
ch 8 (3 tahun yang lalu) part 8
Malam hari bertabur bintang dan kedamaian suasana menyatu menjadi satu mewakili perasaan hati lelaki tampan yang sedang fokus menyetir yakni Faizal seorang CEO muda CH group.
Kemudian ia mengeluarkan ponselnya menekan tanda telpon pada kontak seseorang.
"Aku sudah di parkiran, nomer berapa?" ucap Faizal pada seseorang di sebrang telpon.
Terdengar jawaban samar-samar orang di sebrang telpon sana.
"Silahkan masuk" ucap Amel pada Faizal yang baru saja menunggu di depan pintu kamar hotelnya.
Hanya senyuman yang tergambar pada wajah tampan Faizal.
"Bagaimana mungkin dia menyuruhku masuk ke kamar hotelnya, padahal aku lelaki normal dan hanya ada kita berdua didalam ruangan ini" ucap Faizal dalam hati.
"Sebentar aku harus menggunakan ombre lip tin, okey" lanjut Amel tanpa memperdulikan tamunya
"Nanti sambil mencari oleh-oleh buat nenekku, okey" lanjut Amel lagi, padahal tidak ada balasan dari Faizal.
Faizal melihat gerak gerik yang dilakukan Amel lari ke sana lari ke sini, ribet sendiri. Sesekali mengangguk dan tersenyum atas apa yang dilihatnya.
"Kau beneran besok pagi harus balik" Ucap Faizal yang akhirnya bersuara
"Aku sudah membeli tiket pesawat untuk besok" jawab Amel sambil melihat Faizal yang tengah memandang koper besar diujung dinding ruangan ini.
"Kalau aku membelikanmu tiket pengganti, bagaimana ?" tanya Faizal yang aslinya ingin lebih lama bersama Amel
"Aku sudah lama disini, jugaan aku harus mengurus beberapa dokumen untuk masuk perkuliahanku, ayo kita mau makan dimana" ucap Amel sambil berjalan keluar.
...
Rumah makan dengan room VVIP, melodi yang mengalun lembut dan suara percikan air mancur menambah kedamaian suasana untuk dua sejoli yang sedang membicakan hal serius.
"Baguslah keadaanmu baik-baik saja, aku mengkhawatirkanmu sejak kejadian itu kamu sama sekali tidak mengangkat telponku" ucap Radit kepada Sarah
"Radit sebentar lagi kita akan melangsungkan pertunangan" jawab Sarah
"Aku akan memberitahumu sesuatu sebelum kita melanjutkan hubungan ini lebih jauh" lanjut Sarah lagi
Hanya anggukan yang Radit lakukan untuk membalas ucapan Sarah
"Aku bukanlah anak kandung dari Nyonya besar HK group Ibu Hani, apa kau masih mau menikah denganku ?" ucap Sarah dengan wajah serius
"Aku sudah tahu itu" jawab santai Radit sambil meminum teh hijau
"Maksudmu ?" jawab Sarah dengan muka terkejut
"Sarah, Nyonya Hani memberikanku penawaran ini, karna suatu saat jika identitasmu terungkap dengan latar belakang yang ku miliki, aku dapat melindungimu" jawab Radit
"Aku tidak merasa dimanfaatkan disini, lebih tepatnya kita sedang bernegosisasi jadi kita saling menguntungkan, aku tidak yakin kamu akan baik-baik saja jika aku mengatakan begini, karna setahuku, kamu sangat membenci mamamu bukan maksud aku dan nyonya Hani menganggapmu sebagai barang yang dapat dinegosiasikan. Ini seperti asuransi identitasmu karna setahuku Nyonya Hani mencintaimu" lanjut Radit dengan panjang lebar.
"Awalnya aku terkejut, tapi itu bukan masalah. Bukankah sudahku katakan aku mau menikahimu karna kamu adalah Sarah seseorang wanita yang tegas, Nyonya Hani menutupi ini sumua dan tidak ada yang merasa dirugikan di sini, jadiku rasa bukan hal yang harus dipermasalahkan." ucap Radit
__ADS_1
"Yasudah mari kita makan" lanjut Radit
Entah kenapa Sarah yang mendengar ini hanya terdiam, dia pun menunduk malu pada dirinya sendiri. Ternyata apa yang dipikirannya selama ini sangatlah salah, mamanya begitu mencintainya menutupi keburukannya dan selalu membereskan kesalahnnya.
