
ch 10 (3 tahun yang lalu) part 10
Ekspresi bingung yang dari tadi Sarah alami kini terjawab. Ternyata mamanya panik karna takut informan yang dia suruh akan membocorkan kepada wartawan.
"Jika mama ingin bertemu dengannya. Dia akan datang ke pertunanganku bulan depan." ucap Sarah pada mamanya sambil menggenggam tangan mamanya.
Tidak ada balasan dari lawan bicara Sarah.
Nyonya Hani langsung berdiri dan berjalan keluar.
.
Pagi hari seperti biasanya ayam berkokok dengan suara khasnya berpadu asri dengan burung berkicau merdu.
Seorang gadis masih terlelap dengan berserakan buku dan laptop di sampingnya. Yap gadis itu adalah Amelia.
Akhir-akhir ini Amel seringkali begadang untuk mengerjakan skripsinya. Target yang telah disusunnya harus terjadi secara nyata. Bulan Desember haruslah menjadi bulan untuk wisudanya.
Amel di Universitas A adalah sebagai mahasiswa english class, jadi dapat dipastikan skripsi yang di susunnya haruslah menggunakan bahasa inggris.
Amelpun terbangun dengan posisi langsung duduk. Jam berapa ini batin Amel sambil menatap lembaran- lembaran yang berserakan di sekitarnya.
"Aku nanti jam 10 ada janjian konsultasi sama dosen" ucap Amel pelan sambil menata lembaran yang berserakan sampai lantai -lantai di kamarnya.
Amel bergegas mempersiapkan diri dengan model bangun tidur seadanya langsung berangkat ke kampus.
.
"Amel, kau baik-baik saja kan ?" tanya teman Amel yakni Lila dengan memegang kedua pipi Amel.
Yap kantung mata Amel bukan seperti panda lagi, bahkan sudah mirip seperti mata pocong dengan wajah yang pucat juga.
"Emmm Tenang aja" ucap Amel dan tak lupa tangannya menggambarkan jempol yang memberi isyarat dirinya baik- baik saja dan tak lupa sambil menyeruput es teh yang ada di hadapannya.
Siang hari yang terik dimana nyaman-nyamannya untuk merebahkan diri, gadis dengan mata pocong ini lebih memilih pergi ke suatu butik yang cukup besar dan terkenal di kota ini.
Fokus pandangan Amel pertama melihat harganya dulu baru melihat desainnya, sambil bergumam hari ini harus dapat gaunnya kapan lagi aku bisa keluar.
Akhirnya Amel mendapatkan gaun berwarna merah muda dengan berenda renda, harganya lumayan murah di bandingkan gaun yang lainnya.
__ADS_1
Tapi ekspresinya terlihat seperti bingung mau beli atau tidak, seolah-olah raut wajahnya mengatakan haruskan membeli gaun lagi kan punya gaun banyak di rumah, tapi gak mungkin gaun kelas pasaran aku gunakan di acara kolongmerat.
Amel berjalan dengan berat hati menuju kasir. Begitu pula ketika Amel berjalan keluar dari butik, Amel berjalan dengan lemas dan berkali-kali ia membuang nafasnya dengan keras.
Dan tiba- tiba ..
Bruuuuug...
Ada seseorang yang menabrak Amel dari samping kanannya, tabrakkan sangat keras, sampai handphone yang di pegang Amel terjatuh. Bukan hanya itu saja, Amel juga mendapat tumpahan minuman dingin di lengannya. Amel yang awalnya lemas dengan mata setengah melek langsung berganti menjadi melotot, tapi beberapa detik kemudian kembali setengah melek lagi.
"Maaf baju anda basah, saya akan menggantinya" ucap wanita itu sambil memberikan ponsel Amel yang terjatuh.
Amel menatap sayu wanita di sampingnya dengan mata pocongnya. Tampak ekspresi kaget dari lawan bicara Amel mungkin wanita itu berpikir bagaimana mungkin ada pocong di siang bolong begini.
"Tidak apa-apa" ucap Amel dengan melihat lengannya. Entah saat ini Amel tidak berkeinginan berdebat atau apapun. Hanya ingin pulang lalu tidur yang saat ini di dalam benaknya.
Amel tidak memperdulikan wanita itu dan langsung berjalan menjauh dari lokasi kejadian tadi.
