
Hari ini merupakan hari yang paling menegangkan bagi Zahra dan teman temannya yang akan mengikuti lomba cerdas cermat tingkat kota.
"Assalamualaikum Bunda, Bunda hari ini jadi nonton Zahra lomba kan?"
"Bunda akan usahain buat nonton ko, kelompok kamu kira- kira tampil jam berapa?"
"Jam 10 Bun.... Aku udah disuruh kumpul yah Bun, Assalamualaikum Bunda"
"Waalaikumsalam"
Setelah selesai menerima telfon, Bunda melanjutkan membereskan rumah dan mempersiapkan hasil rancangan pakaian yang akan di bawa ke butik sebelum memutuskan untuk melihat lomba.
"Bu, hari ini saya izin buat liat Zahra lomba yah bu" ijin Bunda kepada pemilik butik.
"Yah sudah, kamu hati - hati yah di jalan dan saya doa kan semoga sukses buat Zahra"
"Makasih bu"
Setelah menempuh 30 menit perjalanan Bunda pun tiba di lokasi perlombaan dan langsung memilih untuk memasuki ruangan utama.
Masih ada 15 menit lagi sebelum tim dari perwakilan sekolah Zahra tampil, melihat semangat anak - anak menjawab pertanyaan dari panitia membuat Bunda tersenyum, ada rasa kangen ingin kembali kemasa sekolah rasanya.
" Assalamualaikum Bunda" tepukan dipundak menyadarkan Bunda dari lamunanya.
"Wa'alaikumsalam....Bang Arya ko bisa ada disini? Bukannya kamu masih belum boleh libur yah?" tanya Bunda dengan wajah terkejutnya.
Putra nya yang seharusnya sedang di pondok pesantren kini sedang duduk disampingnya.
__ADS_1
"Abang kabur yah dari pondok? kamu udah gak betah sayang?" pertanyaan Bunda yang beruntun membuat Arya tersenyum lembut.
"Gak ko Bun, aku izin...ini perkenalkan ustad aku bun, dia yang ngizinin aku dan nemenin aku kesini" jelas Arya sambil mengelus tangan bunda yang ada di genggamannya.
"Assalamualaikum Bu, saya Ahmad salah satu ustad senior Arya, jadi ibu gak perlu kuatir Arya kabur, lagian Arya anak yang baik ko" ucap Ahmad sambil tersenyum.
"Waalaikumsalam ustad, maaf saya tidak melihat ustad sebelumnya" jawabnya sambil sedikit membukukan badan.
Setelah sedikit bercakap cakap, akhirnya tim dari sekolah Zahra memasuki panggung untuk memulai perlombaan.
"Bunda tau gak, kalau Zahra sangat mengharapkan menang dalam lomba cerdas cermat agar dapat mewakili kota kita untuk lomba di Jakarta dan hadiahnya beasiswa di Universitas Indonesia" jelas Arya dengan pandangan fokus ke depan, memperhatikan sang adik yang serius menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan.
Bunda sempat terkejut mendengar pernyataan yang di lontarkan oleh Arya.
"InsyaAllah Bunda masih sanggup ko bang buat kuliahin kamu sama adik" sambil tersenyum manis.
"Ustad yang di sebelah aku single loh Bun, mungkin Bunda ingin ngasih....auuu.. ampun Bunda maaf" belum sempat Arya melanjutkan perkataannya cubitan bunda sudah mendarat di perutnya, walaupun tidak sakit.
"Jangan coba - coba yah Arya" sambil memberikan tatapan tajam.
Ustad yang memperhatikan interaksi ibu dan anak entah mengapa merasa hangat dihatinya, apalagi saat melihat tatapan tajam yang justru malah menambahkan kesan menggemaskan di wajah wanita yang telah memiliki anak dua tersebut.
.
.
.
__ADS_1
Zahra Pov
Saat aku memasuki panggung dan menatap para penonton, aku melihat Bunda dan juga bang Arya yang duduk disebelah Bunda. Rasa gugup yang awalnya datang kini telah sirna entah kemana, semangat untuk memenangkan perlombaan dan membuat keluarga ku bangga itulah tujuan ku sekarang.
"Ayo teman - teman kita harus kerjasama agar dapat memenangkan perlombaan ini dan terpilih untuk ke Jakarta" ucap Zahra kepada teman - temannya.
Aku yakin doa Bunda dan abang Arya akan menjadi kekuatan ku.
"Bundaaaa......Aku berhasil tinggal final setelah ini Bunda" teriakan Zahra saat diberikan waktu istirahat sebelum menuju final.
"Alhamdulillah sayang, Bunda bangga sama kamu" sambil menyambut anak bungsunya kedalam pelukannya.
"Kamu gak malu apa sudah besar masih aja kayak anak kecil, tuh dialiatin sama orang - orang kamu lari - lari sambil teriak" ucap Arya.
"Bilang aja Abang iri"
Akhirnya aku mengajak Bunda dan bang Arya keruang buat istirahat peserta, karena banyak peserta yang telah gugur jadi ruangan tersebut dapat di jadikan ruangan temu buat keluarga peserta yang datang.
Saat sedang mengobrol dengan Bunda, seorang pria dewasa dengan baju koko dan kopeahnya datang dengan membawa banyak bungkusan.
"Ini tadi saya sempat pesan makanan buat kita semua" ucap pria tersebut.
"Itu siapa bang?" bisik Zahra ditelinga Arya.
"Salah satu ustad Abang" jawab Arya.
"Makasih Ustad, tau aja kalau kita lagi lapar yah teman - teman" ucapku.
__ADS_1
Akhirnya aku memutuskan untuk menikmati makan siang, sebelum menghadapi babak final.