
π»H 4 P P Y R 3 4 D I N Gπ»
β’
β’
πΉβ¨πβ¨πΉ
Di dalam taksi, Anisa terdiam memikirkan pertemuan nya tadi dengan Felix, semua terasa mimpi.
Sekarang Felix telah sadar, dan tidak akan menganggu kehidupan nya lagi. Anisa benar-benar merasa lega dan bahagia.
"Mas, kamu keterlaluan. Kenapa tidak pernah menceritakan ini padaku. Apa kamu memang sengaja melakukan ini padaku? pantas saja selama ini tidak ada kabar dari mu. Ternyata ini alasan nya," gumam Anisa tersenyum kecil, dia merasa suami nya penuh kejutan.
Tak lama kemudian, taksi yang di tumpangi Anisa tiba di depan rumah, dia segera keluar, sebelum keluar dia membayar ongkos.
"Terima kasih."
"Sama-sama," sahut Anisa.
Tiba di dalam, Anisa tidak mendapatkan siapapun, di rumah kosong, dia menjadi bingung, padahal baru satu jam dia meninggalkan rumah, tapi kenapa mendadak tidak ada orang, rumah sekarang sudah seperti kuburan sepi, tidak ada penghuni.
Anisa terus melangkah, dia mencari Keberadaan kedua mertua nya.
Saat langkah kaki menginjakkan kaki di ruang keluarga.
Dan
Dor!
Dor!
Dor.
Letusan balon bunyi beruntun, Anisa kaget dan kedua tangan refleks menutup gendang telinga nya.
"Selamat ulang tahun."
"Selamat ulang tahun."
"Selamat ulang tahun, Nisa. Selamat ulang tahun Nisa."
Mendengar nyanyian mereka, Anisa menjadi terharu, bahkan dia tidak mengingat ulang tahun nya itu sendiri.
Anisa meneteskan air mata, dia tidak tau harus berkata apalagi. Dia merasa bahagia dan juga sedih.
"Aku tidak menyangka mereka masih mengingat nya, tapi kamu di mana Mas? kenapa tidak ada? apa kamu lupa tanggal ultah ku, karena kerjaan mu sangat banyak, hingga kamu lupa?" batin Anisa bertanya dan sedih karena di sini sudah lengkap ada kedua orang tua nya dan kedua mertua nya, tapi tidak ada Bara.
"Kenapa sayang? kok wajah nya sedih? apa kamu tidak senang hadiah kejutan dari kami?" tanya Bunda Nilam. Melihat wajah sedih putri nya.
"Tidak Bunda, Nisa senang kok. Nisa hanya terharu saja kalian masih mengingat nya, padahal Nisa tidak mengingat," bohong Anisa.
"Benar hanya itu, apa kamu sedih karena suami mu tidak bersama kita?" tebak Bunda Nilam.
"Tidak Bunda, Nisa tau Mas Bara pasti sangat sibuk dengan kerjaan nya. Dan Nisa juga gak keberatan kok."
"Oh gitu, padahal Bunda dan yang lain mau kasih surprise, tapi gak jadi setelah mendengar perkataan mu ini."
"Surprise? apa itu Bunda? kenapa gak jadi?"
__ADS_1
"Sudah jeng, kasihan Nisa nya. Lihat wajah nya terlihat jelas sangat penasaran," seru Mama Tari menengahi, dia tidak tega melihat wajah mantu nya.
"Iya jeng, benar. Seperti nya ada yang rindu berat pada suami nya," sahut Bunda Nilam.
"Sini, ikut Mama. Tapi sebelum itu tutup mata nya dulu. Sebelum Mama bilang buka jangan di buka, oke," ucap Mama Tari memberi arahan.
"Kenapa Ma? apa Aku tidak tau sekarang?"
"Iya sayang, sekarang turuti saja, percaya deh sama Mama, nanti kalau kamu tau pasti kamu senang."
"Iya Ma."
Anisa segera menutup mata dan Bunda Nilam memberi arahan dari belakang, membantu Anisa berjalan.
Anisa berjalan dengan arahan Bunda. "Lurus sayang, jangan belok nanti kamu bisa tabrak."
"Iya Bunda."
Beberapa langkah maju ke depan, akhir nya tiba.
"Oke, berhenti sayang," ucap Bunda Nilam.
"Sudah tiba Bunda?"
"Iya, tapi buka mata nya pelan-pelan saja, jangan buru-buru oke," jawab Bunda.
"Iya."
"Dengar arahan Bunda, hitungan ke tiga buka mata mu."
"Satu."
"Dua."
"Surprise," teriak semua kompak.
Anisa membuka mata secara perlahan, dia terkejut melihat sosok pria yang sangat di rindukan berada di hadapan nya. Meski baru dua hari berpisah tidak bertemu, Anisa sudah sangat rindu.
