Dibalik RAHASIA

Dibalik RAHASIA
episode 15


__ADS_3

sesampai nya di kantor Rafael, deana langsung di kenalkan dengan Leo yang tentu saja mereka sudah saling kenal.


"kasih dia di tempat yang kosong" ucap rafael sembari duduk di kursinya.


"Baik pak bos" ucap Rafael dengan senang hati.


deana di arahkan ke tempat yang akan menjadi bagian nya.


"maaf jika lancang posisi yang kosong adalah bagian staff kantor apakah tidak keberatan?" ucap Leo hati-hati dan menjelaskan secara detail pekerjaan yang akan di emban oleh deana.


tak begitu lama deana cepat paham dan memulai hari nya bekerja.


tak terasa waktu begitu cepat berlalu, jam bekerja pun berakhir


deana senang karena hari ini benar-benar di sibukkan oleh pekerjaan meski kadang ia bingung harus melakukan apa selanjutnya namun hatinya senang karena pikirannya teralihkan dari masa lalu yang terus menerornya beberapa hari ini.


"mau pulang bareng?" ucap Rafael yang tiba-tiba saja sudah muncul depan meja kerja deana.


deana mengangguk tanpa membantah sedikit pun.


orang-orang yang melihat mulai berbisik.


"tumben pak direktur tampan keliatan di ruangan para karyawan biasa?" ucap salah seorang wanita pada temannya.


"sepertinya ia menghampiri seseorang" ucap seorang lagi.


"siapa wanita itu?" jawab salah satu nya lagi.


"waahh karyawan baru?" ucap wanita pertama .


"gila kok pak direktur mau sih repot-repot menghampiri wanita itu? kan bisa saja ia suruh asistennya?" ujar seorang fans fanatik Rafael yang bekerja disana.


Leo yang mendengar itu sedikit kesal namun ia tak ambil pusing karena hal gosip seperti bukanlah urusannya.


Rafael terfokus menunggu deana yang merapikan tas dan meja nya lalu mereka berangkat.


Leo sudah lebih berangkat namun Rafael segera mengantarkan istrinya itu dahulu.


selama perjalanan di mobil mereka berdua masih canggung untuk memulai obrolan.


Rafael berhenti memarkirkan mobil nya di sebuah restoran yang se arah jalan pulang.


deana menatap heran karena Rafael tiba-tiba berhenti di restoran tersebut.


"kita makan siang dulu, aku sudah lapar" ujar Rafael.


"tumben sekali" ucap deana.

__ADS_1


"kita sudah lama tidak makan berdua bersama" timpal Rafael menjawab pertanyaan tak langsung deana.


"bukankah kita sering sarapan bersama?" ucap deana sedikit tersenyum.


"itu hal yang berbeda" jawab Rafael.


"sekalian kita kencan pertama setelah beberapa Minggu menikah" ucap Rafael lagi sembari memamerkan senyumnya yang begitu jarang dan di kagumi oleh seluruh gadis yang melihat nya.


Deana menatap rafa tersenyum tulus.


sembari menunggu makanan pesanan datang. Rafael melihat sekilas yang di tunjukkan deana sungguh senyuman itu berhasil mendebarkan hati Rafael yang sudah lama membatu.


"bagaimana hari-hari mu?" tanya Rafael yang memang akhir-akhir ini ia sangat jarang dan telat pulang sehingga ia tak begitu memperhatikan istri manis nya ini.


"begitulah tidak terlalu buruk" ucap deana.


"tapi wajahmu seperti menunjukkan tidak baik-baik saja" jelas Rafael.


"aku tidak mengerti bagian mana yang tidak baik-baik saja" jawab deana.


"kantung mata mu membesar dan menghitam,sepertinya kau kurang tidur, apa yang sedang kau pikirkan?" ucap Rafael jujur.


"banyak hal" jawab deana se singkat mungkin.


"coba katakan" tanya Rafael.


"......" deana hanya terdiam, memang ia sangat butuh teman yang siap mendengarkan ceritanya namun ntah mengapa bibirnya terkatup rapat tak bisa menjelaskan apa yang di rasakan oleh hati dan pikirannya.


untungnya Rafael begitu peka ia tak memaksa istrinya itu menceritakan masalah deana.


