
Rafael menerima panah itu dan mendengar penjelasan permainan nya dari bapak yang usianya kira-kira 60 tahun.
"jika anda mampu memanah tepat sasaran di tengah anda bisa mendapat hadiah, tapi yang di gantung di atas sana adalah hadiah spesial jika anda mampu memanah tali yang menggantung boneka besar itu sampai putus maka itu adalah milik anda" penjelasan pak tua itu dengan senang.
"baiklah aku akan mendapatkan nya untukmu" ucap Rafael antusias.
deana tersenyum melihat semangat Rafael untuk memanah tali boneka yang tergantung di atas sana.
satu panah meleset, panah kedua juga meleset.
"sial kenapa memanah ini cukup sulit apa bedanya dengan menembak dengan pistol?" ucap Rafael yang terheran baginya menembak atau memanah adalah sama-sama mengenai target dari jauh.
kemudian deana mengambil satu panah dan mencoba fokus untuk mendapatkan boneka besar tersebut.
"yaahhh" panah deana melesat sangat jauh dari target.
"hahaha apa-apaan itu aku kira kau beneran bisa." ucap Rafael meledek.
"ahh aku kira aku bisa" ucap deana yang memang tidak mahir memanah, skill bagaikan tumpul karena biasanya ia juga melempar benda apapun secara brutal dan gila, tentu saja selalu tepat sasaran karena pikirannya penuh ke lawan saat bertarung.
namun kali ini berbeda deana tak mendapat emosi itu karena saat ini dia senang.
"sisa dua panah lagi" ucap pak tua yang sedari tadi tersenyum melihat aksi kedua pasangan ini.
Rafael mencoba fokus dan memanah tali boneka itu dan akhirnya mengenainya namun tak berhasil membuat tali itu terputus.
"hey sedikit lagi" ucap deana girang sambil menepuk bahu Rafael berharap Boneka Teddy bear jumbo itu terjatuh dan menjadi miliknya.
kembali lagi Rafael memanah dengan serius begitu dapat peluang untuk meluncurkan panah....saat panah itu bergerak deana dan Rafael serta pak tua yang melihat memandangi setiap detik arah panah dan akhirnya anak panah itu mengenai target dan membuat boneka itu terjatuh.
"yeeeeee" deana dan Rafael berteriak kompak dan senang karena target mereka berhasil didapatkan.
jam sudah menunjukkan pukul 5 sore sudah terlalu lama bermain di tempat ini.
Rafael mengajak deana pergi ke pantai jam segini masih ramai pengunjung deana yang masih memeluk boneka Teddy bear hadiah memanah tadi sambil menikmati pemandangan di pinggir pantai sambil duduk menikmati semilir angin yang berembus membuat rambutnya berkibas pelan.
__ADS_1
rafael yang baru datang membawa es kelapa pun ikut duduk di samping deana.
ia sejenak memandang wajah teduh deana yang memandang lurus ke ombak pantai.
langit semakin gelap pengunjung pantai pun perlahan bubar dan sepi.
"hari ini kau terlihat manis" ucap Rafael jujur.
"terimakasih" jawab deana singkat dan tersenyum.
keduanya kembali berdiam dan menatap langit yang perlahan gelap.
mereka tenggelam dengan pikiran masing-masing tanpa membuka suara.
###
pagi hari seperti biasa kegiatan deana Rafael sibuk pada kegiatan masing-masing.
bahkan mereka sama sekali tidak saling tegur sapa seolah kemarin sudah lama berlalu.
Rafael tampak lebih sibuk, kening nya berkerut melihat berkas yang sedang ia pegang di meja kerjanya.
Rafael dan leo lagi-lagi meninggalkan kantor dan pergi ke markas khusus yang mereka sebut the VLID.
"hey ada kabar buruk, satu Minggu yang lalu salah satu mata-mata dari timku masuk ke markas musuh, ia mendapat informasi bahwa ternyata dugaan kita benar kalau si monster YULAS itu masih hidup dan berkeliaran" ucap vlictor dengan serius.
