
Eps 17
ch 17 (2 Tahun yang lalu) part 3
Malam ini cahaya bulan dan bintang bersinar lebih terang dari biasanya, Yap mungkin langit ingin mengucapkan selamat berbahagia untuk
Sarah dan Radit yang saat ini sedang melangsungkan pernikahan mereka. Semua
tamu undangan dan tidak lupa pula para reporter yang menambah suasana keramaian di Hotel diamond 5 ini. Sesuai dengan keinginan Sarah kalau dirinya sangat ingin menikah dengan konsep yang mewah dan tidak akan terlupakan dalam sejarah.
Para sahabat dari mempelai yang melaksanakan pernikahan sedang mempersiapkan kejutan untuk kedua sahabatnya yang kini sedang melangsungkan pernikahan. Yap mereka akan melakukan pertunjukan yang di iringi dengan music tradisional. Mereka adalah Faizal, Tika, dan Arya
“Sudah siap kalian?” Ucap Faizal yang sudah siap memukul gong didepannya.
“Kau yang memiliki ide tentang pertunjukan ini tetapi mengambil peran yang paling mudah, Anak TK juga bisa kalau hanya memukul gong” Jawab Tika dengan tatapan kesal namun tetap duduk untuk bersiap memukul gamelan.
“Hehe kau kan suka bermain piano, Ku rasa mirip kan piano dengan gamelan” Ucap Faizal yang sok oke padahal cuma berperan sebagai abu di pertunjukan ini.
“Kalian sudahlah, Ayo kita mulai” Ucap Arya yang sudah siap dengan angklung di depannya.
Para hadirin tamu yang berada di lokasi terkejut dengan para pewaris generasi muda dapat memainkan musik tradisional yang jarang sekali anak muda mainkan saat ini, Membuat semua orang seketika menghentikan aktivitasnya
untuk menyaksikan dan menikmati pertunjukan singkat dari para pewaris generasi kedua ini. Tak lupa para reporter mengabadikan dan menjadikan hot news.
Tak terkecuali Amel yang merupakan salah satu tamu undangan dari pernikahan mewah ini. Amel menikmati pertunjukan sampai menghentikan
aktivitas makannya, Tangannya masih tetap memegang piring dan sendok tetapi pandangannya tertuju pada pertunjukan tersebut.
Entah mengapa tiba-tiba Amel membayangkan sosok Faizal yang memukul gong sedang menari-nari dan tersenyum kepadanya. Sadar dengan apa yang baru saja dirinya pikirkan, Amel langsung menggelengkan kepala dan melanjutkan
makannya yang sempat terhenti.
Memang sejak Faizal menyatakan cinta kepada dirinya, Amel jadi sering melamun dan berhalusinasi tentang Faizal.
Nyonya Hera bercanda gurau dengan teman-teman lamanya, Karena jarang sekali mereka akan bertemu secara full tim seperti ini, Ya maklum mereka semua adalah kolongmerat yang sibuk dengan usaha dan bisnisnya. Mereka adalah
Tuan Bimo seorang Dokter pemilik H-One Grup atau Ayahnya Tika, dan Tuan Zulkar seorang Pebisnis Hidroponik pemilik ZW Grup Ayahnya dari Arya.
“Tidak kusangka Hani, Budi, dan Laras akan menjadi keluarga, Pasti sebentar lagi mereka akan menggendong cucu.” Ucap Nyonya Hera dengan nada sedih karena iri.
“Haha suruh Faizal cepat menikah nanti kau bisa juga lekas menggendong cucu.” Jawab Tuan Zulkar tertawa karna bagaimana temannya menjadi latah seperti ini.
“Jika kau sudah menemukan menantu yang pas, Bawalah ke Rumah sakitku, akan aku beri program hamil yang cepat dan gratis special untukmu.”
Ucap tuan Bimo sambil menepuk pundak teman lamanya itu dengan nada meyakinkan.
“Tetapi, Faizal itu menolak semua wanita yang aku kenalkan, Padahal wanita itu semua dari keluarga terpandang, pintar dan tak kalah cantik.” Jawab Nyonya Hera.
“Aku takut jangan-jangan Faizal tidak tertarik dengan wanita” Jawab Nyonya Hera agak sedih
Sontak saja jawaban konyol dari Nyonya Hera membuat teman-teman lamanya yang saat ini berada disampingnya tertawa terbahak-bahak.
“Kau terlalu jauh berfikir Hera haha, Aku masih ingat bagaimana Faizal mengejar Tika untuk mendapatkan cinta monyetnya.” Jawab Tuan Bimo untuk menenangkan perasaan Nyonya Hera.
“Kenapa kau tidak merujukkan kembali Faizal dengan Tika?” Tanya Tuan Zulkar.
“Sudah pernah, Tapi sepertinya mereka sudah tidak seperti dulu lagi” Jawab Nyonya Hera.