..
Berbeda lokasi tapi di suasana yang sama dengan rumah makan bintang 5, melodi yang mengalun lembut dan suara percikan air mancur yang membuat ketentraman hati.
"Wah, kak kenapa memesan sebanyak ini" ucap Amel tekejut dengan hidangan yang ada di depannya
"Kau sebentar lagi akan masuk kuliah, kau juga akan menyusun skripsi, jadi memerlukan tenaga yang ekstra" ucap Faizal sambil menyodorkan beberapa piring seafood.
Amel merasa perutnya sudah tidak ada lagi rongga kekosongan, tapi hidangan dihadapannya masih banyak dan sangat sayang untuk dibuang. Andai bisa dibungkus dan dimasukkan kulkas, tapi Amelkan besok akan perjalanan pulang.
"Ayo katanya mau beli oleh-oleh" ucap Faizal
"Tunggu sebentar rasanya aku tidak bisa jalan" jawab Amel dengan ekspresi tepar tak berdaya lemas
Faizal yang melihatnya hanya tersenyum betapa polos wanita yang ada di depannya ini.
Pasar modern yang ramai akan pengunjung baik wisatawan asing ataupun lokal berkumpul menjadi satu mewarnai malam indah bertabur bintang
"Berapa ini ?" tanya Amel pada penjual yang ada di depannya. Sambil memegang gelang rajutan dan ada beberapa pahatan kayu kecil untuk hiasanya.
"50 ribu mbak" jawab penjual itu. Yang berhasil membuat mata Amel melotot. Ya emang benar Amel baru saja mendapat pekerjaan dengan gaji besar tapi bukan berarti dia bisa menghambur - hamburkan dengan riang gembira.
"Maaf Bu. Saya masih melihat-lihat dulu" ucap Amel dengan meletakkan gelang itu dengan hati-hati agar tak rusak
Amel berjalan tanpa memperdulikan keberadaan teman yang datang bersamanya yakni Faizal, sejak dari tadi Amel asyik sendiri. Matanya terhenti pada Tas yang tergantung tepat di sebrang sana. "Cocok buat nenek" ucap Amel dalam hati
Sambil menunggu Faizal yang entah kemana, Amel duduk ditempat yang sudah dijanjikan pada awal waktu tadi, sambil melihat orang yang sedang berlalu lalang di depannya.
Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya. Amelpun terkejut dan menoleh
"Dari tadi aku menunggumu" ucap Amel
"Kenapa tak telpon, maaf tadi ada urusan mendadak." jawab Faizal
"Kali aja Kak Faizal juga berbelanja oleh-oleh untuk Kak Tika, makanya aku menunggu saja. Ini aku sudah mendapat oleh-oleh untuk nenekku" jawab Amel sambil mengangkat kantong plastik besarnya
Faizal hanya tersenyum sambil memikirkan, Tika diberi barang pasar seperti ini. Bisa-bisa dia bakal tersinggung besar.
"Kau tidak membeli untuk dirimu sendiri ?" tanya Faizal sambil melihat kantong plastik besar yang dibawa Amel
"Tidak ada yang pas di hati" jawab Amel. Padahal tadi dia ingin membeli gelang rajutan tapi begitu tahu harganya, tidak memiliki gelang itu juga tidak apa apa kok.
"Aku ingin memberimu sesuatu tapi aku tidak tahu barang apa yang kau inginkan" ucap Faizal
"Ah. Kau ingin memberiku sesuatu. Kalo begitu ikut aku " jawab Amel yang tanpa sengaja menarik pergelangan tangan Faizal menuju pedang gelang yang ia inginkan
"Gelang ini" ucap Amel dengan perasaan yakin sambil menunjuk gelang yang ada di hadapannya
Faizal yang melihatnya hanya tersenyum baru beberapa menit yang lalu mengatakan tidak ada yang pas di hati tapi sekarang langsung menuju seolah-olah udah mengincarnya dari tadi.
