Diary Bunda

Diary Bunda
Pindah Kerja


__ADS_3

*23 November 20xx


Dear Diary,


Sudah lama aku tidak menulis kisah ku, sudah beberapa hari ini aku sungguh sangat sibuk berupaya untuk mencari pekerjaan baru, para malaikat diperut sudah mulai bergerak aktif.


Hal yang paling membahagiakan adalah saat mereka menendang saat aku mengelus perut ku.


Semoga mereka menjadi anak yang Sholeh dan Sholehah walaupun aku belum tau jenis kelamin mereka apa.


Diary,


Kini aku sudah berhasil mendapatkan pekerjaan baru, desain pakaian yang aku buat diterima oleh salah satu butik, aku sungguh sangat bersyukur akan hal itu.


Semoga pekerjaan kali ini berkah dan bermanfaat.


Aku juga berharap semua akan baik - baik saja*.


Bunda yang belum pulang juga menjadi kesempatan bagi Arya dan Zahra membaca lebih dari selembar kertas Diary Bunda.


"Bang, apa abang udah tau siapa ayah kita?" tanya Zahra penuh selidik.


"kalau sudah kenapa?, kalau belum kenapa?"


"kalau sudah aku ingin menemui ayah kak, aku ingin tau kenapa dia meninggalkan kita dan Bunda"


"apa menurut mu kita akan diakui?....sedangkan saat Ayah meninggalkan Bunda, Ayah tidak tau kalau kita ada diperut Bunda."


Mendengarkan penjelasan dari Arya membuat Zahra termenung, karena menurutnya sangat masuk akal penjelasan dari Abangnya.


"tapi kan suatu saat aku akan menikah Bang dan mau tidak mau Ayah yang harus menjadi wali kan?"

__ADS_1


"itu masih lama sayang ku" ucap Arya sambil mencubit kedua pipi Zahra yang chuby menggemaskan.


"kalau menurut Abang, kita harus jadi orang yang sukses, agar orang - orang kenal sama kita dan pada akhirnya pasti Ayah akan melihat kita entah darimana."


"aku setuju banget dengan ide Abang, aku akan jadi orang yang sukses."


"kita beres - beres rumah aja yu bang, sebelum Bunda pulang, aku juga akan siapin makanan."


.


.


.


Keluarga Ahmad


"Ahmad, umur kamu kan sudah cukup buat menikah lagi." pembicaraan yang terjadi saat sarapan, sukses membuat nafsu makan Ahmad turun.


"terus kenapa kamu tidak bawa dia dan memperkenalkannya dengan kami" tanya ayah Ustad Ahmad.


"masalahnya dia sangat sulit untuk didekati ma, pa. Dia wanita yang sangat mandiri atau mungkin dia masih trauma dengan sebuah hubungan...kalau kata anaknya Bunda mereka tidak pernah mau jika ada yang mengajak hubungan serius"


"kamu menyerah gitu aja?"


"pengennya sih enggak pah, soalnya dia pantas buat diperjuangin....tapi kan sekarang dia tinggal di Malang, sedangkan Ahmad harus mengurus perusahaan Ahmad yang ada disini"


"tapi nanti Arya juga akan ke Jakarta buat kuliah dan kerja." jelas Ahmad.


"Arya?" tanya orang tua Ahmad dengan kompak.


"Anak dari wanita yang aku suka yah, dia akan mengelolah salah satu perusahaan dibidang Fashion"

__ADS_1


"wah wanita itu menjadi wanita yang sukses dalam mendidik anaknya yah" kata mama Ahmad.


"pasti ma"


Pembicaraan berakhir karena satu keluarga tersebut harus memulai aktifitas harian mereka di hari ini.


.


.


.


Ahmad yang telah tiba di kantor memilih melakukan Video Call dengan Arya.


"Assalamualaikum Arya"


"Waalaikumsalam Ustad"


"apa Ustad mengganggu?"


"gak ko, Ustadz kebetulan ini lagi beres - beres rumah sama mau masak bareng Zahra"


" kapan rencananya kamu mulai masuk keluah?"


"masih sekitar 2 minggu lagi Ustad"


"nanti kabarin ustad yah, nanti kita ketemuan"


"baik Ustad, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"

__ADS_1


Video pun terputus membuat Ahmad termenung, entah kenapa dirinya sangat gugup saat ingin bertanya tentang Sadiya, yang akhirnya hanya terjadi percakapan biasa.


__ADS_2