“Aku juga pernah bertanya ke putriku ya kalau sebenarnya aku menginginkan anak kecil yang menjadi pemberisik dan pengerusuh di rumah,
__ADS_1
Tetapi sepertinya ucapanku diwaktu itu hanya angin saja bagi Tika. Katanya suatu hari pasti akan ada anak kecil lucu yang akan mengganggu tidurku, Dan aku tidak tau suatu hari itu kapan juga” Ucap Tuan Bimo.
“Bahkan putriku berencana kuliah spesialis lagi pada semester depan.” Ucap Tuan Bimo yang entah kenapa jadi terbawa suasana sedih dari Nyonya Hera.
“Anak jaman sekarang memang agak susah untuk diaturnya. Tetapi aku belum pernah berbicara hal seperti itu kepada anakku. Ketika aku membicarakan pewaris perusahaan aja Arya langsung keluar rumah dan lama baru
kembali pulang, Apalagi aku ajak bicara tentang cucu bisa-bisa dirinya tidak pulang ke rumah lagi. Aku tidak tau apa melukis senyaman itu padahal uang yang hasilkan jauh dari penghasilan perusahaan jika ia mau meneruskannya.” Ucap
panjang lebar dari Tuan Zulkar yang juga entah kenapa jadi terbawa suasana sedih seperti Nyonya Hera dan Tuan Bimo.
Kedua temannya menepuk pundak Tuan Zulkar yang berartikan yang sabar ya bos.
“Kenapa jadi meneratapi nasib di kebahagian sahabat kita ya?” Tanya Nyonya Hera yang mencoba mencairkan suasana.
“Ya gara-gara kau duluan membahas ingin cucu” Jawab galak dari Tuan Zulkar
“Lebih baik kita berjalan-jalan, lalu menemui Hani, Budi, dan Laras yang bahagia di atas panggung” Jawab Tuan Bimo sambil berdiri untuk bersiap.
. ~
“Kenapa hidangan ini banyak sekali macam jenisnya, Padahal aku sudah mengosongkan perutku waktu akan berangkat kemari tetapi ternyata masih banyak jenis makanan lagi yang belum aku cicipi?” Ucap Amel pelan seperti mengatakan pada dirinya sendiri
“Aku berjalan-jalan aja deh, agar perutku agak longgar.” Ucap Amel dalam hati.
Ketika berjalan-jalan Amel melihat Faizal sedang tertawa bahagia, Amel hanya menatap dan membatin untung aja lumayan jauh lokasinya jadi tidak terlihat.
“Ada Kak Tika dan Kak Arya juga di sana” Batin Amel dalam hati.
“Tidak mungkin aku berada di sana, Aku bukan anak kolongmerat, aku bukan terlahir dengan sendok emas di mulutku” Batin Amel dalam hati, yang kemudian berjalan pergi menjauh.
Kini Amel duduk di taman dengan melihat Air Mancur. Pikirannya masih terbayang-bayang Faizal pernah menyatakan cinta kepadanya dan juga tadi Faizal yang bergaul dengan teman-teman
Tiba- tiba suatu ucapan muncul dalam benaknya “Jika ingin kaya dengan cara cepat menikahlah dengan seorang kaya maka kau akan menjadi kaya juga” (Episode 1). Yap Amel ingin menjadi orang kaya juga, Menurutnya dirinya pantas kok menjadi Nyonya Kolongmerat.
“Aku bisa dibilang dalam katagori wanita cantik, Aku juga memperoleh gelar cumlaude dan wisudawan berprestasi, Bahkan aku tahun depan mendapat beasiswa untuk S2 di kampus luar negri yang memiliki persaingan sangat ketat.” Ucap Amel dalam hati untuk menjauhkan dirinya dari sifat tidak percaya dirinya yang sempat merasuki jiwanya barusan.
Beberapa detik kemudian Amel tertawa “Dan aku juga masih perawan, kan jarang tuh gadis sekarang yang masih perawan” Ucap Amel dalam hati yang membuat dirinya tertawa sampai terbahak-bahak.
Sadar dengan apa yang barusan dilakukannya hingga membuat banyak mata menyaksikannya, Seketika Amel terdiam dan mulai berakting dengan mengambil ponselnya pura-pura seperti sedang melakukan telpon.
Amel berdiri dari kursi taman yang tadi didudukinya, Ketika mulai berjalan baru beberapa langkah meninggalkan lokasi taman, Amelbberpapasan dengan Nyonya Hera Ibunda dari Bapak Faizal. Dengan posisi tangan yang masih memegang ponsel, Amel langsung memasukkan ponselnya kedalam tasnya.
Nyonya Hera yang berpapasan dan juga melihat Amel pun tersenyum membalas senyuman dari Amel.
“Amel” Sapa tuan Zulkar yang merupakan CEO tempat Amel dulu magang semasa masih kuliah.
“Iya Bapak Zulkar” Jawab Amel dengan senyum manisnya.
