
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
🌹✨💞✨🌹
Tanpa terasa sudah 1 bulan Anisa tidak di ganggu, hari terus berganti dan pagi malam berputar begitu cepat.
Anisa tiap hari selalu menghitung hari, entah kenapa setiap menghitung hari yang terus berganti, dia selalu deg-degan dan cemas mengingat ancaman Felix saat kejadian itu
"Bagaimana ini? ini sudah 1 bulan, apakah dia akan kembali sesuai perkataan nya saat itu? bagaimana ini? aku takut, aku tidak mau bertemu dengan nya lagi," cemas Anisa, menatap wajah nya di pantulan cermin wastafel.
Meski sudah satu bulan berlalu kejadian tersebut, Anisa tetap masih ingat jika sedang sendiri.
Dari luar terdengar bunyi dering ponsel dan Anisa tau bunyi ponsel tersebut siapa itu. Tanpa berlama-lama lagi, dia keluar melihat nama penelpon.
Mungkin saja panggilan tersebut dari Bara, karena dua hari kemarin Bara pergi melakukan perjalanan bisnis di LN.
Namun sangat di sayangkan, panggilan tersebut bukan dari Bara, melainkan orang lain, yang mana saat dia melihat layar ponsel nya itu seketika tubuh nya melemas.
"Dia! Bagaimana ini, apa dia menelpon ingin memberitahu perkataan nya itu sudah berlaku sekarang? tidak, aku tidak mau, tapi apa yang harus ku perbuat sekarang?" bingung Anisa dan bertanya-tanya, apa dia harus mengangkat panggilan tersebut atau tidak.
Lama memandang ponsel nya itu, dering ponsel tidak lagi berbunyi, dan Anisa bernafas lega, tapi tidak lama kemudian ponsel kembali bunyi, bukan panggilan telpon melainkan notifikasi pesan masuk dari nomor tadi yang berusaha keras menghubungi nya.
Tanpa menunggu dan membiarkan lagi, dia segera membuka isi pesan tersebut, dia penasaran pesan apa yang di kirim pria itu pada nya.
Temui aku, di taman pertama kali kita ketemu, jika tidak, aku akan menjemput mu di rumah, kamu pasti tidak mau akan hal itu bukan? aku tau, maka dari itu aku meminta mu untuk menemui ku saja. 30 menit lagi aku datang.
Membaca isi pesan tersebut, tubuh Anisa seketika menegang, dia bingung dengan langkah yang harus di ambil. Sudah dua hari ini Bara sangat sibuk, hingga susah di hubungi, bahkan pagi tadi, saat dia menelpon, tak tersambung.
Lalu bagaimana cara dia memberitahu masalah ini, jika sekarang susah di hubungi. Dan pria itu hanya memberikan nya waktu 30 menit dari sekarang, atau dia akan menjemput di rumah.
__ADS_1
Tentu Anisa tidak mau akan hal itu, kedua mertua nya, bahkan kedua orang tau kandung nya tidak dia beritahu masalah yang menimpah nya di kota B.
Anisa tidak mau mereka menjadi khawatir dan sedih akan hal yang menimpah nya.
"Mas, kenapa kamu sangat sulit di hubungi, aku bingung harus melakukan apa sekarang? aku benar-benar seperti berada di tengah-tengah curang," ucap Anisa, kepala nya mendadak sakit terus memikirkan ini.
*****
"Maafkan aku Nisa, cinta ku padamu ternyata salah, aku mencintai mu tapi malah membuat mu takut akan cinta ku yang tulus ini. Aku sadar sekarang, aku akan memperbaiki semua nya, aku tidak mau membuat wanita yang ku cintai sedih dan tersiksa akan perasaaan ku padanya," ucap Felix, kembali mengingat pertemuan nya dengan Bara 1 bulan yang lalu.
Flashback.
"Ada apa kau mengajak ku bertemu? jika memohon agar saya tidak mengambil Nisa dari mu, itu tidak akan pernah terjadi, Nisa milik saya, sebelum bertemu kau, dan kami sudah berjanji saat itu," ucap Felix menatap tajam Bara.
"Saya tau, Nisa sudah menceritakan semua pada saya awal kalian bertemu dan juga janji itu, tapi pernah kau berpikir, sekali saja bagaimana perasaaan Nisa sekarang, setelah kau melecehkan nya? apa itu pantas di kata cinta? kau tau, kau sudah menodai wanita bercadar dan karena perbuatan mu itu, Nisa selalu takut dan merasa kotor, tidak pantas untuk siapapun pria menginginkan nya."
