Diary Bunda

Diary Bunda
Lembaran Pertama


__ADS_3

Sabtu pagi yang cerah membuat aku bersemangat. Bunda sudah berangkat kerja dan hari ini lembur karena ada acara fashion show dan bunda yang menjadi disignernya harus hadir. Karena dirumah sendiri aku memutaskan untuk melanjutkan membaca diary bunda.


*Surabaya, 18 April 20xx


Dear diary,


Entah sejak kapan aku ingin menuliskan kisah harian yang aku jalani, mungkin ini dari akibat kesendirian yang aku alami. Jujur aku tidak tau harus menjalani kehidupan kedepan seperti apa, rasanya ingin menyusul ayah dan ibu yang kini telah tenang disisi -Nya.


Diary, sudah hampir 2 minggu ini aku merasa tubuh ku lebih cepat lelah, ingin rasanya berhenti bekerja tapi bagaimana aku bisa bertahan bila tidak bekerja.


Andai dia yang terkasih tidak meninggalkan ku seorang diri mungkin aku tidak akan tersiksa seperti ini, tapi keputusaanya untuk tidak memilihku akan ku hargai.


Diary, aku bekerja sebagai pelayan di cafe, terkadang timbul rasa iri melihat sepasang kekasih yang sedang bersenda gurau, ingin sekali aku mengulang masa pacaran seperti dulu, tapi takdir tidak mengijinkan ku.


Aku masih bersyukur setidaknya aku masih hidup walau sendiri dan selalu merasa kesepian seperti malam ini, hanya dirimu diary yang menjadi teman cerita.


Diary, teman di Tropical cafe semuanya sangat baik, mereka mau berteman dengan ku, aku sangat bersyukur akan hal itu, pemilik cafe Bu Bertha awalnya menerima ku karena merasa kasihan dengan kisah hidup ku, bahkan setelah dia mendengar cerita ku, ia menginginkan aku untuk menjadi anaknya, tapi aku menolak karena tidak enak, cukup bagiku dirinya menerima ku untuk bekerja sebagai palayannya.


Besok aku mau ke dokter sepulang kerja untuk memeriksa badan ku, semoga semua baik - baik saja*.


.

__ADS_1


.


.


Setelah membaca lembar pertama pertama dari diary bunda aku penasaran siapakah yang di maksud dengan 'dia yang terkasih' apakah itu ayah ku? atau hanya kekasih bunda?


Jujur sampe sekarang aku tidak pernah tau siapa ayah ku, setiap aku dan abang bertanya soal ayah, wajah bunda selalu menjadi sedih, karena hal itu baik aku maupun abang tidak pernah bertanya soal ayah karena takut membuat bunda sedih.


Hari sudah siang, karena bosan lebih baik aku membersihkan rumah juga mencuci pakaian untuk mengurangi beban bunda, aku juga akan masak agar nanti malam bunda tinggal makan tampa harus memasak atau membeli makanan.


*kringgg...


kringgg*...


"Sudah bunda, bunda jangan lupa makan siang yah jangan sampe kecapean"


"Mau bunda bawakan sesuatu nanti?"


"Tidak usah bunda, kebetulan aku masak tadi bun"


"Wah anak bunda hebat, baik - baik dirumah yah, jangan ijinkan orang asing masuk rumah, jangan lupa periksa kompor"

__ADS_1


"Baik ibunda....Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Itulah bunda ku, sesibuk apapun dirinya, bunda selalu sempat menelfon untuk mengetahui keadaan anak - anaknya, bahkan abang pun yang kini ada di pondok pesantren tidak luput juga dari perhatian bunda.


Karena tidak tau mau melakukan apa, aku memilih untuk menghubungi abang Arya.


"Assalamualaikum bang Arya, Zahrra mengganggu tidak?"


"Walaikumsalam adik abang, ada apa tumben nelfon? Semua baik - baik aja kan?"


"Alhamdulillah baik ko bang, bang bisa cari tau tentang ayah gak?"


"Maksud kamu? Kenapa mendadak ingin cari tau tentang ayah? apa kamu tau sesuatu?"


"Tadi Zahra gak sengaja baca diary bunda, ternyata bunda pernah tinggal di Surabaya dan bekerja di Tropical Cafe milik bu Bertha. Aku tau walaupun abang ada di pondok, tapi abang pasti bisa mendapat kan informasi apapun"


"Iya abang juga tau kalau kamu juara satu lomba cerdas cermat minggu lalu.....Yah udah nanti abang coba cari tau, kalau kamu tau sesuatu kamu hubungin abang lagi aja yah....Assalamualaikum adikku tersayang"


"Waalaikumsalam abang yang nyebelin"

__ADS_1


Aku heran darimana abang dapat mendapatkan informasi tentang aku, padahal bunda aja belum aku kasih tau.


__ADS_2