Di Nikahi Ketua Genk Motor

Di Nikahi Ketua Genk Motor
Terciduk


__ADS_3

"Tolong... "


Ryan yang sedang berjalan di koridor sekolah tanpa sengaja mendengar suara teriakan minta tolong dari arah kamar mandi cewek. "Siapa di sana" Ryan mencoba memastikan apakah pendengaran nya benar atau dia hanya salah dengar saja. Namun beberapa detik kemudian terdengar suara isakan tangis seorang wanita.


Ryan agak merinding. "Yakali ada kuntilanak di sore gini" lirih Ryan sembari menatap seluruh koridor namun pandangan nya justru tertuju pada sebuah toilet yang terkunci dari luar. "Kenapa toilet itu di kunci" Ryan hanya membatin lalu berjalan menuju toilet untuk memastikan apakah toilet itu rusak atau tidak karena baru kali ini toilet di kunci.


Tepat saat pintu toilet terbuka lebar, Ryan terkejut melihat Alin duduk di belakang pintu sembari menangis, tangisan Alin terdengar begitu pilu hingga tanpa sadar Ryan memeluk Alin.


Setelah beberapa menit berlalu, Ryan mengurangi pelukan nya lalu memegang kedua bahu Alin. "Hey, don't cry" tutur Ryan lembut sembari menyekai air mata Alin.


Alin yang baru menyadari jika yang memeluk nya barusan adalah Ryan di buat melotot apalagi saat ini jarak mereka sangat dekat bahkan nafas Ryan begitu terasa di wajahnya.


Ryan lalu membuka jaket nya dan memberikan pada Alin. "Pakai ini agar kau tidak masuk angin" Ryan baru menyadari bahwa seragam Alin basah dan tembus pandang.


Alin tersenyum canggung. "Terimakasih" jawab Alin lalu segera memakai jaket Ryan. Alin tidak menyangka jika kakel yang terkenal dingin itu malah bersikap lembut pada nya.


"Gue keluar lebih dulu, nanti lo nyusul" kata Ryan lalu segera keluar dari toilet dan sial nya Ryan berpapasan dengan pak Haris.

__ADS_1


Pak Haris menekuk alis nya. "Ngapain kamu di toilet cewek?" belum sempat Ryan menjawab, Alin sudah lebih dulu menampakkan diri nya. "Mampuss gue" batin Ryan sembari menepuk kening nya.


"Ehh ada pak Haris" sapa Alin dengan canggung. Sedangkan pak Haris belum bersuara, masih menatap kedua murid nya dengan tatapan insten yang sangat mencurigakan.


Alin menyenggol lengan Ryan. "Kenapa kk ngak bilang sih" lirih Alin namun Ryan hanya saja.


"Kalian berdua ikut saya keruangan saya dan telfon kedua orang tua kalian, saya ingin bicara" kata Pak Haris lalu berjalan menuju ruangan nya.


"Kak Ryan kenapa diam aja sih, kenapa ngak ngasih kode ke Alin kalau ada pak Haris" omel Alin namun Ryan hanya menatap nya dengan malas.


Di ruangan itu sudah ada pak Haris yang menunggu mereka sembari menatap sebuah leptop di hadapan nya. "Bapak pikir kau adalah murid yang paling baik di sekolah ini, ternyata bapak salah Ryan, bapak kecewa dengan sikap kamu!!" ucap pak Haris dengan emosi.


Ryan tetap terlihat tenang. "Saya bisa jelasin semuanya pak, saya dan Alin tidak melakukan apapun, saya berani bersumpah" ucapan Ryan pun di angguki oleh Alin.


"Tidak usah bersumpah, bapak sudah melihat CCTV di koridor itu" pak Haris lalu menatap mereka berdua. "Cepat telfon orang tua kalian" lanjut pak Haris dan sementara Alin sudah terlihat takut, baru saja tadi pagi ayah nya berkata untuk tidak membuat masalah dan sekarang diri nya mlah terjebak masalah karena ulah Vira.


Ryan lalu mengambil alih laptop yang berada di depan pak Haris lalu melihat vidio CCTV di koridor tadi. Alis Ryan menekuk menatap layar lebar di hadapan nya.

__ADS_1


Di video itu nampak Alin yang berjalan menuju lorong toilet dan 15 belas kemudian Ryan juga masuk ke toilet itu. Cukup lama Ryan berada di dalam toilet bersama Alin hingga akhirnya pak Haris datang menyidak mereka.


"Saya bisa jelasin pak, ini tidak seperti yang bapak lihat" ucap Ryan yang tetap tenang walaupun jauh di lubuk hati nya ada perasaan takut.


"Tadi kak Ryan hanya menolong saya pak, ngak tau kenapa tiba-tiba saja pintu toilet nya terkunci dari luar" jelas Alin.


Pak Haris kembali menatap mereka berdua. "Lalu kenapa pakaian kamu kenapa bisa?" tanya pak Haris menatap tubuh Alin.


"Saya terjatuh pak di toilet" jelas Alin namun pak Haris masih belum percaya dengan ucapan kedua murid nya.


"Kalau bapak tidak percaya, saya siap di visum" jawab Alin gugup.


"Kalau begitu telfon orang tua kalian"


Ryan terlihat biasa saja saat pak Haris menyuruh menelfon ibu nya. "Baiklah pak" jawab Ryan lalu berjalan sedikit menjauh dari pak Haris dan Alin.


Sedangkan Alin hanya membatu di tempat dengan wajah yang terkejut. "Kenapa kau terkejut? saya hanya meminta orang tua mu datang karena melakukan visum harus melaui persetujuan orang tua" Alin kebingungan, bagaimana dia bisa memanggil orang tua nya, padahal baru tadi pagi Ayah nya memberikan peringatan agar Alin tidak membuat masalah. "Cepat telfon" dengan rasa takut yang luar biasa Alin terpaksa menelfon ayah nya.

__ADS_1


__ADS_2