
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, Elang yang masih tertidur dengan nyenyak di bangun kan oleh suara ketukan dari luar. "Lang, bangun" teriak Revan sembari mengetuk pintu kamar Revan.
Dengan rasa malas Elang bangun dari tidur nya lalu membuka pintu. "Apa sih ganggu aja" ucap Elang dengan rambut yang wajah khas bangun tidur.
"Cepat bersiap, kita akan ke kembali kota" kata Revan lalu meninggal kan Elang dan menuju ruang tamu berniat membantu bunda Elina yang sedang mengemas cemilan ke dalam dos.
.
.
.
Di sisi lain terlihat Elina dan Eddy yang sedang berbincang di sebuah taman kecil. Terlihat jika saat ini Elina sedang menangis di pelukan sang ayah. "Elina ngak mau ikut ke kota yah, Elina mau di sini bersama ayah dan bunda" ucap Elina dengan terisak di pelukan Eddy.
__ADS_1
"Jangan pikir ayah, menyuruh mu pergi karena ayah tidak sayang pada Elina, Justru karena ayah sayang pada Elina makanya ayah tidak ingin Elina menjadi istri yang durhaka" Dengan sabar Eddy mengelus punggung Elina lalu mengecup pucuk kepala Elina hingga beberapa detik kemudian suara tangis Elina berhenti.
Eddy sendiri sebenarnya tidak rela jika putri semata wayang nya harus pergi, ada perasaan pilu yang menggerogoti hati nya sampai tak terasa air mata Eddy jatuh ke atas pucuk kepala Elina, dengan cepat Eddy mengusap ujung mata nya agar tidak ada yang melihat nya.
"Hmm.. Bagus ya, peluk pelukan di sini, ngak ngajak bunda" ucap bunda Elina sembari menghampiri mereka berdua.
Sontak kedua insan yang tadi nya sedang berpelukan kini mengalihkan asistensi pada Bunda Elina yang berdiri tak jauh dari mereka. "Sini Bun" kata Elina sembari merentang kan tangan nya menyambut pelukan hangat bunda nya.
Sang bunda memeluk Elina begitu erat dengan perasaan pilu dan kesedihan yang dia tahan sejak tadi. "Bun, Elina ngak bisa nafas" keluh Elina dan seketika Bunda Elina mengurai pelukan nya.
Dan dari balik jendela ternyata sedari tadi Elang melihat keluarga yang sangat harmonis dan sangat sederhana, membuat Elang tersenyum miris, mengingat kehidupan nya yang bergelimang kan harta namun tidak perna ada kebahagiaan di rumah mewah tersebut.
.
__ADS_1
.
.
Setelah beberapa menit akhirnya Elang keluar menemui Revan dan mertua nya serta Elina yang sudah bersiap ikut bersama mereka ke kota. Revan terlihat sedang memasukan barang barang Elina ke dalam bagasi mobil beserta barang Elang.
Sedangkan Elina sedang menangis di pelukan sang bunda karena tidak ingin pergi meninggalkan orang tua nya. "Bun, Elina ngak mau pergi, Elina mau di sini saja bareng ayah bunda" rengek Elina dengan manja di pelukan sang bunda sembari terisak.
Bunda Elina mengelus rambut panjang putri manja nya dengan mata yang terlihat berkaca kaca menahan tangis agas Elina mau pergi. "Nanti bunda dan ayah bakal sering ke rumah kamu kok Nak" kata sang bunda membuat Elina cukup tenang dan berharap orang tua nya selalu datang mengunjungi nya.
Sementara itu di sisi lain, terlihat Elang dan Eddy yang sedang mengobrol, lebih tepat nya Eddy lah yang memberikan nasehat pada menantu nya mengingat Elina akan benar benar pergi bersama Elang.
"Ayah nitip Elina, Nak Elang. Tolong jaga dan sayangi dia, Elina adalah harta berharga bagi ayah, tolong jangan sakitin dia, Nak" ucapan serta tatapan sendu terlihat jelas di wajah pria paruh baya itu, mata Eddy memerah menahan bulir air mata yang akan keluar dari pelupuk mata melihat putri nya yang sedang menangis terisak.
__ADS_1
Elang yang melihat keluarga kecil itu saling menyayangi, seketika merasa terharu sekaligus miris mengingat kehidupan nya yang berantakan. "Saya tidak bisa berjanji akan melakukan apa yang seperti ayah mau, tapi saya berjanji akan selalu menjaga Elina dan berusaha membuat Elina nyaman bersama saya" ucap Elang begitu mantap membuat hati Eddy sedikit lega.