Diary Bunda

Diary Bunda
Bertemu Wanita "itu"


__ADS_3

Hari ini Arya memutuskan untuk ke Jakarta mengunakan travel, dirinya akan berusaha untuk beradaptasi dan mempersiapkan semuanya agar nanti saat Bunda dan Zahra pindah semuanya sudah tersedia.


Saat ini dirinya sibuk membuka slide foto yang ada di dalam galeri, beberapa berisi foto liburan nya selama ini. Di slide berikutnya dirinya menemukan foto lembaran dan akhirnya membacanya beraharap dapat menemukan petunjuk.


25 November 20xx


Dear Diary,


Hari ini merupakan hari yang sangat melelahkan, bukan lelah fisik tapi lelah hati.


Hari ini hari kedua aku bekerja di butik dan aku bersyukur karena pemilik butik tertarik dengan desain pakaian yang aku rancang, bahkan hari ini dia memperkenalkan diriku kepada salah satu konsumen tetap dibutiknya.


Pelanggan ini ingin memesan gaun pernikahan spesial yang belum pernah ada dan aku pun yakin bahwa aku akan sanggup untuk mewujudkan gaun pernikahan impian wanita tersebut.


Ternyata wanita yang menemui ku untuk dibuatkan pakaian pengantin adalah wanita yang kini sangat dekat dengan pria yang kucintai. Dia bercerita betapa mereka saling mencintai walaupun dirinya mengaku bahwa mereka dijodohkan.


Sesak rasanya dada ini melihat betapa bahagia dirinya akan menikahi pria yang telah memberikan aku dua malaikat yang kini ada dirahimku.


Sungguh aku ingin mundur rasanya, tidak akan sanggup hati ini melihat "dia" bahagia dengan wanita lain.


Bahkan aku sempat melihat mereka bergandengan tangan mesra saat akan menuju kemobil setelah pertemuan kita selesai.


Sheila Tania nama wanita yang akan selalu kuingat karena kini dirinya yang ada di sisi


dirinya.


.


.

__ADS_1


.


Arya menjadi tau siapa wanita kini yang berada disisi Ayah kandungannya. Dirinya sempat memfoto beberapa lembar bagian dari buku harian Bunda sebelum pergi menuju kota Depok.


Hihihihi.....dengan begini aku akan melacak keberadaan dirimu ayah yang tidak tau diri. bathin Arya


Walaupun dirinya tidak pernah diajari untuk membenci orang tua, namun melihat perjuangan Bunda dan sedihnya Bunda saat membahas soal ayah membuat Arya jadi tidak menyukai ayah kandunganya.


.


.


.


Zahra yang kini telah kelas Xll masih menikmati masa - masa belajar bersama teman - temannya terkadang dirinya akan pengajar sukarelawan di beberapa daerah yang memerlukan bantuan.


"Zahra, akhir pekan ini kita kedesa kelurahan kotalama yah." pinta Aidan, salah satu tim pengajar sukarelawan.


"berapa orang yang ikut? kalau bisa kita ajak adik kelas, jadi saat nanti kita sibuk menyiapkan ujian pembelajaran sukarelawan akan terus berlanjut." jelas Zahra.


"kali ini ada 7 orang. Wah ide kamu bagus...kalau gitu aku akan bikin pengumuman di mading aja, lagian ini masih hari selasa jadi masih banyak waktu untuk mencari pengikut." ucap Aidan yang langsung melarikan diri untuk membuat pengumuman di mading sekolah.


.


.


.


Bunda Sadiya saat ini sibuk dengan kertas dan pensilnya membuat desain pakaian, dirinya sudah merencanakan suatu saat akan ikut anaknya yang akan kuliah di Jakarta sedangkan rumah yang kini mereka tempati akan dirinya sewakan saja. Dirinya berharap tabungan yang telah dikumpulkan akan cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka dan dirinya akan mencari pekerjaan lagi aja dikota tersebut.

__ADS_1


tok....


tok....


tok...


"permisi bu Anggit, apa saya mengganggu?" tanya Sadiya dengan sopan.


"masuk saja Diya kamua tidak mengganggu ko." sambil memperhatikan lawan bicaranya yang kini telah duduk di depannya.


"saya hanya ingin memberi tau, ada kamugkinan saya nanti akan pindah ke Jakarta bu, saat Zahra akan kuliah, walaupun masih lama saya harap ibu akan dapat menemukan pengganti saya, agar ibu tidak kesusahan nantinya atau mungkin saya masih bisa bekerja jarak jauh sama ibu." jelas Diya.


"yah sayang sekali kali kalau kamu pindah, kenapa kamu tidak menetap disini aja dan biarkan Zahra kost saja disana."


"saya agak khawatir dengan pergaulan Zahra kalau dilepas bu, untuk beberapa pelanggan yang memang sudah biasa dengan desain saya nanti ibu kabarin saya saja agar saya tetap bisa mengirimkan desain saya ke ibu."


"baik lah kalau itu sudah keputusan kamu, saya hargai keputusan kamu dan terimakasih karena telah memberi tau saya diawal."


Setelah berbicara denga pemilik butik Sadiya tampak lebih tenang, sekarang tinggal mempersiapkan tabungannya.




Tolong terus dukung Bunda Sadiya yah semua, vote...like....dan hadiah nya juga tolong di share


Terimakasih.


__ADS_1


Salam dari Bunda Sadiya untuk semua wanita hebat diluar sana.


__ADS_2