"Dan ku rasa, cinta yang kau bilang itu bukan cinta tulus, tapi kau terobsesi pada istri ku," sambung Bara penuh penegasan.
"Tau apa kau tentang perasaaan ku?" marah Felix tidak terima di kata seperti itu oleh Bara.
"Aku akan melakukan apapun itu untuk kebahagiaan Anisa. Dan aku bahkan rela meninggalkan Anisa, tapi jika dia tidak mencintai ku dan mencintai orang lain, misal nya kau. Bagiku kebahagiaan Anisa terpenting, aku tidak ingin mengikat dan terus mengurung nya dalam hubungan yang sama sekali tidak membuat nya bahagia. Jika kebahagiaan nya bukan bersama ku, tapi bersama orang lain di luar sana. Aku ikhlas, meski hati ku merasa sakit yang amat besar, karena cinta tidak harus saling memiliki," sambung Bara bijak.
Felix terdiam, dia tidak menjawab apapun perkataan Bara. Dia kembali teringat saat itu memaksa Anisa, hingga wanita nya itu menangis histeris.
Mengingat wajah Anisa yang rapuh, penuh air mata berjatuhan menghiasi pipi, membuat hati Felix yang awal tidak peduli akan hal itu tersentuh dan peduli.
Dia sedikit sadar sekarang, jika semua yang di perbuat saat itu sudah sangat keterlaluan. Tidak seharusnya dia melakukan hal itu.
"Kau benar, cinta tidak harus saling memiliki, dan sekarang Anisa sudah mencintai mu. Saya nya saja yang terlambat. Jika saja saya datang lebih cepat pasti semua tidak akan seperti ini, Anisa bukan mencintai mu, tapi saya yang di cintai nya," ucap Felix, dengan kepala tertunduk. Dia selalu saja mengulurkan waktu setiap akan bertemu Anisa.
"Kau benar, dan juga kau bisa berada di posisi ku sekarang, jika kau cepat."
"Tapi semua sudah berlalu, saya tidak bisa bersama Anisa."
__ADS_1
"Iya, jadi sekarang carilah wanita lain, masih banyak wanita di luar sana. Saya melakukan ini karena saya ingin kau juga merasakan kebahagiaan kedua pasangan yang saling cinta, saling memiliki, bukan cinta sepihak, satu ingin memiliki yang satu tidak ingin di miliki. Karena itu akan sangat menyiksa yang satu. Dan tidak pantas di kata cinta, melainkan terobsesi ingin memiliki nya."
Felix mengangguk paham.
"Terima kasih sudah menyadarkan saya, tapi yang kau katakan itu ada yang salah. Saya tidak terobsesi pada Anisa, saya benar mencintai nya, karena Anisa wanita pertama yang membuat saya jatuh cinta dengan Kelembutan dan kebaikan nya."
"Saya akan mengikhlaskan Anisa, tapi dengan syarat," ucap Felix, menatap Bara yang wajah nya berubah penasaran akan syarat nya.
"Apa? katakan saja?" kata Bara.
"Bahagia kan Nisa, jangan sekali membiarkan air mata nya terjatuh sekecil apapun itu."
"Jangan khawatir, soal itu sudah pasti, Nisa istri saya, tidak akan saya biarkan itu terjadi, jika terjadi itu hanya air mata kebahagiaan."
"Bagus. Dan saya harap kau tidak akan melarang saya bertemu Nisa jika suatu saat nanti saya mengajak bertemu. Kau tenang saja, saya tidak akan melakukan hal aneh, kau bisa pegang omongan saya, ini adalah janji seorang ketua mafia, yang mana janji tidak akan di ingkari, dan selalu di tepati meski nyawa taruhan nya."
"Jadi, kau?"
"Iya saya seorang mafia, maka dari itu semua gerak-gerik Nisa selalu saya tau, meski kau sudah pindah, karena mata-mata saya berada di mana-mana."
"Baiklah, saya tidak masalah, asal kau bisa jaga batasan saja."
"Hmmm, dan untuk masalah wanita ular itu, jangan di pikirkan lagi, biarkan saya yang mengurus nya."
"Maksud nya wanita ular?"
"Wanita jahat yang membunuh calon istri mu itu."
"Apa? jadi benar Rini yang melakukan itu? bagaimana kau mengetahui itu? apa kau punya bukti?"
"Ya, tapi kau tidak perlu pikirkan itu, biarkan wanita ular itu saya yang urus, kau urus saja Nisa, buat dia bahagia."
"Baiklah. Saya serahkan Rini padamu."
__ADS_1
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...