
π»H 4 P P Y R 3 4 D I N Gπ»
β’
β’
πΉβ¨πβ¨πΉ
Bara menjadi tidak tega, selama dia membantu Anisa, Anisa terus diam, tak ada sekata patah keluar dari mulut Anisa untuk menjawab kecil perkataan nya. Anisa benar-benar diam dengan beribuh bahasa, Bara merasa seperti bicara sendiri, atau lebih tepat nya adalah seperti sedang bicara dengan kunti.
"honey semua akan baik-bak saja percaya lah padaku, jangan memikirkan apapun lagi, aku di sini untuk mu sekarang dan selama nya," ucap Bara menenangkan dan menyakinkan Anisa. Dia dapat melihat jika istri nya hingga sekarang masih takut.
Bara tidak ingin memaksa Anisa untuk bercerita apa sebenarnya yang terjadi, karena dia tidak mau membuat Anisa semakin takut.
Kondisi Anisa sekarang sudah buruk dan dia tidak ingin membuat semakin buruk lagi.
"Mas, apa kita akan berpisah nanti?" tanya Anisa dengan menatap Bara serius dengan pertanyaan nya itu.
"Kenapa bertanya seperti itu honey? Bukan nya kamu sendiri tau apa jawaban ku?" Bara menatap Anisa mencari alasan hingga ada nya pertanyaan seperti tadi.
"Jawab saja Mas, aku ingin dengar langsung dari mu. Apa kita akan berpisah nanti?"
"Tidak, sampai kapan pun hal itu tidak akan pernah terjadi. Kita akan selalu bersama, tidak akan berpisah."
"Meski banyak orang di luar sana yang sangat menginginkan kita pisah?"
"Iya. Jadi tidak perlu terlalu memikirkan sesuatu yang berat, karena hal-hal itu tidak akan pernah terjadi. Aku tidak akan biarkan siapa pun mereka memisahkan kita," janji Bara.
Mendengar itu, Anisa sedikit bisa lebih tenang sekarang, dia tak lagi merasa takut. Meski masih ada rasa takut, tapi lumayan sudah berkurang.
"Honey ada apa?" Bara kaget tiba-tiba Anisa memeluk nya.
__ADS_1
"Terima kasih sudah menenangkan ku Mas, aku harap semua ini benar," jawab Anisa.
"Iya sama-sama. Apa sekarang kamu sudah bisa menceritakan padaku apa sebenarnya yang terjadi pada ku?" Bara melonggarkan pelukan nya, dan menatap Anisa.
Anisa diam, balas menatap Bara.
"Kenapa honey? Jika kamu belum ingin cerita tidak apa-apa, jangan di paksa, aku tidak akan memaksa, asal semua itu membuatmu lebih baik," Bara mengerti dengan keadaan Anisa, dia tersenyum dan mengelus rambut Anisa.
"Bangun lah, aku akan memakaikan mu pakaian, agar kamu tak lama berendam," lanjut Bara lagi, menganti topik pembicaraan.
"Tidak, aku akan menceritakan semua yang terjadi padaku," Anisa menggeleng kepala dan dia sudah yakin akan berkata jujur pada Bara meski akan sakit harus kembali mengingat yang terjadi sesuatu yang di benci, bahkan sesuatu itu sangat memalukan bagi nya untuk kembali di ingat.
"Kamu yakin? Jika tidak bisa, tidak apa-apa, tidak perlu di paksa, aku bisa menunggu kapan pun kamu siap bercerita," sahut Bara.
"Aku yakin. Semua yang terjadi padaku memang sudah seharusnya kamu ketahui, kamu adalah suami ku," Anisa yakin akan keputusan yang di ambil sekarang.
"Baiklah jika honey yakin dapat cerita silakan, tapi jika mendadak tidak bisa, tidak apa-apa. Jangan di terus kan lagi," pesan Bara, karena dia tidak mau terlalu memaksa Anisa untuk menceritakan.
"Iya," paham Anisa mengangguk mengerti.
Saat itu Anisa tidak terlalu paham maksud dari perkataan Felix mengarah kemana, karena dia hanya menjawab iya, dan sedikit kata yang selalu di ingat dari pesan Ayah nya, janji adalah hutang harus di tepati.
Maka dari itu kemana pun Anisa pergi, dia selalu membawa pesan Ayah, jika ada seseorang yang berjanji padanya, meski apa yang mereka janji kan itu di paham atau tidak, Anisa tidak peduli.
