
Elang yang melihat keluarga kecil itu saling menyayangi, seketika merasa terharu sekaligus miris mengingat kehidupan nya yang berantakan. "Saya tidak bisa berjanji akan melakukan apa yang seperti ayah mau tapi saya berjanji akan selalu menjaga Elina dan berusaha membuat Elina nyaman bersama saya" ucap Elang begitu mantap membuat hati Eddy sedikit lega.
"Bisa kita berangkat sekarang? Takut nya kita kemalaman di jalan" kata Revan sontak mengalihkan asistensi mereka berempat.
Elang mengangguk. "Kalau begitu, Elang pamit dulu yah" pamit Elang sembari meraih tangan Eddy lalu mencium nya.
Eddy tersenyum simpul. "Ingat pesan ayah Nak Elang, kamu hati hati di jalan" kata Eddy sembari menepuk pelan pundak Elang. Elang mengangguk sembari tersenyum lalu berpindah ke Bunda Elang untuk pamit.
"Bun, Elang pamit ya, jangan lupa berkunjung ke apartemen Elang" kata Elang sembari mencium tangan bunda Elina.
Bunda Elina tersenyum ramah. "Iya nak, kamu hati hati di jalan ya, jagain Elina ya" ujar bunda Elina lalu memeluk tubuh Elang.
__ADS_1
Elang yang mendapat kan pelukan hangat dari seorang ibu seketika tersenyum lebar sembari membalas pelukan bunda Elina. "Iya bun" jawab Elina lalu melepaskan pelukan nya.
Setelah mereka bertiga berpamitan kepada Ayah dan bunda, mereka pun memulai perjalanan menuju ibu kota yang memakan waktu hingga lima jam lama nya. Kali ini Elang yang menyetir karena Revan masih harus mengerjakan sesuatu di laptop nya, sedangkan Elina duduk di samping Elang sembari menatap keluar jendela.
Mobil yang di kemudikan oleh Elang lambat laun meninggal kan kampung halaman Elina, Selama di perjalanan pandangan Elina masih sama yaitu menatap keluar jendela mobil.
Sesekali Elang melirik Elina, melihat gadis cantik yang duduk di samping nya dengan wajah sendu dan sesekali Elina mengusap mata nya saat buliran air mata lolos begitu saja di pipi Elina.
"Bang Revan, kita langsung ke mana nih?" tanya Elang sembari melirik Revan di balik kaca spion mobil nya.
Elang tersenyum sinis. "Bahkan di hari pernikahan anak nya saja, mereka lebih mementingkan pekerjaan, miris" jawab Elang.
__ADS_1
"Mereka ada urusan penting, lagian kan ada bang Revan yang nemenin kamu di sana" kata Revan agar Elang tidak berfikir yang macam macam pada orang tua nya. Sedang kan Elang memilih diam tanpa menjawab ucapan Revan. Jangan kan hadir di pesta pernikahan anak nya, mereka bahkan tidak menelfon Elang atau sekedar bertanya kabar tentang Elang.
Elang lalu kembali melirik Elina. "Lo lapar ngak? Mau singgah makan dulu?" tanya Elang namun Elina hanya diam saja, Elina bahkan tidak melirik Elang sama sekali seolah keberadaan Elang tak nampak bagi Elina.
"Kacang enak, Lang" Ledek Revan sembari terkekeh pelan di belakang Elang sedang kan Elang menatap sinis kearah Revan melalui kaca spion di atas kepala nya.
"Oh iya, nanti biar saya saja yang urus sekolah Elina" kata Revan lalu kembali fokus pada laptop nya.
Elang memilih diam dan tak ingin bertanya lagi pada Elina, sebab Elang tau jika gadis yang berada di samping nya masih terpukul dengan keadaan nya saat ini. "Gimana nasib gue dan Elina kedepan nya" batin Elang lalu menghembuskan nafas nya dengan kasar.
Elang lalu merogoh saku celana nya, mencari ponsel yang sedari tadi belum aktif setelah di chas mati oleh Elang. Elang lalu mengaktifkan ponsel tersebut lalu menyimpan nya di samping kursi nya.
__ADS_1
Baru saja ponsel itu aktif, suara dering pesan singkat masuk bertubi-tubi di ponsel Elang membuat Revan mengalihkan asistensi nya pada Elang. "Jangan bermain ponsel saat sedang menyetir, bahaya" ucap Revan lalu kembali menatap laptop nya.
"Iya" jawab Elang, wlaupun sedikit kepo dengan pesan singkat yang terus masuk ke WA pribadi nya. Elang lalu melirik Elina dan ternyata gadis itu sedang tertidur pulas sembari bersandar di pintu mobil.