
Aku tidak pernah berfikir bahwa akan melahirkan anak - anak yang sangat cerdas seperti Zahra dan Arya, dulu aku hanya mengharapkan mereka tidak akan kekurangan apapun dan selalu bahagia, tapi ternyata mereka yang selalu membahagiakan diriku. batin Bunda sambil terus menatap Arya yang kini sibuk merapikan barang - barangnya.
"Bang, ada yang dibantu sama Bunda gak?" tanya Bunda sambil berjalan memasuki kamar sang anak lalu mendudukan diri di pinggiran kasur.
"gak usah Bun, aku bisa nyiapin sendiri." dengan memberikan senyum manis.
"kamu yakin Bang, mau langsung kuliah, gak mau main - main dulu gitu? Jangan terlalu memaksakan diri Bang."
"Bunda mah aneh...Orang tua lain mah ingin banget anaknya kayak aku yang sekolah cuman sebentar terus cepat kuliah lalu bekerja." Ucap Arya sambil menunjukan wajah herannya.
"Bunda itu cuman takut kamu tertekan sayang, yang Bunda inginkan kamu bahagia melewati semuanya setahap demi setahap." jelas Bunda sambil mengusap kepala anaknya.
"huft....Bundaku sayang, kebagian Arya itu kalau Bunda dan Zahra bahagia, justru Abang saat ini sudah ngincar biar bisa dapat akselerasi biar cepat lulus dan lanjut ke S2 Bun."
__ADS_1
Bunda hanya bisa pasrah mendengar rencana Arya dirinya hanya dapat mendoakan agar putra kesayangannya ini selalu bahagia.
"kalau sudah selesai kamu turun yah, Bunda ingin kita makan malam diluar malam ini."
.
.
Makan malam kali ini, memilih makanan di pusat kuliner stasiun yang berlokasi tidak jauh dari alun - alun. Banyak menu pilihan makanan enak dan ramah di kantong.
"kamu cari tempat, biar Bunda cari makanannya dulu." atur Bunda.
Setelah memilih menu dan mendapatkan meja dengan view yang sesuai jangan lupakan iringan musik dari seniman jalanan.
__ADS_1
"Bun, Ustad Ahmad yang waktu itu ikut ke tempat lomba Zahra, katanya tertarik sama Bunda." entah kenapa Arya mendadak membahas hal itu. Yang jelas dirinya hanya ingin Bundanya tidak sendiri.
"maksud kamu apa sih Bang? mana mungkin Ustad itu tertarik sama Bunda, kamu salah kali." elak Bunda.
"aku serius Bun, Ustad Ahmad sendiri yang meminta ijin agar dapat mendekati Bunda untuk dijadikan pendamping hidupnya".
"kalau aku sih gak masalah punya Ayah baru, asalkan dia bisa membahagiin Bunda juga sayang sam aku dan Bang Arya." sambung Zahra yang dari awal hanya sibuk memperhatikan pembicaraan sambil menikmati jus alpukat.
Bunda pun bingung mau merespon bagaimana."Kalau emang jodoh nanti pasti disatuin ko, yang jelas untuk saat ini Bunda belum memikirkan untuk memiliki ayah baru buat kalian" jelas Bunda pada akhirnya.
"tapi masa Bunda kalah sama Ayah kandung kita, mungkin aja dia saat ini udah bahagia sama istri barunya itu dan melupakan Bunda." kata Zahra.
"Zahra sayang anak Bunda, perlu Bunda ingetin yah pernikahan itu bukan ajang lomba sayang, tapi pernikahan itu untuk kenyamanan hati dan kenyamanan kita dalam menghabiskan waktu bersama , mungkin aja ayah kandung kalian memang sudah nyaman dengan istri barunya itu, sedangkan Bunda sudah nyaman sendiri." sambil memberikan senyum manis kepada Zahra dan Arya.
__ADS_1
Tidak lama setelah makanan sampai mereka pun menikmati makanan dalam keadaan sibuk dengan pikiran mereka masing - masing.
Dan Arya makin ingin membuat sang Ayah menyesal karena telah meninggalkan Bunda mereka apapun alasannya.