
ch 9 (3 tahun yang lalu) part 9
Siang hari yang terik sinar mentari terpancar dengan sangat menyengat. Banyak orang jalan kaki menggunakan payung untuk melindungi diri dari sengatan yang menusuk ini.
Semua orang berbahagia menyambut pertengahan bulan Agustus ini. Begitupula suasana yang sedang terjadi di Universitas A. Semua mahasiswanya meramaikan keadaan, Bagaimana tidak ? Ini adalah minggu pertama perkuliahan di mulai pada semester ganjil.
"Amel, kita harus membuat perjanjian akan lulus pada semester ini" ucap Sahabat Amel bernama Lila sambil menulis sesuatu di kertas.
"Iya. SPP selalu datang menanti di awal semester" jawab Amel dengan tetap membaca komik di ponselnya
"Prinsipku semakin lama kita lulus, semakin lama kita akan menikah" ucap Lila, yang diiringi ketawa dari mereka berdua.
"Hele kayak sudah punya calon aja" Jawab Amel sambil menepuk pelan pundak sahabatnya itu.
Tawa canda yang bahagia sedang terjadi pada Amel, begitu pula yang sedang terjadi pada Faizal. Berbeda lokasi diwaktu yang sama dan dalam suasana bahagia
CKRIK.. CKRIK
Kilatan kamera secara center menyohor pada pria muda tampan yang akan memotong pita merah untuk meresmikan sebuah Mall. Begitu banyak tamu undangan penting yang datang.
Dari kejauhan Ibu Hera tiada hentinya tersenyum bahagia melihat putranya dapat sukses menuruni jejak suaminya yang telah lama meninggal. Begitu banyak ucapan selamat yang datang bertubi-tubi kepada Faizal dan Ibu Hera.
"Selamat" ucap Sarah sambil meletakkan bunga dihadapan Faizal.
"Terimakasih sudah mau datang, padahal kau sangat sibuk dengan kuliah S2 mu"ucap Faizal dengan nada bahagia.
"Jangan terlalu berlebihan, aku kesini sebagai CEO HK group" jawab Sarah
"Bukankah HK group salah satu investornya"lanjut Sarah sambil mengeluarkan undangan di dalam tasnya dan memberikannya ke Faizal.
"Kau tunangan, dengan Radit" ucap Faizal dengan muka terkejut
"Apa kau sudah jatuh cinta padanya ?" tanya Faizal berbisik seolah ini adalah pembicaraan rahasia.
"Jika selalu bersama bukankah akan tumbuh rasa cinta" ucap Sarah dengan berbisik pula.
"Aku akan berusaha membalas cintanya" lanjut Sarah dengan nada yakin.
"Yayaya. Aku pasti datang tenang saja" jawab Faizal.
"Aku harap kau bisa datang dengan pasanganmu" jawab Sarah tersenyum menjauh dari Faizal dengan nada menghina.
.
.
"Kau tunggu saja di dalam mobil" ucap Nyonya besar HK group yang tak lain ialah Ibu Hani kepada seketarisnya.
__ADS_1
Yap Ibu Hani sedang berada di Kota Tirex, dan sekarang berada di makam temannya yang tak lain ialah Ara.
"Hai Ara sudah lama ya" sapa Ibu Hani pada temannya tapi tampak seperti bicara sendiri
"Sarah bulan depan akan bertunangan, beberapa bulan yang lalu Sarah baru saja kesini dan dia mencari tahu identitasmu. Kau tidak perlu khawatir tentang anakmu semua sesuai janjiku ke kamu." lanjut Nyonya besar sambil menabur bunga.
Berbeda jauh ketika Sarah kemari, Ibu Hani tidak ada air mata, bahkan ekspresi datar yang tergambar di wajahnya.
"Ke Panti Asuhan Z" ucap Ibu Hani pada seketarisnya di dalam mobil
Mobil sedan keluaran terbaru menelusuri kampung yang sudah jauh berbeda dari waktu tempo
"Sepertinya aku sudah lama sekali tidak kemari" ucap Ibu Hani pelan seperti berkata pada dirinya sendiri.
"Nyonya kita sudah sampai" ucap seketarisnya
"Kau tunggu di mobil saja, tapi ini agak lama" ucap Ibu Hani
Ibu Hani berdiri memandangi Panti Asuhan milik keluarganya sudah menjadi lebih modern walau hanya berbeda pada letak warnanya, untuk konsep bangunannya masih sama dan tiba-tiba ingatan tentang pertemuannya dengan Ara muncul hanya senyuman tipis lalu pudar dengan cepat yang tergambar di raut wajah Nyonya Hani.
"Selamat datang Ibu Hani" sapa pengurus Panti Asuhan
"Hani bagaimana kabarmu ? Kau tak pernah kesini lagi, budhe rindu padamu" ucap pengasuh tertua yang sudah 40 tahun mengabdikan dirinya di panti asuhan ini.
