
ch 16 (2 Tahun yang lalu) part 2
“Ahhh….. Jam berapa ini ?!” teriak Amel dengan terburu- buru bangkit dari ranjangnya dan langsung disambarnya handuk lalu berlari menuju kamar mandi, dilihatnya ada beberapa piring berisi lauk yang telah disiapkan oleh neneknya di atas meja sebelum nenek berangkat kerja.
Berkali- kali Amel memukul kepalanya dan menggerutu pada dirinya sendiri, Bagaimana bisa akhir- akhir ini dirinya sering bangun kesiangan, seperti bukan Amel yang biasanya.
Yap Amel memang akhir- akhir ini sebelum tidur selalu termenung, melamun, dan gelisah. Bagaimana tidak CEO CH group alias Pak Faizal
mengatakan kalau tertarik dan mencintai Amel, bukannya Amel tidak mau, siapa juga yang akan menolak jika ada pria yang tampan, keren, dan sukses menyatakan perasaan mungkin hanya wanita bodoh yang akan menolaknya. Tapi Amel merasa belum siap untuk membuka hati ataupun memulai tentang hal yang namanya percintaan, Amel memang tidak pernah pacaran semasa hidupnya, baginya kelak pasti akan ada datang seseorang yang spesial di waktu yang tepat. Saat ini yang hanya Amel pikirkan adalah neneknya, Amel merasa belum siap untuk membagi cintanya kepada siapapun, selain kepada neneknya.
. ~
“Ini berkas dari devisi pemasaran, semua telah saya revisi. Silahkan di tandatangani.” Ucap Amel dengan menyerahkan map kepada seseorang yang dari tadi sedang sibuk dengan layar komputernya.
Merasa urusannya telah selesai Amel hendak berjalan menuju pintu keluar dari ruangan atasannya tersebut. Tiba- tiba ada suara yang
menghentikan langkahnya.
“Kau sudah pikirkan jawabannya ?” Ucap Pak Faizal dengan tetap fokus pada layar komputernya.
“Apa kau bisa makan siang bersama hari ini ?” Lanjut Pak Faizal, kini pandangannya telah teralihkan kepada objek sosok wanita yang
berdiri tepat di depan meja kerjanya.
“Nanti saya ada janji dengan Nyonya Hera.” Ucap Amel dengan nada seperti meminta maaf, dalam hati Amel sebenarnya juga bingung hal apa yang
akan dia katakan kepada Pak Faizal, selain membahas tentang pekerjaan Amel tidak tau mau membahas apa lagi. Sejak Pak Faizal menyatakan perasaannya, Amel menjadi canggung untuk bertemu dalam urusan pribadi selain pekerjaan.
“Mungkin lebih baik menghindar dulu.” Ucap Amel dalam hati
“Nyonya Hera maksud kamu Mamaku ?” Tanya Pak Faizal terkejut, karena menurutnya Mama bukanlah orang yang mau bertemu secara pribadi jika tidak ada reporter atau acara yang menghasilkan keuntungan.
“Apa kau ada pekerjaan khusus dengan Mama?” Lanjut Pak Faizal dengan cepat, padahal pertanyaan yang pertama belum dijawab oleh Amel.
“Tidak ada, Katanya Nyonya Hera hanya mau bertemu saja.” Ucap Amel dengan nada datar.
“Jangan lupa sehabis makan siang kita ada rapat, Kau naik taksi saja, Nanti aku akan menjemputmu di sana usai makan siang.” Ucap Pak Faizal, yang hanya mendapat anggukan dari Amel. Dan Amel lekas menuju pintu keluar meninggalkan Pak Faizal.
Pak Faizal menghela nafas panjang dan memijat keningnya sambil berpikir apa Mamanya mengetahui dirinya sedang melakukan pendekatan dengan Amel. Jika tahu dapat dipastikan Mamanya gak akan setuju, Mamanya selalu memandang bibit, bobot dan bebet itu penting dalam suatu keluarga, sedangkan Faizal mengetahui betul Amel bukanlah kalangan kolongmerat.
