Dibalik RAHASIA

Dibalik RAHASIA
episode 11


__ADS_3

Rafael melihat isi koper milik deana.


ia melihat pakai satu persatu yang ada hanya pakaian kurang bahan. ia mengangkat pakaian merah terang sangat kurang bahan dan menelan ludahnya sendiri.ia membayangkan bahwa ibu nya lah yang mempersiapkan ini.


kemudian matanya tertuju pada deana yang entah sejak kapan juga menatapnya.


ia menghembuskan nafasnya dan mengelus dadanya, dan berharap ia akan bersabar hingga besok pagi. dan membelikan pakaian yang layak untuk istrinya.


tak berlangsung lama.. Rafael usai mandi dan ia segera ingin istirahat begitu satu kaki nya naik deana segera berdiri dari tempat tidur.


"ada apa?" ucap Rafael bingung dengan sikap deana.


deana menatap Rafael dan membayangkan sesuatu yang tidak-tidak.


kemudian ia perlahan mundur.


"hey kamu kenapa?" Rafael semakin bingung.


"kita tidur seranjang?" ucap deana mengerutkan alis nya tanda tak setuju.


"jadi mau gimana lagi?" jawab Rafael mulai mengerti.


"apa tidak ada ruang atau kamar lagi?" tanya deana lagi.


"ini di sewa cmn ada satu kamar dan tempat ini pribadi jadi santailah, kita tidak akan melakukan lebih" ucap Rafael menjelaskan.


"oke" jawab deana cepat dan segera berbaring kembali di tempatnya.


Rafael tersenyum baru ini ia melihat tingkah deana yang ini.


"akan ada beberapa peraturan tak tertulis" ucap deana serius sambil menatap plafon di atasnya.


"pertama tidak ada kewajiban istri yang wajib jika berdua, kedua tidak ada sentuhan fisik apapun, ketiga tidak boleh mengorek rahasia satu sama lain, ke empat di larang berselingkuh kecuali tidak ketahuan publik" ucap deana panjang lebar setelah itu ia memejamkan matanya karena sudah mencapai batas dan tertidur.


Rafael yang tadinya sangat mengantuk kemudian tidak jadi tertidur karena peraturan ke tiga dan ke empat yang menurutnya perlu di tanyakan alasannya, namun ia mengurungkan niat nya untuk bertanya karena deana sudah tertidur pulas.


ia melihat deana tertidur tentu saja wajah nya seperti damai tak memiliki beban apapun.


ia tersenyum dan membenarkan selimut istrinya dan kemudian tertidur.


###


suasana pagi, cahaya nya menembus jendela kaca besar di balik gorden putih membuat deana terbangun, akhirnya ia bisa tertidur pulas dan nyaman setelah beberapa hari tinggal di rumah mertuanya usai menikah.


ia menoleh ke samping dan mendapati tempat Rafael yang sudah kosong.


ia menoleh di setiap sudut mencoba mencari Rafael berada.

__ADS_1


deana segera ke kamar mandi dan membasuh wajahnya.


kemudian ia membuka pintu keluar mencari Rafael, namun tepat saat membuka pintu Rafael sudah berada di hadapannya dan membawakan paper bag di tangan kanannya.


"kamu pakailah ini habis itu keluar dan makan bersama" ucap Rafael menyodorkan paper bag berisi pakaian untuk istrinya.


deana menatap wajah Rafael dengan seksama, entah mengapa ia nyaman dengan sosok di hadapannya ini.


tak menunggu waktu lama deana selesai dan keluar dari kamarnya. mendapati Rafael yang sudah duduk di depan meja dan sepertinya Rafael menunggunya untuk sarapan.


"berapa lama kita tinggal disini?" tanya deana sembari duduk dan meraih makanan nya.


"hanya berlangsung tiga hari" ucap Rafael tenang sambil menyantap makanannya.


deana mengangguk mengerti.


mereka berdua sibuk pada makanan masing-masing.


usai menyelesaikan makanan nya rafael menatap deana yang sedang asyik sendiri menyantap makanannya.


"aku boleh bertanya?"tanya Rafael tiba-tiba.