"tidak apa-apa jika tidak bisa mengatakannya semoga dengan ini beban pikiranmu sedikit berkurang" ucap Rafael tulus.


mereka sambil menyantap makanannya.


deana menatap rafa seperti ada sesuatu yang ingin ia ucapkan.


Rafael melihat lirikkan deana yang sejak tadi ia perhatikan.


"terimakasih" ucap deana sedikit malu, hanya mengucapkan kalimat itu sudah membuat kedua pipinya memerah.


Rafa tersenyum geli melihat ekspresi deana yang melihat ke arah lain ketika mengucapkan terimakasih.


"trimakasih buat hari ini dan juga pekerjaan barunya" deana kembali memasukkan sendok berisi makanan ke mulutnya.


sama sekali ia tak sanggup menatap Rafael. entah mengapa kalimat itu sangat membuatnya merasa malu.


"katakan saja jika kau ingin sesuatu aku akan memberikannya untukmu" ucap Rafael tersenyum tulus.

__ADS_1


Se usai makan mereka berdua kembali ke rumah, bibir sri yang sedang menyapu teras bergegas menyambut ke dua majikannya dengan menundukkan kepalanya.


Rafael tersenyum dan segera masuk ke kamarnya.


seperti biasa selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian ia membuka laptop nya dan melanjutkan pekerjaan nya hingga malam tiba.


"terimakasih bi" ucap deana dari seberang kamar yang terdengar oleh Rafael.


"sama-sama nyonya, itu sprei nya sudah saya cuci bersih hehe" ucap bibi Sri bangga karena hasil kerjanya, hati nya senang baru ini nyonya rumah tersenyum setulus itu.


Rafael mendengar hal itu entah apa yang sedang ia pikirkan, muncul ide di kepalanya namun ia ragu untuk melakukannya karena ia tau bahwa sedingin apa istrinya.


namun ia tetap nekat pergi ke kamar deana dan segera rebahan di ranjangnya. berusaha sesantai dan se natural mungkin agar deana tak mengusirnya dari sana.


"ngapain kesini?" tanya deana dengan menyipitkan matanya tak setuju melihat Rafael rebahan di atas ranjang miliknya.


"kenapa?" tanya balik Rafael yang mengundang kekesalan dalam diri deana.


"balik ke kamar mu atau......" ancam deana


"atau apa?" jawab Rafael menantang, ia sama sekali tidak menunjukkan rasa takut mendengar ancaman itu.


"Cih.. kalau begitu aku yang akan ke sebelah" ucap deana menuju kamar Rafael.


Rafael tak menjawab ia mengamati deana yang pergi menuju kamarnya.


sedikit senyum menyungging di bibirnya, entah mengapa hal itu adalah sesuatu yang menguntungkan baginya.


setelah deana rebahan di tempat tidur milih Rafael, Rafael segera kembali ke kamarnya dan mengunci pintu kamar nya sehingga deana kembali menyipitkan matanya kesal.


"apa yang kau lakukan?" ucap deana dengan menaikkan sedikit volume suaranya.


"bisakah kita tidur bersama malam ini?" ucap Rafael terang-terangan mengutarakan maksudnya.


"tidak, ingatlah janji kontrak pernikahan kita" ucap deana mengingatkan.


"tidak ada tertulis bukan tidak boleh tidur bersama?" ucap Rafael tersenyum miring.


"aku sudah mengatakan nya pada mu..."


"tidak ada bukti.. janji kontrak yang sah adalah yang telah kau tanda tangani. jadi tidak ada larangan jika kita tidur bersama" terang Rafael panjang lebar.


"hanya tidur bersama bukan lebih, lagian akhir-akhir ini kau susah tidur aku akan menemanimu" ucap Rafael sambil naik dan merebahkan tubuhnya di samping deana.


deana berdecak kesal namun tak berkata apapun, hatinya sangat kesal namun tak ingin berdebar lebih lanjut karena ia sudah lelah ingin cepat-cepat beristirahat.


ia memakai selimut lebar yang juga di pakai Rafael dan baring membelakangi Rafael.

__ADS_1


Rafael sedikit tersenyum..hatinya sangat senang ia tak perlu harus menggunakan tenaga lebih untuk memastikan agar deana mau tidur dengannya, untung nya istrinya ini tidak suka berdebat, sehingga hanya pasrah saja.


~bersambung~


__ADS_2