"sudah ku duga, kita harus hati-hati aku dengar mereka sedang membuat project gila yang akan merugikan banyak orang" ucap Leo dengan tatapan serius.
"strategi kita saat ini adalah tingkatkan pengamanan dan kekuatan, jangan beri jivanch kesempatan untuk menang barang sedikit pun, aku akan menemukannya dan membunuh monster kesayangannya itu bersama dengan nyawa nya" ucap Rafael dingin dengan tatapan tajamnya.
yang lainnya terdiam dan mengangguk setuju karena mereka memiliki dendam yang sama terhadap jivanch yang sudah membunuh banyak rekan-rekannya demi kerakusannya.
###
"hey gadis manis, bisakah aku bicara dengan mu sebentar?" ucap seorang pria tua yang usianya berkisar 40 tahun namun pakaiannya rapi menggunakan kemeja hitam rapi dan kacamata hitam seperti penampilan bodyguard di televisi menurut Vanny.
__ADS_1
"maaf saya sedang sibuk" ucap Vanny panik karena takut pada pria yang mengajaknya bicara ini.
"saya sudah bicara baik-baik, dan saya hanya ingin bicara dengan nona sebentar disana" ucap pria itu lagi sambil menunjuk mobil hitam miliknya bermaksud menyuruh Vanny agar mau masuk ke mobil.
namun Vanny tak mau mendengarkan dan berlalu begitu saja meninggalkan pria itu, tak di sangka tangan Vanny di raih pria itu dan menggenggam erat bermaksud untuk menyeret Vanny.
"aaarrrgghhhhhh" vanny mencoba memberontak dan melepaskan tangan pria itu.
"lepas brengsek, dasar pria tua menyebalkan" emosi Vanny melunjak begitu tangannya semakin di genggam kuat, wajah garangnya semakin terlihat jelas. namun, kekuatannya tak cukup untuk menahan pria ini menyeretnya entah kemana.
"TOLONGG....!!!" Vanny mencoba berteriak meminta bantuan dan kemudian langkah pria itu berhenti setelah melihat yang tak jauh dari matanya, ada sorotan mata yang selama ini menjadi bagian trauma dalam diri Vanny.
deana yang sedang menatap begitu tajam ke arah pria dan juga Vanny yang sedang ketakutan.
"sial tatapan mata itu, aku sangat membencinya" ucap Vanny yang ketakutannya beralih pada deana.
perlahan langkah deana mendekat dengan langkah pelan dan tenang.
meski terlihat tenang, sangat jelas bahwa deana terlihat begitu menakutkan bahkan pria yang tadinya menggenggam erat tangan Vanny mengendurkan genggamannya, pria itu berkeringat dingin ia seperti di hipnotis dan tetap mencoba untuk tetap tenang tak mau memulai perkelahian dengan wanita yang ada di hadapannya ini.
"entah mengapa melihat matanya aku menjadi takut, aura ini sangat familiar, tatapannya bagaikan ingin membunuhku saat ini juga" batin pria itu.
"ja-ngan coba-coba menyentuh orang-orang ku!!" ucap deana sedikit berbisik ke telinga sang pria ini dengan nada mengintimidasi.
deana melepaskan genggaman pria itu dan menarik Vanny ikut dengannya.
seketika Vanny terdiam, semakin menakutkan deana di matanya,
"dia ini sebenarnya apa?" batin Vanny.
setelah agak menjauh dari sang pria itu pun sudah pergi.
Vanny memberontak dan melepaskan genggaman deana.
"heh dengar yaa jangan pikir kalau aku akan berterimakasih padamu, aku ini tetap membencimu" ucap Vanny dengan nada kesal.
__ADS_1
"lagi pula Lo ngapain kesini?" tanya Vanny yang memang penasaran karena secara kebetulan deana ada di sekitar sini dan menyelamatkan nya yang hampir saja di culik orang yang tidak jelas.
~bersambung~