__ADS_1
"75 ribu mbak" jawab pedagang itu
Seketika Amel terkejut bukankah tadi dia bilang 50ribu kenapa sekarang naik 50 persen
"Tadi 50 ribu kenapa sekarang menjadi 75 ribu" ucap Amel
"Apa mbak gak beli 2 sama pacarnya" ucap pedagang itu sambil melihat kalau aku menggandeng tangan Kak Faizal. Seketika akupun melepas tanganku yang dari tadi tanpa sengaja menggenggam pegelangan tangan kak Faizal. Tapi kak Faizal malah menggenggam tanganku dan dapat kurasakan jari-jarinya memasuki rongga jari-jariku. Entah mengapa jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Ya sudah" ucap Faizal sambil memberi uang kepada pedang itu
"Apa kau badmood gara-gara pedang tadi ?" tanya Faizal sambil menyetir mobilnya, karna di lihatnya Amel hanya terdiam dari tadi
"Bukankah kita jadi mendapatkan sepasang" lanjut Faizal sambil menunjukkan gelangnya
"Apa kau tak mau berpasangan denganku makanya kau menjadi begini ?" lanjut Faizal lagi
"Eh bukan begitu." jawab Amel sambil melambaikan tangannya memberi isyarat itu tidak benar
"Kakak aslinya ingin berpasangan dengan kak Tika tapi jadinya malah denganku, padahal aku hanya ingin membeli satu saja untuk diriku" jawab pelan Amel
"Tika ??" jawab Faizal sambil menghentikan mobilnya karna sudah sampai di parkiran tempat hotel Amel.
Tiba-tiba Faizal mendekatkan tubuhnya ke Amel dan memeluk pinggang Amel dari belakang
Amel langsung terkejut mencoba menjauhkan tubuhnya dari kak Faizal
"Jika kakak mau mencoba latihan seperti sebelumnya untuk Kak Tika diadegan kayak begini, maaf aku tidak bisa." ucap Amel sambil mencoba menyingkirkan tangan Kak Faizal
Faizal kembali ke posisi duduknya
"Aku dengan Tika hanya teman, kami bersama Sarah teman dekat begitupula dengan orang tua kami" ucap Faizal
"Untuk Tika, aku dulu memang pernah menyukainya, tapi sekarang sudah enggak" lanjut Faizal yang mendapat cubitan lembut dari Amel
"Kenapa ?" tanya polos Faizal
"Kau bilang kenapa ? Harusnya kau jelaskan. Ini bukan pertama kalinya waktu dulu kakak seperti ini juga, aku mengira sedang mengkhianati Kak Sarah. Sampai akhirnya aku menanyakannya ke Kak Sarah. Dan ternyata kalian hanya berteman dan sekarang kakak ulangi lagi. Apa kakak tahu betapa paniknya jika aku terkena skandal dengan anak kolongmerat sebagai pelakor" jawab panjang lebar Amel
"Kau tidak pernah bertanya. Kau saja yang langsung menarik kesimpulan sendiri" jawab Faizal
Amel terdiam, iya dia tak pernah bertanya hanya kesimpulan berdasarkan menurutnya saja yang menjadi acuannya
"Panggilan khusus yang pernah ku dengar di Apartemen, Pendek dan Ingus" bela Amel
"Dulu aku pendek bahkan lebih pendek dari anak perempuan. Dan Sarah selalu membawa sapu tangan atau tisu dalam tasnya karna ingusnya" Penjelasan singkat Faizal
"Oh begitu" ucap Amel sambil mengangguk- angguk
"Istirahatlah besok pagi kau harus sudah di bandara" ucap Faizal
"Iya, Terimakasih gelangnya aku akan menjaganya" ucap Amel sambil melambaikan tangan dan menghilang dari penglihatan Faizal
Mohon ditunggu update selanjutnya ya~~
__ADS_1
Salam Nana~