
Bunda yang saat ini sedang mengintip dari balik pintu kamarnya, memperhatikan putri bungsunya Azzahra yang saat ini sedang membaca buku diary miliknya dengan serius.
Sudah sejak lama dirinya mengetahui bahwa kedua anaknya sering membaca buku diary yang dirinya punya untuk mencari tau tentang ayah mereka.
Bukan tidak ingin menceritakan secara langsung, hanya saja menceritakan yang sudah lalu hanya akan membuka luka lama yang masih belum sembuh sempurna walaupun hal tersebut telah berlalu sangat lama.
Jadi biarlah kedua anaknya mencari tau lewat tulisan - tulisan yang ada.
*28 Desember 20xx
Dear Diary,
Hari ini merupakan hari pernikahan "dia" dengan wanita tersebut.
Dengan seluruh kekuatan hati, aku memilih hadir dalam acara tersebut, lagi pula aku juga memiliki undangan.
Hancur hati ini, sungguh benar - benar hancur saat mendengar kata SAH yang dilontarkan oleh seluruh tamu yang hadir.
Sempat terpikir ingin membatalkan pernikahan yang berlangsung tadi, namun akan egois bila aku melakukan hal tersebut.
Hanya air mata yang tidak berhenti mengalir mewakili rasa sakit hati ini.
__ADS_1
Diary,
Mata kami sempat bertemu dan terlihat jelas wajah terkejut yang juga menunjukan rasa bersalah yang besar, namun hanya senyum yang dapat aku berikan kepadanya.
Bahkan dirinya menghampiri diriku dan memelukku dengan erat setelah sempat membawa aku pergi ke sisi lain gedung yang cukup sepi.
Hanya kata maaf yang terucap dari bibirnya.
Apalagi dirinya sempat terkejut saat mengetahui aku hamil anaknya.
Dan aku berjanji takan minta pertanggung jawaban dari dirinya.
Diary,
Tangisanya membuat hati ini sesak, aku tidak suka melihat orang yang ku cintai bersimpuh dengan air mata yang mengalir. Aku meyakinkannya kalau semua akan baik - baik saja.
Setelah lelah aku menyuruhnya untuk kembali kedalam acaranya, agar tidak ada yang mencurigainya dan aku memintanya agar bahagia bersama pasangannya.
Hal yang palinga membuat ku bahagia adalah dirinya yang mengelus perut ku dan mengecupnya, walaupun aku mengetahui ini semua dilakukannya untuk yang pertama kali dan yang terakhir kalinya*.
Bunda memilih pergi setelah melihat bahu anaknya bergetar menandakan kalau saat ini Zahra sedang menangis, entah bagian mana yang sampai membuat anaknya menangis.
__ADS_1
.
.
.
Ahmad yang saat ini telah mengetahui bahwa Arya telah sampai didaerah Depok pun memilih untuk menghubunginya lebih dulu dan memintanya untuk datang ke salah satu cafe yang tidak terlalu jauh dari perusahaannya.
"kenapa tidak langsung menghubungi saya?" tanya Ahmad.
"saya sempat sibuk ustad, banyak hal yang harus saya siapkan untuk menjadi mahasiswa baru." jelas Arya sambil menikmati es kopi capuccino favorit nya.
"saya akan ke Malang untuk urusan pekerjaan. Saya ingin meminta ijin ke kamu ngajak makan Bunda kamu." ijin Ahmad pada Arya.
"khuk..khuk...khuk.."Arya tersedak oleh kue yang baru masuk kedalam mulutnya.
"kamu kalau makan hati - hati." Ahmad sibuk menepuk punggung Arya.
"jadi Ustad serius ingin mendekati Bunda? Ustad yakin?" tanya Arya dengan menunjukan wajah yang tidak yakin akan keputusan yang diambil oleh Ustad nya.
"saya serius Arya, saya tidak akan main - main dengan perasaan." tegas Ahmad.
__ADS_1
"Hufth....yah sudah, kalau gitu saya ucapkan selamat berjuang untuk mendapatkan hati dari Bunda saya." ucap Arya sambil mengulurkan tangan mengajak berjabat tangan.
Ahmad pun menyambut uluran tangan dari Arya, sekarang tugasnya berusaha untuk meyakinkan Sadiya tentang perasaannya.