ 🌼🌼_______________✨


__ADS_2