"Sini anakku kemari, kita bicara diruangan budhe" lanjut budhe sambil menggandeng tangan Ibu Hani.
"Aku hanya mendengar dari orang-orang katanya kamu berbeda, ternyata benar anakku yang dulu sangat ceria, kini sangat dingin dan tak bisa tersenyum bahagia lagi" ucap budhe sambil memeluk Ibu Hani.
"Udah anakku lupakan yang lalu, maafkan Ara itu akan membuat hatimu plong" ucap budhe sambil mengusap punggung Ibu Hani
Merasa sudah cukup basa-basinya Ibu Hani mengutarakan tujuan kemarinya yang memang perlu dia pastikan sendiri.
"Sesuai permintaanku kalau ada orang menunjukkan foto ini, budhe menceritakan sejujurnya tentang Ara" ucap Ibu Hani sambil menjukkan foto yang ada di Ponselnya
"Iya anakku beberapa waktu yang lalu ada seorang gadis kemari membawa foto seperti itu, sudah budhe ceritakan yang budhe ketahui saja" ucap budhe
"Apa dia seperti gadis ini ?" tanya Ibu Hani sambil menunjukkan foto Sarah ke hadapan budhe
"Tidak seperi itu, Rambutnya panjang" ucap budhe sambil menyentuh pinggangnya memperagakan panjang rambut wanita yang menemuinya waktu itu.
Ibu Hani terdiam dan mengucap di hati "Sarah tidak pernah memiliki rambut panjang se pinggang, apa dia menyamar menggunakan wig"
"Bisa budhe beritahu ciri- ciri wanita itu ?" tanya Ibu Hani tenang padahal aslinya dalam hati sangat panik, Bagaimana mungkin Sarah dengan mudah menyuruh orang lain untuk mencari tahu, Bagaimana jika orang itu membocorkannya di wartawan.
"Dia berambut lurus panjang sepinggang, lalu badannya lebih kurus, dan hidungnya tidak semancung itu, pokoknya sangat berbeda." ucap Budhe dengan bola mata di atas seolah sedang mengingat-ingat
"Iya itu bukan Sarah" batin Ibu Hani
__ADS_1
"Yaudah terimakasih Budhe, sehat selalu" ucap Ibu Hani sambil berjalan keluar dari bangunan panti asuhan yang pernah memberikan cerita dalam hidupnya.
"Kapan jadwal penerbangan kita ?" ucap Ibu Hani di dalam mobil.
"Nanti sore Nyonya" ucap seketarisnya
.
.
"Kak Sarah terimakasih semuanya, aku ingin mengucapkan secara langsung tapi kakak sangat sibuk. Akhirnya sekarang kesampaian juga" Ucap Amel pada Sarah di cafe depan Universitas A.
Hanya anggukan kepala yang Sarah lakukan untuk membalas ucapan Amel.
"Ini" ucap Sarah sambil memberikan undangan pertunangan dirinya dengan Radit
"Acaranya bulan depan, semoga tidak mengganggu waktumu" lanjut Sarah dengan memberikan bros bagus dan elegan
"Gunakan bros itu, hanya aku berikan pada orang terdekat saja" lanjut Sarah
Yap selepas Amel mengetahui identitas Ibunya Sarah, mereka jadi dekat. Apalagi Sarah menjalani pendidikan S2 nya di kampus yang sama dengan Amel dan di Fakultas yang sama pula.
Amel memandangi undangan itu, ekspresi bahagia yang tergambar di wajahnya. Bisa datang di acara para kolongmerat berkumpul, hal yang langkah bisa terjadi di hidup Amel.
"Aku pasti akan datang, aku juga pasti akan menggunakan ini" ucap Amel dengan menggoyangkan bros yang ada ditangannya.
Sarah yang melihat hanya tersenyum. "Yasudah aku ada rapat" ucap Sarah berjalan menuju pintu keluar.
Setelah Sarah pergi dari hadapan Amel. Ekspresi Amel berubah, sambil menyentuh kepalanya Amel pusing baju apa yang akan dia gunakan di acara tersebut.
.
.
Suasana tentram Rumah Mewah yang berada di kalangan elit. Seorang Nyonya, baru saja turun dari mobil setelah melakukan perjalanan jauh. Tapi bukan ekspresi lelah yang tergambar di wajahnya melainkan ekspresi panik.
"Sarah" panggil Nyonya Hani di depan kamar Sarah
"Iya ma" keluar Sarah dari kamarnya
Tiba-tiba mamanya langsung masuk ke kamar Sarah
"Ada yang mau mama bicarakan" ucap Nyonya Hani dengan tatapan mata tajam ke Sarah
"Iya ma" ucap Sarah sambil duduk di samping mamanya.
"Siapa yang menjadi informan tentang Ara ?" tanya Nyonya Hani.
__ADS_1
Mohon ditunggu update selanjutnya ya~~
Salam Nana