Di Nikahi Ketua Genk Motor

Di Nikahi Ketua Genk Motor
Rasa gugup


__ADS_3

"Masih ingat kembali kau" suara bariton itu mengagetkan Elang yang baru saja ingin memejamkan mata nya. Sontak saja kedua saudara itu mengalihkan asistensi pada Eddy yang baru saja datang.


"Ehh.. Om" ucap Elang sedikit gugup.


Eddy menatap Elang dengan tajam. "Elang, bisa kita bicara sebentar?" tanya Eddy dengan tegas, berusaha tenang.


Elang melirik Revan seolah meminta pendapat Revan namun Revan hanya mengangkat bahu nya dengan cuek "Ck" decak Elang selirih mungkin agar tidak terdengar oleh mertua nya.


Elang lalu kembali menatap Eddy "Bisa Om" kata Elang sembari berdiri mengikuti langkah Eddy menuju teras rumah.


Elang lalu duduk di samping Eddy yang sedang menatap jauh kedepan seperti nya sedang memikirkan sesuatu. "Apakah kau serius dengan pernikahan ini?" tanya Eddy.


Dengan ragu Elang mengangguk. "Iya" jawab nya dengan terpaksa.


"Apakah kau bisa menjamin kebahagiaan buat putri ku? Apakah kau bisa menjaga nya? Apakah kau akan sayang pada nya? Apakah kau peduli pada nya?" begitu banyak pertanyaan yang lontar kan oleh Eddy pada Elang.


"Saya tidak bisa menjamin itu semua tapi saya akan berusaha membuat putri Om bahagia dan akan selalu menjaga nya dengan sekuat tenaga saya" kata Elang tanpa rasa ragu sedikit pun.


Entah mengapa ada rasa bersalah di hati Elang karena telah menyeret Elina dalam masalah nya, apalagi saat tadi Elang mengabaikan Elina yang sedang tidak sadar kan diri.

__ADS_1


"Jika kamu tidak sanggup lagi merawat serta menyayangi putri ku, maka saya mohon dengan sangat, kembali kan dia dengan baik baik, saya akan menerima bagaimana pun keadaan putri saya" Lirih Eddy begitu sendu.


Elang menunduk merasa tidak enak pada Mertua nya "Saya minta maaf atas kelakuan saya tadi Om, saya janji tidak akan mengulangi nya lagi" Elang benar benar merasa bersalah dengan mertua nya, terlebih lagi pada Elina yang tidak tahu apa apa.


Hening seketika, Elang masih mencerna setiap kalimat Eddy, Namun jika di pikir-pikir Elang memang bersalah karena lebih mementingkan sahabat nya di banding Elina yang sudah berstatus sebagai istri nya. Tapi tidak bisa di punkiri jika rasa khwatir Elang lebih mendominasi pada sahabat nya.


Sejenak Elang melirik Eddy, Elang melihat ada sebuah kesedihan yang di tahan oleh Eddy sedari tadi. "Walaupun hidup saya berantakan, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga dan menyayangi Elina" batin Elang setelah itu dia juga menatap jauh kedepan, Elang menyadari semua kesalahan nya dan berusaha untuk memperbaiki nya.


.


.


Elang mengangguk serta tersenyum simpul pada mertua nya yang sedang berjalan menghampiri mereka di teras rumah. "Dari tadi bunda tidak melihat mu makan, kamu belum makan kan? tanya bunda Elina.


"Belum tante"


"Ehh kok manggil tante sih, panggil bunda dong, kan kamu udah jadi mantu bunda jadi anggap saja kami ini orang tua kamu" ucap bundaa Elina seraya tersenyum manis.


Entah mengapa Elang merasa nyaman saat di perlaku kan begitu hangat oleh mertua nya yang lembut dan ramah. "I_iya Bun" jawab Elang sedikit ragu karena tidak terbiasa dengan sebutan itu. "Nah gitu dong, yaudah kamu makan dulu sana, jangan sampai kamu pingsan juga seperti Elina karena lupa makan"

__ADS_1


Elang tersenyum simpul. "Iya bun, nanti saja" jawab Elang ramah.


"Jangan menunda-nunda makan, sini ikut bunda, bunda sudah siapin makanan buat kamu" Ajak Bunda Elina.


Elang kembali mengangguk, Saat ini Elang memang sangat lapar, sejak kemarin Elang belum sempat makan karena begitu banyak masalah yang dia hadapi."Ayo makan bareng yah" ajak Elang pada Eddy.


"Kamu saja, Ayah sudah makan tadi" Eddy menolak ajakan Elang karena masih kepikiran dengan nasib putri nya kedepan.


"Ayok Nak" panggil bunda Elina pada Elang yang masih terdiam di tempat nya. Elang lalu berdiri dan mengikuti langkah bunda Elina menuju dapur.


Setelah sampai di meja makan, Bunda Elina lalu menarik kursi khusus untuk menantu nya. "Duduk di sini nak" kata bunda Elina mempersilahkan Elang duduk di kursi yang dia siapkan.


Dengan rasa canggung Elang duduk di kursi tersebut. "Ehh.. Terima kasih bun, tidak perlu repot" jawab Elang sungkan.


Bunda Elina tersenyum ramah. "Tidak repot kok" Bunda Elina lalu mengambil satu buah piring yang tersusun rapi di atas meja. Lalu Menyendokan nasi dan lauk pauk ke atas piring tersebut.


Elang terus memperhatikan bunda Elina yang cekatan mengambil nya nasi. "Segini cukup nak?" tanya bunda Elina, seketika lamunan Elang buyar.


"Cukup Bun, Terima kasih" jawab Elang sembari mengambil piring yang di sodorkan oleh bunda Elina. Dengan rasa canggung Elang makan di temeni oleh bunda Elina.

__ADS_1


__ADS_2