
Baru saja Elang ingin memasuki gerbang sekolah, terlihat Ryan juga yang baru saja datang hingga mereka berdua masuk bersamaan di parkiran sekolah.
"Hey! Lihat itu, dia datang"
Seolah terhipnotis, beberapa siswa baru yang sedang berkumpul di parkiran mendadak hebo saat Elang dan Ryan memasuki area parkiran.
"Ya tuhan, kak Elang ganteng banget"
"Kak follback aku dong"
"Kak Elang minta nomor wa nya dong"
Elang seolah tidak peduli dengan teriakan beberapa siswa yang terus memanggil nama nya dengan hebo dan dengan santai nya Elang berjalan menuju koridor yang lumayan sepi.
Sebenarnya hari ini sekolah masih libur, beberapa siswa tadi datang hanya untuk membayar uang daftar ulang pasca liburan semester.
Sedang kan Elang dan Ryan datang ke sekolah karena ada rapat OSIS mengenai siswa baru yang akan melakukan masa observasi besok. Elang dan Ryan sebenarnya sangat malas mengurus masalah seperti ini tapi karena tuntutan dari guru alhasil mereka pun ikut serta.
.
__ADS_1
.
.
Dua jam berlalu, Elang yang baru saja selesai melakukan rapat OSIS dengan segera menelfon Revan. "Ayah bunda, udah sampai?" tanya Elang to the poin setelah sambungan telepon nya terhubung.
"Belum, tapi kata mereka ngak usah di jemput soal nya mereka masih ada urusan" jawab Revan sembari berjalan keluar rumah. "Oh iya malam ini lo jangan keluyuran, gue dan Rafael mau pergi bentar, inget Elina sendirian di rumah" jelas Revan.
Elang berdecak kesal. "Iya" jawab nya sembari mematikan panggilan telepon Revan. Elang lalu melihat Ryan sekilas. "Gue balik duluan yak, ayah dan bunda minta di jemput di bandara" ucap Elang berbohong.
Ryan hanya mengangguk. "Yoi, salam sama ayah bunda yak" Elang mengangguk sembari berjalan lebih dulu meninggal kan Ryan yang masih sibuk dengan ponsel nya.
Begitu pun sebaliknya, bunda Ryan juga sudah menganggap Elang sebagai anak nya, bahkan Elang yang notabene nya seorang anak kaya raya tidak merasa jijik saat berada di rumah Ryan yang terlihat sangat kecil.
Di rumah kecil itu, hanya ada Ryan dan ibu nya yang berkerja sebagai tukang jahit pakaian, namun Elang merasa lebih nyaman di rumah kecil itu di banding di rumah nya yang sangat mewah namun terlihat hampa, seperti tidak ada kehidupan di dalam nya.
***
Pukul 5 sore, Elang baru saja tiba di rumah mewah nan megah itu. Elang melangkah masuk menuju anak tangga namun baru saja Elang ingin melangkah naik, pandangan nya teralihkan oleh seseorang yang sedang berkutak di dapur. "Harum banget" lirih nya lalu melangkah menuju dapur.
__ADS_1
Ternyata Elina lah yang sedang memasak hingga aroma masakan nya begitu harum membuat Elang kelaparan. "Lo lagi ngapain?" tanya Elang sembari berdiri di samping Elina yang sedang mengaduk nasi goreng.
Elina terkaget melihat Elang tiba-tiba saja berada di samping nya dengan jarak yang lumayan dekat. "Jauh jauh dari gue!" kata Elina dengan sinis sembari menungkan nasi goreng yang baru saja masak ke dalam piring.
"Bagi dikit dong, gue laper" pinta Elang namun Elina hanya menatap nya dengan sinis. Seperti nya Elina masih dendam banget dengan Elang atau Elina masih belum terima dengan status nya sekarang.
Elina berdecak. "Lo punya tangan kan!! Sana buat sendiri, jangan nyusahin orang aja tau nya" kesal Elina karena Elang terus mendekati nya.
"Pelit amat lo, gue minta cuma dikit doang" kata Elang tak kalah sinis melihat tingkah Elina yang membuat darah nya mendidih nya. "Lagian kan udah tugas seorang istri buat layanin suami nya" lanjut Elang.
Seketika mata Elina melotot. "Jangan sebut kata suami istri di hadapan gue, rasa nya gue pengen muntah dan ingat, kita tidak ada hubungan apapun jadi jangan asal ngomong" kata Elina sembari memutar bola matanya dengan malas.
"Apa lo bilang, kita tidak ada hubungan apapun? Heh gadis bodoh, lo amnesia atau gimana?" Elang tersenyum sinis. "Walaupun pernikahan kita karena terpaksa tapi lo tetap istri gue, lo istri sah gue, inget itu" kata Elang menekankan kata istri di setiap kalimat nya. Lalu dengan lancang Elang mengambil piring yang berisikan nasi goreng buatan Elina.
"Ehh monyet, itu makanan gue!!" kata Elina kesal melihat Elang yang tanpa dosa melahap makanan Elina. Baru saja Elina makan dua suap nasi goreng itu, kini nasi goreng itu sudah beralih di hadapan Elang.
Elina yang masih lapar memilih mengupas apel yang tertata rapi di atas meja lalu memakan nya. "Masakan lo lumayan enak" kata Elang lalu meneguk air milik Elina.
Elina melotot tajam. "Lumayan lo bilang? Bahkan sebutir nasi pun ngak ada sisa di piring lo dan lo bilang lumayan aja" kata Elina tak habis pikir dengan manusia di hadapan nya.
__ADS_1
"Terpaksa, dari pada muzakir kan mending gue habis kan" jawab Elang tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Entar malam jum'at, boleh kan kita malper" ucap Elang sembari mengedipkan mata nya dengan alis yang naik turun menggoda Elina.