“Hera. Kau masih memperkerjakan Amel di perusahaan mu?” Tanya Tuan Zulkar kepada temannya itu yang sempat bertanya ingin merekrut Amel menjadi seketaris di CH Group.
“Tentu, Amel salah satu pegawai berkompeten yang perusahanku miliki.” Ucap Nyonya Hera bahagia, Karena Tuan Zulkar sempat ingin menjadikan Amel sebagai seketaris tetap di perusahannya ZW Group.
“Terimakasih atas pujiannya” Jawab Amel dengan ekspresi malu-malu, Tidak menyangka akan mendapat pujian dari Nyonya besar di depan teman-teman Kolongmeratnya.
Selang beberapa detik Faizal muncul dengan tiba-tiba memeluk pundak Nyonya Hera yang merupakan ibu kandungnya tersebut. Tangannya memang tengah memeluk mamanya dari belakang tapi matanya menatap Amek dengan lekat, Faizal terpesona dengan kecantikan Amel pada malam ini.
“Permisi. Saya akan menemui pengantin dulu.” Pamit Amel yang pergi meninggalkan dari para keluarga kolongmerat yang membuat Amel canggung.
“Aku ingin mencari beberapa kue di dalam gedung” Pamit Faizal yang sebenarnya ingin mengejar Amel.
__ADS_1
Faizal berjalan dengan cepat mengejar Amel yang sudah berjalan lebih dulu memasuki gedung acara.
“Kau mau kemana?” Tanya Faizal yang tiba-tiba saja sudah di samping Amel.
“Menemui kak Sarah” Jawab Amel
“Sudah akan pulang?” Tanya lagi Faizal
“Iya” Jawab Amel cuek karena sibuk mencari sesuatu di tas kecilnya.
Entah mengapa Faizal mengikuti Amel sampai ke atas panggung sehingga terlihat Amel dan Faizal datang ke acara pernikahan ini secara bersama.
“Oh ini” Ucap Radit sambil menepuk pundak Faizal namun matanya menatap Amel yang berada di samping Faizal. Tapi Amel malah sedang tertawa dengan Kak Sarah entah membahas apa mereka saling berbicara di dekat telinga masing-masing.
“Doakan cepat nyusul juga” Ucap Faizal sambil menyalami pengantin yang dari tadi senyum bahagia.
“Kata orang dulu kalau mendapat bunga dari pengantin akan lekas menikah loh” Ucap Sarah sambil mencabut bunga dan memberikan kepada Amel dan Faizal.
. ~
“Sudah akan pulang sekarang?” Tanya Faizal yang sepertinya masih ingin bersama Amel.
“Iya” Jawab Amel.
“Ini sedang menunggu ojek online datang” Lanjut Amel.
“Aku tunggu sampai ojek tersebut datang menjemput. Aku sebenarnya ingin mengantarmu” Ucap Faizal.
“Apa kau tak ingin mengatakan sesuatu kepadaku?” Tanya Faizal.
“Besok malam ada jamuan dengan pihak Investor. Tadi sore mereka sudah sampai di kota ini” Jawab Amel dengan melihat layar ponselnya menatap peta ojek onlinenya yang sepertinya sebentar lagi sampai.
“Bukan itu. Apa yang kamu rasakan?” Tanya Faizal dengan mengusap kepalanya dengan kasar. Faizal tak habis pikir mengapa hanya masalah pekerjaan yang ada dibenak Amel.
“Yang aku rasakan saat ini” Jawab Amel ragu yang membuat Faizal penasaran.
“Sakit perut dan mules. Aku makan sangat banyak malam ini” Lanjut Amel yang membuat Faizal dengan mengusap kepalanya dengan kasar untuk kedua kalinya. Ya enggak salah sih kalau Amel saat ini sedang merasakan ini tapi yang Faizal maksudkan adalah rasa tentang perasaan.
“Sampai kapan kau akan menggantungku?” Tanya Faizal dengan to the point, karena sepertinya dengan kode Amel tidak peka.
“Ah ya, Aku sebenarnya ingin mengatakannya tapi bingung mau dari mana dan pada saat momen bagaimana” Ucap Amel.
“Katakan saja sekarang.” Jawab Faizal yang sepertinya tidak sabar dengan jawaban dari Amel.
“Iya. Aku bersedia menjadi kekasihmu.” Jawab Amel dengan senyum yang sangat manis.
Faizal sontak langsung memegang pipi Amel, jika tidak banyak orang di sini mungkin Faizal akan mencium pipi Amel. Beberapa menit kemudian mobil datang tepat di depan Amel, Yap itu adalah
ojek online yang dipesan oleh Amel.
“Hati-hati ya” Ucap Faizal sambil membukakan pintu mobil untuk Amel.
“Iya sayang” goda Amel yang membuat wajah Faizal memerah seperti kepiting rebus.
Mohon ditunggu update selanjutnya ya ~~~
Salam Nana
__ADS_1
Dilarang keras MENGCOPY/MEMPERBANYAK tanpa mendapatkan izin resmi dari penulis.