Di Nikahi Ketua Genk Motor

Di Nikahi Ketua Genk Motor
Apartemen Baru


__ADS_3

Beberapa saat setelah Elang menceritakan semua nya, hati Elang sedikit lega walaupun tidak bisa di pungkiri jika rasa takut masih menggerogoti pikiran nya.


Elina juga ikut membantu Elang menjelaskan semuanya, walaupun Elina masih marah dengan Elang tapi ini fiks hanya salah faham saja yang berunjung pernikahan.


Marah?, jelas saja, orang tua Elang merasa gagal mendidik putri bungsu nya, jika saja mereka tahu akan terjadi seperti ini, kedua orang tua Elang pasti tidak mengijin kan Elang sekolah di Indonesia.


Elang yang merasa bersalah pun menghampiri bunda nya yang masih terdiam lalu duduk di samping bunda nya. "Maafkan Elang bun, Elang tau Elang salah, jika bunda dan ayah ingin marah silahkan" kata Elang sedikit iba.


Bunda Elang hanya diam tidak ingin mengomentari putra bungsu nya, bunda Elang lalu melirik sang suami yang sejak tadi hanya terdiam saja saat Elang menjelaskan permasalahan nya.


Wijaya mengerti tatapan istri nya itu lalu kini menatap Elang dengan rasa bersalah karena gagal mendidik Elang. "Ayah tidak meminta kalian untuk berpisah, hanya saja Ayah ingin kalian fokus dengan sekolah kalian" Wijaya mengambil nafas perlahan. "Ayah minta kalian jangan melakukan hubungan fisik terlebih dahulu, sebab kalian berdua masih sekolah dan umur kalian juga masih terlalu dini, ayah tidak ingin jika Elina hamil sebelum lulus" ujar Wijaya begitu bijak.


"Karena kalian sudah menikah, ada baik nya jika kalian tinggal di apartemen dan juga untuk Elang, uang saku yang biasanya 10 juta ayah berikan perbulan kini hanya 1 juta saja perbulan"


Mendengar perkataan Wijaya membuat Elang mendongak menatap sang Ayah. "Ayah bercanda kan? mana cukup Elang dengan uang segitu" keluh nya sembari menatap sang bunda berharap sang bunda ingin membelah nya namun bunda Elang hanya diam saja.

__ADS_1


"Ini adalah hukuman buat kamu! jika kamu merasa kekurangan, silahkan kamu mencari pekerjaan. Dari pada kamu balapan ngak jelas lebih baik sepulang sekolah kamu kerja atau kau juga bisa kerja di kantor ayah" baru saja Elang ingin protes tapi Wijaya sudah berdiri dan melangkah masuk ke dalam kamar.


"Aarrgghhh" umpat Elang prustasi lalu berdiri dan berjalan menuju kamar.


Elina yang kebingungan mengikuti langkah Elang masuk ke dalam kamar. Sesampainya di kamar, Elang mulai mengemasi barang yang akan dia bawa ke apartemen baru nya, sedangkan Elina hanya diam saja melihat Elang.


Elang menoleh menatap Elina. "Ngapain lo di situ, cepat kemasin barang barang lo, kita akan pindah ke apartemen baru" ucap Elang sedikit ngegas.


.


.


.


Elang dan Elina masuk dengan mata yang penuh takjub melihat nuansa apartemen ini. "Wahh bagus banget" lirih Elina yang masih bisa di dengar oleh Elang. Apartemen itu terletak di lantai 30, jadi nampak jelas keindahan kota jakarta dari balik jendela apartemen tersebut.

__ADS_1


"Elang, ayah minta mulai malam ini, jangan sering keluyuran, Kasian Elina di apartemen ini sendirian"


"Dan jangan sampai anak mantu bunda kamu sakiti, awas saja kau lang, bunda akan menjadikan mu burung geprek jika itu sampai terjadi" kata sang bunda dengan wajah serius.


Mendengar hal itu, sontak Elina terkekeh mengejek Elang dengan menjulur kan lidah nya karena merasa puas dengan ucapan orang tua Elang. "Awas kau yaaa.. " melihat Elang yang seolah ingin memangsa nya, Elina dengan cepat berlari ke samping mertua nya agar Elang tidak bisa berkutik.


Dan benar saja, Elang langsung terdiam di tempat. "Awas kau" kata Elang tanpa suara, hanya menggunakan isyarat.


Bunda Elang menoleh menatap dua pasangan baru itu. "Lang, ajak istri mu lihat kamar kalian" mendengar hal itu sontak Elang dan Elina gelagapan. "Kamar kalian?" batin Elina sembari menatap Elang. "Bisa abis gue di tangan monyet mesum itu" monolog Elina. sedangkan Elang tersenyum devil melihat raut wajah Elina berubah tegang.


"Mampus lo" Elang lagi lagi berbicara tanpa suara hanya sebuah isyarat dengan senyuman devil di bibir Elang.


Dengan cepat Elang membuka pintu kamar utama yang akan mereka tempati. "Silahkan masuk istri ku yang cantik" Elang mengulum senyum menahan tawa melihat expresi Elina yang berubah cemberut.


Mungkin jika orang lain yang mendengar sapaan 'Istriku' akan tersipu malu, tapi tidak dengan Elina yang bahkan ingin muntah mendengar nya apalagi melihat expresi Elang yang sangat mesum itu, sungguh Elina rasa nya ingin kabur saja dari sini.

__ADS_1


__ADS_2