“Tapi, aku selalu mencuri waktu untuk main keluar bersama Amel disaat bersamaan dengan pekerjaan, bahkan kita jalan-jalan pun masih
menggenakan baju kerja.” Ucapnya kepada dirinya sendiri dengan pelan.
“Tenang Faizal, Aman kok.” Ucapnya lagi meyakinkan dirinya sendiri.
Pak Faizal mencoba kembali fokus dengan pekerjaannya setelah dari tadi beberapa waktu sempat tertunda karena memikirkan Amel.
Baru saja beberapa menit Pak Faizal fokus di depan layar, kini tiba- tiba terbesit adegan film yang pernah dilihatnya ibu galak menyiram pacar anaknya dengan segelas air.
__ADS_1
Pak Faizal menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal, mengartikan bahwa seseorang sedang dalam keadaan bingung.
“Gak mungkin Mama seperti itu.” Ucapnya dalam batin sambil menggelengkan kepala.
. ~
Berbeda lokasi di waktu yang sama. Pada Restoran mewah disudut ruangan tepat dengan pemandangan yang dapat kita lihat langsung
keelokannya.
“Nyonya, Maaf membuat anda menunggu jalanan macet, Tidak seperti biasanya.” Ucap Amel dengan nada bersalah.
“Tidak apa- apa.” Ucap Nyonya Hera.
“Silahkan duduk.” Lanjut Nyonya Hera tersenyum dengan mempersilahkan Amel duduk dihadapannya, tetap dengan posisi duduknya.
“Terimakasih.” Ucap Amel dengan sopan.
“Jangan terlalu tegang, Ini bukan lagi interview kerja” Ucap Nyonya Hera dengan sedikit tertawa. Memang ini adalah kedua kalinya mereka duduk berdua setelah Amel melamar pekerjaan sebagai sekretaris pribadi Pak Faizal dan diwawancarai langsung oleh Nyonya besar CH Group.
“Maaf sebelumnya. Saya hanya bisa sebentar saja ada rapat dadakan dengan client setelah makan siang ini.” Ucap Amel lagi dengan nada bersalah lagi.
“Untung saya sudah memesan menu makanan, Yasudah langsung ke inti saja ya.” Ucap Nyonya Hera.
“Ini.” Ucap Nyonya Hera sambil menyerahkan kantong berbahan kertas berukuran jumbo kepada Amel.
“Kau sudah berkerja keras untuk CH Group. Bukankah segala sesuatu yang bagus patut kita apresiasikan. Bukan begitu Nona Amel?” Lanjut
“Wah, Terimakasih Nyonya atas hadiahnya, saya menjadi makin bersemangat dalam bekerja.” Ucap Amel terkejut bahkan mulutnya sampai menganga dan tak lupa Amel senyuman manis khas miliknya.
“Tenang saja, Perusahaan CH Group tidak pernah menutup mata dengan pegawai yang bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya.” Ucap Nyonya Hera. Yang disusul tidak lama beberapa menit kemudiaan pelayan datang membawa piring-piring pesanan.
Ini semua berbanding terbalik dengan apa yang dipikirkan Pak Faizal, Bahkan CEO CH Group ini sampai tidak bisa fokus bekerja dan memilih
menuju tempat Amel makan siang bersama dengan Mamanya.
Bahkan Pak Faizal merelakan makan siang hanya dengan sebungkus roti sobek saja, sambil fokus menyetir menerobos panas dan kemacetan di
jalan raya ini, Padahal seharusnya 45 menit lagi Pak Faizal menjemput Amel untuk persiapan rapat dengan client. Namun, Pak Faizal merasa lebih baik memastikannya secara langsung daripada terlintas dibenaknya hal yang aneh- aneh.