Berbeda lokasi tetapi di waktu yang sama, Sarah bersama Radit sedang memilih desain apa yang akan mereka gunakan untuk acara tunangan nanti.
"Saya mau dekorasinya ini, lalu hidangannya ... Lalu... "
"Dan, ... Lalu" ucap Sarah pada seseorang yang ada di depannya dengan menunjuk pada lembaran buku katalog.
Radit hanya terdiam atau kadang menjawab iya dan sesekali menganggukkan kepala. Radit mempercayakan semua sesuai keinginan Sarah, tugasnya hanya sebagai menemani Sarah saja.
"Pastikan tidak ada wartawan yang masuk" ucap Sarah
"Pastikan juga hanya orang yang memiliki undangan yang dapat masuk" lanjut Sarah lagi
"Iya Nona" Ucap pelayan itu dengan patuh
"Saya sudah menjadi pelanggan VVIP disini. Ku harap tidak mengecewakan" ucap Sarah pada petugas hotel sebagai penutupan percakapan.
Sarah berjalan keluar dengan menggandeng tangan Radit
"Kau sangat detail sekali" Ucap Radit sambil tersenyum
"Aku selalu berharap semua sesuai rencana" jawab Sarah
__ADS_1
.
.
.
Seminggu sudah berlalu semua orang masih berada pada kesibukan masing - masing.
Amel masih sibuk dengan skripsinya, Faizal sibuk dengan pembukaan baru mallnya, Sarah dan Radit sibuk mempersiapkan acara tunangan yang sangat mewah agar terkenang selama hidup mereka.
Semua pada sibuk dan pusing dengan urusan masing -masing tapi tidak untuk perkumpulan nyonya -nyonya ini. Dengan santai mereka bermain golf dan bercanda ria. Yakni Nyonya Hani, Nyonya Hera, dan Nyonya Laras
"Dulu Hani dan Budi yang menikah dengan sahabatnya sendiri. Sekarang Sarah dan Radit" ucap Laras yakni mama dari Radit dan besan Nyonya Hani.
"Padahal aku juga ingin putraku Faizal dengan Tika, ya agar tidak memutus hubungan pertemanan ini" Ucap Nyonya Hera.
"Jangan di paksa, yang ada malah merusak pertemanan nanti" ucap Nyonya Hani dengan bijaksana
"Karna dulu orang tuaku tidak memaksaku dalam perjodohan, jadi aku tak akan memaksa putraku juga" ucap Hera dengan santai
"Habis main golf langsung nongkrong begini mengingatkan aku pada jaman SMA, dulu kan kita..... " lanjut Nyonya Hera yang disusul respon oleh kedua temannya yang lain
Tawa canda mereka sangat bahagia.
Mereka semua sudah berteman sejak SMA, dengan latar belakang yang sangat memukau.
Hera berasal dari keluarga kolongmerat dan kini berhasil membagun CH group bersama suaminya, tetapi suaminya kini telah meninggal. Dan kini group itu di lanjutakn oleh anaknya Faizal
Bimo dibesarkan dari keluarga kesehatan, mereka semua keluarga besar berjas putih alias dokter profesional dan kini berhasil mendirikan rumah sakit berstandar internasional dengan sebutan H ONE group. Tak heran Tika sekarang menjadi dokter sampai belajar ke negri orang.
Zulkar orang tuanya seorang juragan sayuran maka tak heran kini ZW group bergerak di bidang sayuran dengan inovasi terbaru.
Laras dibesarkan dari keluarga hukum, keluarga besarnya banyak yang menjadi jaksa ataupun hakim di negeri ini. Maka tak heran anaknya Radit juga menuruni jejak keluarganya.
Budi suami dari Nyonya Hani adalah keluarga pengusaha tetapi Bapak Budi lebih memilih maju di meja politik
Dan yang terakhir Nyonya Hani berasal dari keluarga kolongmerat, sudah terlahir dengan status kaya raya dan keluarganya sangat sosial terhadap masyarakat.
Hani adalah pemimpin di genk ini dari jaman mereka SMA, dengan sikapnya yang dingin dan bijaksana. Semua group yang di dirikan teman-temannya tak terlepas dari investasi yang Nyonya Hani berikan.
__ADS_1
Mohon ditunggu update selanjutnya ya~~
Salam Nana