"hm?" deana menatap sekilas lalu kembali menatap makanan nya.


"soal peraturan semalam nomor 3 dan 4" ucap rafael..


"apa ada yang aneh?" ucap deana dengan datar.


"tentu saja kita sudah menikah" ucap Rafael cepat.


deana mantap nya datar bahkan sedikit memberi ekspresi tidak suka karena memang belum terbiasa dengan kalimat tersebut.


Rafael kemudian terdiam karena deana sama sekali tidak menanggapi pertanyaannya.


se usai makan karena cuti nya 3 hari ia menghabiskan waktunya di villa di depan laptop, mengerjakan beberapa pekerjaannya yang baru di kirim oleh sahabatnya Leo.


hingga hari ke 3 pun tiba.


deana dan Rafael kembali ke rumah pribadi milik Rafael.


begitu kembali ke rumah beberapa pengurus rumah menundukkan kepala nya karena sang tuan rumah kembali dengan Membawa nyonya baru.


seluruh pelayan begitu takut dan segan pada deana karena sama sekali ia tidak menunjukkan senyum.


para pelayan sudah menyiapkan kamar untuk deana tepat di sebelah kamar Rafael.


tentu saja hal itu membuat pertanyaan para pelayan karena majikannya yang baru saja menikah malah memilih berpisah kamar.

__ADS_1


namun para pelayan tak berani bersuara karena kedua majikannya itu sangat dingin.


esok pagi pun tiba seperti biasa Rafael bangun pagi-pagi bersiap akan pergi ke kantor.


namun yang berbeda adalah ia sarapan bersama sang istri di meja makan.


meski istrinya ini bagaikan robot yak berbicara sepatah kata pun dari kemarin semenjak pulang.


namun Rafael tak berkomentar apa-apa. ia tau kalau deana memang sangat jarang berbicara.


"kakak!!!" teriak Vanny tiba-tiba muncul dan bergabung di meja makan.


"tidak usah aku sudah makan" ucap Vanny pada pelayan yang hendak menyiapkan piring untuknya.


"tumben pagi-pagi kemari" ucap Rafael sembari menghabiskan makanannya.


"memang tidak boleh aku berkunjung ke rumah kakak ku sendiri? atau kakak tidak suka aku menganggu karena kakak sudah punya istri ?" ucap Vanny panjang lebar memasang wajah kesal.


"tidak bukan itu maksudku" jawab Rafael cepat dan tidak bertanya lagi.


"aku berangkat" Rafael segera berlalu dan mengendarai mobil nya sendiri menuju kantor.


di meja makan tersisa deana dan Vanny. sebenarnya Vanny masih rada takut pada deana namun ia mencoba memberanikan diri.


ia menghentakkan tangannya di meja hingga piring-piring ikut bergetar.


"ingat!! sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyukaimu!!" ucap Vanny pada deana.


"....??" deana menatap nya bingung namun setia dengan sikap nya yang tenang.


Vanny kemudian memberanikan diri menatap mata deana lama-lama lalu berteriak.


"AKU BENCI TATAPAN MU ITU!" ucap Vanny sambil menggertakkan giginya. sepertinya tatapan deana itu bagaikan ingin menerkamnya saat ini juga.


Vanny segera pergi menjauhi kakak iparnya entah kenapa jantungnya serasa ingin copot padahal deana sama sekali tidak berkata sepatah kata pun. namun tatapan dinginnya itu bagaikan membawa trauma pada diri Vanny, mengingat kembali bagaimana deana memukuli lawannya dengan kayu kerasa tanpa perasaan sedikit pun.


ada begitu banyak darah terciprat namun ekspresi nya tetap tak berubah sama sekali.


"sial sial sial... kenapa wanita gila itu yang harus menikah dengan kakak?" geram Vanny.


sesampainya di sekolah Vanny badmood seharian membuat teman-teman nya bingung.


"Van Lo kenapa sih?" ucap Lilis bingung sama sikap Vanny.


"Lo udah kerjain tugas fisika tadi belom?" ucap Lilis lagi.


"udah" jawab Vanny singkat sambil melipat tangannya di meja karena pikirannya benar-benar kacau.

__ADS_1


__ADS_2