Melihat seperti sosok kehadiran putranya dari kejauhan, Nyonya Hera mengerutkan dahinya dan menyipitkan matanya berkali-kali. Dan ternyata benar itu merupakan putranya.
“Mama,” Ucap Faizal yang mengagetkan Amel, Amel pun melirik arloji di pergelangan tangannya.
“Mengapa Pak Faizal sudah menjemput ku? Masih jam berapa ini?” jawab Amel dalam hati sambil tampak berfikir
Terlihat wajah Amel dan Nyonya Hera yang kaget karena Faizal datang dengan tiba-tiba, tanpa menunggu jawaban ataupun ungkapan untuk duduk bersama dari keduanya, Faizal langsung duduk bersama gabung dengan meja para wanita yang sedang makan.
Faizal menatap kantong berukuran besar di bawah kaki Amel. Hanya anggukan kepala atas apa yang sudah dilihatnya.
__ADS_1
Faizal bersyukur ternyata bukan hal yang aneh seperti dalam benaknya dari tadi sampai membuatnya tidak fokus.
“Sudah makan siang?” tanya Nyonya Hera yang sudah sepenuhnya sadar akan kehadiran putranya walau sempat kaget beberapa detik.
“Sudah Ma, Faizal kemari mau menjemput Amel, Setelah ini ada rapat dengan investor, Karena jalanan yang macet jadi lebih baik kami berangkat
lebih awal” ucap Faizal
“Cobalah beberapa potong daging sambil menunggu kita selesai makan.” Ucap Nyonya Hera sambil menyodorkan piring kepada putranya.
. ~
“Aku kau sudah pikirkan jawabannya ?” Tanya Faizal ditengah perjalanan sambil menunggu kesuntukkan karena macetnya jalan
Tapi sayangnya lawan bicaranya menghadap jendela dan tersenyum sendiri seperti orang gila.
“Kau baik-baik saja ?” Faizal mengatakan sambil menepuk pelan pundak Amel.
“Iya” Respon Amel dengan terkejut dan kembali duduk dengan posisi menghadap depan.
“Kenapa ?” Tanya Faizal
“Hahaha” Hanya ketawa terbahak-bahak yang keluar dari mulut Amel
“Apa yang sedang kau pikirkan ?” Tanya Faizal lagi
“Aku sangat bahagia. Apa ekspresi wajahku menjadi aneh ?” Jawab Amel sambil menepuk kedua pipinya.
“Ada Apa ?” Tanya Faizal yang sepertinya tidak sabar, karena Amel dari tadi tidak menjawab pertanyaannya
“Bu Hera tadi mengatakan padaku kalau aku membutuhkan sesuatu jangan sungkan untuk bercerita dengannya, Aku bahagia serasa ada orang dewasa yang menjagaku selain nenek” Jawab Amel, Faizal yang mendengar juga tersenyum. Faizal merasa mamanya cocok dan se-frekuensi dengan Amel.
“Amel ?” Panggil Faizal dengan nada serius.
“Iya” Jawab Amel sambil memainkan ponselnya.
“Apa kau sudah pikirkan jawabannya ?” Tanya Faizal
“Jawaban ? Soal apa ?” Amel menjawab dengan menaikan alisnya seperti sedang berfikir keras.
“Soal perasaanku. Mau sampai berapa lama kau akan menggantungkan perasaanku ?” Jawab Faizal dengan nada kalem seperti memelas.
“Coba beritahu. Apa kau sudah menyukai pria lain atau tipe yang kau sukai itu bagaimana ?” Tanya Faizal kepada Amel.
Amel yang berada di samping Faizal hanya bisa mengedipkan mata bekali-kali karena bingung mau menjawab apa dari semua pertanyaan Faizal.
Mohon ditunggu update selanjutnya ya ~~~
__ADS_1
Salam Nana
Dilarang keras MENGCOPY/MEMPERBANYAK tanpa mendapatkan izin resmi dari penulis.