Diary Bunda

Diary Bunda
Orang Tua?


__ADS_3

*21 Januari 20XX


Dear diary,


Tidak terasa hari berlalu begitu cepat, *kini aku telah memiliki 2 malaikat yang akan selalu menjadi teman hidup dan semangat ku.


Melahirkan tanpa didampingi ayahnya anak - anak sungguh sangat menyedihkan setidaknya para tetangga yang berbaik hati masih juga pemilik tempat ku bekerja masih peduli untuk menemani.


Selamat datang Azzahra Jannah dan Arya Dzaki Pratama. Bunda berharap dapat membahagiakan kalian selalu*.


.


.


.


"Apa seberat itu beban yang Bunda tanggung demi bertahan hidup? Kenapa Bunda tidak mempertahankan ayah? Kenapa Bunda memilih melepaskan Ayah?" masih banyak lagi pertanyaan yang sangat ingin Zahra tanya kan kepada Bundanya, namun bila itu hanya membuat Bunda sedih dirinya memilih untu mengurungkan niatnya.


"Assalamualaikum Bang....." ucap Zahra saat melakukan panggilan telepon dengan sang Abang.


"Waalaikumsalam....kenapa dek?"


"Abang lagi ngapain? Zahra kangen sama Abang"


"Lagi di kantor Kakek nih..."


"Kakek siapa Bang?" tanya Zahra dengan rasa penasaran.


"Orang tua Bunda, ceritanya panjang deh, nanti Abang ceritain dengan lengkap"

__ADS_1


"Ok Bang. Jangan lupa sholat sama makannya yah.... Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam adik Abang yang cantik"


Yang aku inginkan Bunda itu bahagia, punya tempat untuk cerita. Kenapa Bunda malah memilih untuk hidup sendiri?


Duh dari para uring - uringan gak jelas mendingan bikin kue aja.


Zahra pun memilih kaluar dari kamar Bunda dan mulai menuju dapur.


.


.


.


Zahra selalu merasa galau setiap kali membaca lembaran diary Bundanya dan Arya sangat tau akan hal itu, walaupun adiknya tidak memberi tau apa yang dibacanya.


"Tentu saja kami ingin bertemu, tapi...apa mungkin Bunda kamu akan menerima kami lagi?" ucap sang nenek dengan sendunya.


"Bunda pasti mengerti Nek, asalkan nenek menjelaskan tentang masalah yang sebenarnya" jelas Arya dengan yakin.


"Kalau tidak minimal Kakek bertemu dengan Zahra terlebih dahulu, dirinya pasti senang kalau tau masih memiliki Kakek dan Nenek" lanjut Arya.


"Ide bagus, akhir Minggu nanti kami akan kesana untuk menemui Zahra dulu" jawab kakek dengan penuh semangat.


Selesai makan siang Arya memutuskan kembali ke kampusnya. Sedangkan urusan perusahaan akan dikerjakan jarak jauh.


.

__ADS_1


.


.


"Assalamualaikum" Ucap Bunda sambil membuka pintu rumah.


"Waalaikumsalam Bunda" jawab Zahra sambil membawa kue bolu kukus yang telah jadi.


"Tumben sekali anak gadis Bunda bikin kue" sambil memperhatikan kue yang telah dihias dengan cantik.


"Aku tadi liat di YouTube Bun, jadi aja iseng pengen gak nyangka kalau berhasil. Ayo Bun kita coba, sekalian aku bikinin teh manis hangat untuk Bunda" jawab Zahra sambil mengajak Bunda untuk duduk.


"Bunda mandi dulu yah"


Setelah selesai membersihkan diri, Bunda dan Zahra pun menghabiskan waktu malam dengan saling menceritakan kegiatan harian mereka masing - masing.


"Bun, kata Abang dia lagi ada di kantor Kakek" cerita Zahra sambil menikmati kue.


"Kakek siapa?" tanya Bunda penasaran.


"Kata Abang Arya kakek dari orang tua Bunda"


deg...


"aku masih punya orang tua?" batin Bunda.


"Kamu serius Zahra?" tanya Bunda.


"Aku serius Bunda, kalah Bunda tidak percaya coba saja telefon Abang"

__ADS_1


"Ini sudah malam, mungkin besok Bunda hubungi Abang kamu dan lebih baik kamu tidur sekarang sayang" jawab Bunda saat melihat waktu yang sudah menunjukan pukul 22.30.


Apa benar aku masih memiliki orang tua? Lalu kemana mereka selama ini? Kenapa aku bisa sampai tinggal di panti asuhan? dan kenapa mereka tidak datang mengunjungi ku disaat mereka telah bertemu dengan cucu mereka. pikir Bunda yang saat ini tengah berbaring di tempat tidur.


__ADS_2