Hal yang membuat Bara kaget dan kedua tangan mengepal kuat adalah Anisa di nodai, meski tak jadi melakukan sampai dasar, tapi tangan nya sudah sampai dasar. Bara benar-benar tidak terima.
"Bren***k kau tunggu pembalasan ku Felix, berani nya kau melakukan itu pada istri ku, aku berjanji akan membunuh mu setelah menemukan mu," janji Bara dengan amarah tak bisa di kendalikan lagi.
Anisa bercerita dengan tubuh semakin gemetar, ingatan akan liar nya Felix saat itu membuat nya ingin mati saja.
Bara menarik Anisa masuk dalam pelukan nya, Bara memberi kehangatan dan ketenangan.
__ADS_1
"Mas, aku kotor sekarang, aku jijik pada diriku, maaf... maaf... aku tidak bisa menjaga diri, aku sudah membiarkan pria lain menyentuh ku," tangis Anisa berada di dalam pelukan Bara.
Bara ikut menangis, sakit Anisa dapat di rasakan Bara, air mata yang jatuh dari mata Anisa, menjadi pukulan mematikan, semakin banyak air mata yang jatuh, maka akan semakin banyak pukulan yang di terima Bara.
"Tidak honey, kamu tidak kotor, kamu tidak menjijikan, kamu wanita yang bersih dan aku mencintai mu. Yang kotor itu pria itu bukan kamu, jadi buang jauh pemikiran seperti itu, oke," ucap Bara.
"Tapi, dia mengancam ku dengan memberi waktu selama 1 bulan, apa yang harus ku perbuat? aku takut jika dia akan nekat dan melakukan hal yang tidak di inginkan," ucap Anisa takut, dia berkata dengan tangan gemetar, Bara menggenggam tangan Anisa, menyadari istri nya itu takut.
"Jangan pikirkan ancaman nya itu honey, semua yang di katakan tidak akan pernah terjadi, aku akan melakukan apapun itu untuk melindungi mu meski nanti nyawa ku menjadi taruhan nya," sahut Bara dengan serius.
"Sekarang, ayo pakai baju mu, kita akan pergi dari sini," lanjut Bara mengajak Anisa, dia yakin Anisa tidak nyaman lagi di kamar hotel ini setelah kejadian tadi, meski Anisa tidak mengatakan apapun, Bara dapat mengerti dengan musibah yang menimpa Anisa.
"Pergi? Pergi kemana Mas?" tanya Anisa dengan wajah bingung dia kaget dengan keputusan Bara mendadak.
"Kamu akan tau nanti, di sana hanya ada aku dan kamu, di sana kita akan panen cinta agar tak ada lagi yang berani mengambil mu dari ku."
Perkataan Bara seketika membuat Anisa terdiam, entah apa yang di pikirkan Anisa. Wajah nya terlihat cemas.
"Apa jika aku hamil pria itu tidak akan mengangguk ku? tapi bagaimana jika dengan kehamilan ku, dia mengambil kesempatan untuk mengancam ku?" batin Anisa bimbang, dia sangat takut. Mengingat wajah Felix saja bulu tangan nya sudah merinding.
"Honey kenapa? Apa ada yang di takutkan?" Bara membelai pipi Anisa.
"Tidak Mas, aku baik-baik saja," jawab Anisa.
"Maafkan aku Mas, aku tidak mau membuat mu mencemaskan ku," batin Anisa sedih harus membohongi suami nya.
"Aku tau kamu sedang berbohong Nisa, tapi itu bukan masalah meski kamu berkata bohong aku tau kamu sedang tidak baik-baik saja, tapi jangan sedih karena aku akan selalu ada di sisi mu," batin Bara tersenyum kecil, di balik senyuman nya itu Bara terluka dengan keadaan Anisa.
...Bα΄Κsα΄α΄Κα΄Ι΄Ι’......
...β¨____________ πΌπΌ_______________β¨...
__ADS_1
Maaf beberapa hari kemarin author gak bisa up, kemarin lagi sibuk urusin akreditasi fakultas universitas author. Jadi sekarang baru sempat up lagi. Mohon maaf sudah membuat semua menunggu lama. Sebenarnya author juga gak mau buat pembaca setia author menunggu, tapi mau gimana lagi, nama nya kerjaan gak bisa di tinggalkan harus di kerjakan hingga selesai. π
Dan semua mohon doa nya, agar Mama author cepat sembuh ya,π₯Ί. Mama author beberapa hari kemarin sakit, tapi author baru tau kemarin, karena kita tinggal beda daerah karena kerjaan ππ