"Mas kamu datang? kapan? kenapa tidak memberitahu ku? aku rindu," Anisa langsung memeluk Bara, butiran bening jatuh membasahi pipi.
"Honey, jangan menangis, maaf aku tidak memberitahu mu. Sudah ya jangan menangis lagi, aku janji hal seperti ini tidak akan terulang lagi, lagian aku melakukan ini karena ingin memberi mu surprise," ucap Bara memeluk balas Anisa.
"Terima kasih Mas. Aku sempat berpikir kamu tidak mengingat ulang tahun ku, tapi aku salah, kamu malah memberiku surprise ini," ucap Anisa.
"Tentu honey, bagaimana aku bisa melupakan hari penting dalam hidup mu, aku suami mu, aku sangat mencintai mu."
"Sudah mesra nya. Sekarang bukan waktu gombal-gombalan," ucap Mama Tari.
"Benar itu, kalian bisa lanjutkan nanti, tapi di kamar, dan bukan sekarang juga," timpal Bunda Nilam.
Satu jam berlalu.
Setelah melakukan banyak acara. Anisa berpamitan ke kamar lebih dulu.
"Honey, kamu kenapa? apa selama aku pergi kamu sakit? ini juga wajah kamu pucat? apa sebaiknya kamu ke rumah sakit saja, kita cek kesehatan mu, aku khawatir kamu kenapa-napa honey," cemas Bara.
"Tidak Mas, aku baik-baik saja, aku hanya sedikit pusing, sebentar lagi juga sembuh," sahut Anisa.
"Mas, kamu pakai parfum apa? kenapa bau nya buruk sekali," sambung Anisa merasa mual dengan aroma tubuh Bara.
__ADS_1
"Masa sih? aku pakai parfum yang sama Honey, seperti biasa nya di hari sebelumnya."
"Tapi kenapa bau nya aneh seperti ini Mas, aku merasa mau muntah."
Bara memandang wajah Anisa dengan lekat, dia bingung dengan perubahan Anisa sekarang, mata nya berpindah pada perut rata Anisa. Dia teringat saat itu, tanda-tanda Anisa sama persis dengan istri teman kolega nya.
"Apa jangan-jangan..." Bara tidak melanjutkan suara batin nya lagi.
Dia berjalan menuju lemari dan mengambil sesuatu yang sudah lama dia beli dan di simpan.
Anisa yang tidak tau apa yang akan di lakukan Bara, hanya diam melihat.
"Honey, ini coba kamu tes dulu," Bara menyodorkan 5 merek alat tespeck pada Anisa.
"Untuk apa Mas?"
"Aku rasa sekarang kamu sedang hamil honey, tanda-tanda kamu ini sama persis dengan dengan istri teman kolega ku tempo hari. Jadi tidak ada salah kamu cek sekarang, moga-moga saja benar."
"Mas yakin?"
"Iya."
"Baiklah, aku tes, tapi kamu ganti pakaian dan jangan mengenakan parfum itu lagi."
"Iya, honey. Sekarang masuk lah."
15 menit berlalu.
Bara terus mondar-mandir di depan pintu, tidak jelas. Dia penasaran akan hasil tes itu. Dia berharap hasil nya seperti harapan nya.
Ceklek!
Anisa keluar menghampiri Bara dengan wajah biasa.
"Honey, bagaimana?"
"Apa yang kamu harapkan Mas?" tanya Anisa menatap Bara.
Melihat wajah Anisa tidak tampak bahagia, Bara berpikir Anisa tidak hamil.
"Tidak, lupakan saja, sekarang kita harus bekerja lebih keras lagi," ucap Bara.
"Aku rasa itu tidak perlu Mas, nanti di dalam sini akan merasa sakit dengan permainan mu yang begitu semangat," Anisa mengelus perut rata nya, sambil senyum.
"Maksud kamu, apa kamu hamil?"
"Iya, aku hamil Mas, ini," Anisa menyodorkan bukti tespeck nya yang bergaris dua.
"Alhamdulilah, terima kasih honey. Aku bahagia mendengar nya, ini adalah kado terbesar untuk ku honey, kita sebentar lagi akan menjadi orang tua."
"Kamu benar Mas, kita akan menjadi orang tua."
Dan mereka pun hidup bahagia, tanpa ada orang ketiga.
...Tamat...
...β¨____________ πΌπΌ_______________β¨...
Hallo semua terima kasih sudah mengikuti cerita ku sampai akhir. Untuk lanjutan cerita nya akan di lanjutkan di novel baru: Terjebak Cinta Tuan Mafia. Cerita lanjutan dari Felix dan Rini. Di sana juga akan ada cerita selama masa ngidam Anisa.
__ADS_1
Untuk itu terus pantau ya. Jangan khawatir setiap akhir karya author, akan selalu ada giveaway untuk pembaca setia