
"Pagi bunda" sapa Zahra sambil menarik kursi untuk memulai sarapan bersama.
"Pagi juga sayang, maaf'in bunda yah, sudah beberapa hari ini bunda sibuk dan kamu juga kayaknya lagi sibuk yah" jelas bunda, karena sudah beberapa hari ini mereka berdua tidak memiliki waktu untuk menghabiskan waktu bersama.
"Aku juga minta maaf sama bunda karena kurang waktu untuk bantu - bantu bunda....bunda minggu depan aku ada acara lomba cerdas cermat tingkat kota" sambil memulai sarapan paginya.
Mendengar penjelasan anaknya, sempat membuat bunda tertegun, dirinya merasa jadi bunda yang gagal karena tidak mengetahui apapun.
"Kamu ikut lomba cerdas cermat? Sukses yah sayang, nanti bunda akan datang untuk melihat kamu lomba" ucap bunda sambil tersenyum.
Selesai sarapan bunda dan Zahra pergi untuk melakukan aktifitas mereka masing - masing.
.
.
.
__ADS_1
Karena aku akan ikut lomba, pihak sekolah memberi izin untuk diriku tidak mengikuti pembelajaran didalam kelas agar aku bisa fokus belajar untuk lomba cerdas cermat.
Setelah selesai belajar bersama di perpus dengan tim yang akan mengikuti lomba, aku memutuskan untuk kembali pulang karena saat ini aku ingin masih mencari tau tentang masa lalu bunda dan juga ayah.
Setibanya dirumah hanya kesunyian yang menyambut, tapi itu tidak masalah bagiku.
Selesai membersihkan rumah dan memasak Zahra mulai masuk kekamar bunda, membaca diary bunda nya di lembar ketiga.
Aku memilih untuk duduk di kasur bunda dan mulai membaca lembar ketiga.
*Surabaya, 20 April 20xx
Hari ini aku mengalami morning sickness yang pertama kali, sungguh ini sangat lelah tapi aku harus kuat untuk anak yang kini ada dirahimku. Dirasa sudah cukup kuat aku memaksakan diri untuk pergi bekerja.
Semua berjalan lancar di tempat kerja, bu Bertha yang pun yang mengetahui keadaan ku mengizinkan ku untuk bekerja di bagian kasir agar aku tidak merasa lelah dan seluruh teman yang bekerja di cafe juga mendukung aku, agar aku bisa semangat.
Diary, hari ini juga aku sempat belanja untuk membeli susu hamil pertama, entah mengapa aku sangat antusias dengan kehamilan ku ini, sudah tidak sabar menunggu kelahirannya.
__ADS_1
Sore sebelum pulang, aku memutuskan untuk ketempat 'dia' berharap bisa bertemu dan aku akan memberi taunya bahwa sekarang aku telah mengandung anaknya. Aku harap dirinya akan senang. Tapi ternyata aku keliru, saat aku kerumahnya aku melihat dirinya dengan seorang wanita, wanita yang sama saat di cafe, dan mereka sedang bermesraan, bahkan tangan yang dulu mengelus diriku kini malah membelai wanita lain.
Tampa izin dariku air mata ini mengalir dengan sendirinya rasa rindu yang tadi aku rasa sirna entah kemana.
Mengelus perut yang masih rata, hanya itu yang bisa aku lakukan kalau aku tidak sadar bahwa ada anak didalam perut ini, mungkin sekarang aku sudah akan pingsan.
Tak kuat berlama lama aku, memilih untuk pulang. Sungguh ini membuat dada ku sesak, sulit sekali untuk bernafas saat ini.
Diary, mungkin sudah waktunya aku untuk pindah kota, untuk pergi melepas rasa sakit ini dan mencari kebahagiaan ku sendiri dengan suasana baru.
.
.
Membaca kisah bunda kali aku meneteskan air mata, apalagi melihat beberapa tulisan yang pudar, aku mengetahui bahwa bunda menulis diary kali ini sambil menangis. Aku sebagai perempuan sangat merasakan sakitnya hati bunda dan aku berjanji akan membahagiakan bunda ku.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote