
"akan kuceritakan bila waktunya tiba" ucap deana mengalihkan pembicaraan.
"hah? apa susahnya sih langsung beritahu" ucap Desy heran menatap ke arah deana penasaran sambil menatap curiga.
"Lo gak ngampus Des?" tanya deana karena Desy masih sempat bermain kesana kemari.
"nii dah mau pergi berangkat,"ucap Desy cengar-cengir sambil menghabiskan semua camilan yang ada di toples dan membawa tas nya buru-buru.
"belajar yang bener, tu makan nya macam bocah aja" ucap deana terkikik geli karena kelakuan sahabat nya.
"bagi bokap and nyokap gue masih bocah padahal udah umur 20 tahun" jawab Desy mengingat ke dua orang tuanya.
"dah gue berangkat ya bye" ucap Desy masih menggigit camilan dan pergi buru-buru.
"ya hati-hati" deana tertawa riang melihat tingkah sahabat nya itu baginya sangat lucu.
drrrtttt.....drrttt...
lagi-lagi ponsel milik deana berbunyi menandakan ada yang menelepon.
"halo" ucap deana mengangkat telepon.
"10 menit lagi saya sampai di tempat mu siap-siap yaa" ucap seorang yang sudah tak asing lagi bernama Rafael.
"......" deana tidak menjawab namun telepon langsung di matikan se usai Rafa mengutarakan maksudnya.
10 menit kemudian...
"h-hai" ucap Rafa masih gugup berbincang dengan deana.
"mau kemana?" tanya deana heran.
"ke suatu tempat" ucap Rafael tersenyum.
Rafael membukakan pintu mobil nya mengikut gaya ala-ala pria gentle yang ada di televisi.
deana segera masuk menerima perlakuan calon suami nya dan masuk ke mobil.
kemudian sesampainya di tempat yang tidak asing baginya yaitu mall terbesar yang ada di kota ini.
lalu Rafael mengajak ke toko emas membelikan deana cincin pernikahan.
"aku ingin beli cincin sengaja aku ajak Kamu karena aku tak tahu ukuran jarimu" ucap Rafael tersenyum.
deana mengangguk dan melihat-lihat ke arah cincin yang sudah tersusun rapi.
"nyari cincin nikah mbak?" tanya seorang karyawan penjaga toko.
"iya" ucap deana singkat.
"mbak tolong cari cincin yang paling bagus dan mewah" ucap Rafael
deana menoleh ke arah Rafael tidak setuju.
__ADS_1
"cari yang sederhana aja mbak" ucap deana.
Rafael menatap ke arah deana bingung, ia berpikir bahwa deana ragu membeli yang mahal karena sungkan padanya.
karyawan toko itu menunjukkan cincin polos dengan sedikit permata di tengahnya.
"karena jari manis anda mungil ini sangat cocok untuk mbak nya" ucap karyawan itu dengan sepenuh hati.
deana hendak meraih cincin yang di rekomendasikan namun Rafael duluan yang mengambil dan memasangkan nya di jari manis sang calon istri.
deana hanya menurut dan pasrah atas kelakukan Rafael terhadapnya di hadapan orang-orang banyak.
"wahh cocok banget ini aja mbak bungkus" ucap Rafael cepat.
"kalau bapak mau di cincinnya bisa tulis nama" ucap karyawan tersebut tersenyum sumringah melihat ketampanan Rafael serta kelakuannya yang romantis, sungguh pria di hadapannya ini adalah idaman para wanita tapi sayang nya ia sudah memiliki pasangan.
baginya wanita bisa mencintai tanpa memiliki, batin sang wanita penjaga toko.
"oh ya? boleh" ucap Rafael mengiyakan.
deana hanya mengikuti apa saja kemauan Rafael.
"baik namanya siapa pak?" ucap karyawan antusias.
sejenak Rafa menatap ke arah deana.
"Rafa dan deana" jawab deana singkat.
kemudian Rafael mengajak deana membelikan beberapa pakaian.
"totalnya Rp.6.679.000.00 pak" ucap seorang kasir .
Rafael menatap deana heran karena belanjaan nya yang tidak menguras banyak uang. semakin yakin bila deana masih sungkan padanya.
Rafael segera membayarkan belanjaan tersebut.
###
"makan yuk" ucap Rafael mulai berbicara santai.
"makan nya di tempat biasa saja ya seperti nasi Padang" ucap deana jujur karena dirinya memang lebih nyaman makan di warung.
"kenapa?" tanya Rafael yang sejak tadi terheran-heran.
"aku kurang nyaman di tempat yang terlalu mewah"ucap deana jujur.
"OOO" angguk Rafael menandakan mengerti.
sesampainya di warung makan Rafael tak henti-hentinya memandangi calon istri yang duduk di hadapan nya.
hingga makanan di piring nya tidak habis karena terlalu fokus memandangi deana. baginya ia semakin tertarik ingin tahu lebih banyak tentang wanita yang ada di hadapannya.
tatapan wanita ini terkadang terlihat dingin ketika marah atau ketika tidak menyukai sesuatu. namun ekspresi datar lah yang sering ia pakai. hingga sulit untuk di tebak apakah ia sedang kesal,senang,atau sedih.
__ADS_1
"deana" panggil rafa tetap menatap tak berkedip sekalipun.
"ya?" jawab deana yang mulai risih karena sedari tadi ia sadar bila Rafael terus menatap nya. dan itu sangat aneh.
"aku ingin memperkenalkan mu dengan keluargaku, kapan kamu bisa?" tanya Rafael hati-hati.
"akhir pekan ini aku bisa" jawab deana.
"berarti besok" jelas Rafael
"hngg iya" jawab deana baru menyadari bahwa besok adalah akhir pekan.
"baik" jawab Rafael mengiyakan.
###
"oik Rafa Lo darimana aja sih asal pergi aja dari kantor" ucap Leo kesal karena tadi siang Rafa asal pergi begitu saja.
memang akhir-akhir ini Rafael bersikap aneh.
"kan ada elu, apa gunanya gue gaji elu" ucap Rafael sepertinya mood nya sedang bagus.
"hmmm" Leo terheran karena sikap Rafa beberapa hari ini.
"Lo cerita sama gue lo kenapa? aneh banget tau ngeri gue lihat nya" ucap Leo mendekatkan kursi nya dan menatap Rafael dalam-dalam.
"ya gak usah mepet juga" ucap Rafael risih karena ulah sahabatnya yang duduk di sebelahnya merapat-rapat lalu mendorong kursi Leo hingga jauh karena emang kursi itu bagaikan kursi Roda bisa di dorong kesana kemari.
"oke gue cerita".ucap Rafael pasrah.
"gue bakal menikah" ucap Rafa tersenyum semakin lebar.
ntah mengapa kepala Leo bagaikan di sambar petir mengingat perkataan Rafa dan senyum nya yang amat lebar itu membuatnya begidik ngeri, bulu kuduk nya semua naik karena ucapan yang baginya itu tidak masuk akal.
seorang Rafael yang selama ini anti wanita bahkan Sofia teman kuliahnya mereka sering bersama namun ia sama sekali tidak tertarik dengan wanita mana pun dan sekarang ia malah mengatakan dengan wajah sumringah akan menikah?
"apa itu masuk akal?" kata leo dengan tatapan matanya semakin melotot.
"ada apa sih?" tanya Rafael mulai merasa aneh dengan asisten nya.
"tidak...tidak ..." ucap Leo seolah sedang panik.
melihat tingkah aneh Leo, Rafa segera melempar kan buku yang lumayan tebal hingga mengenai wajah Leo dan membuat Leo tersadar dari kelakukanya.
"berarti ntar lagi aku punya ibuk bos gitu?" ucap Leo ngasal.
Rafael kurang yakin akan hal itu namun ia akan percaya pada deana.
"siapa?" selidik Leo
"ntar lagi Lo juga tau"
"......" Leo tak mengucapkan kata-kata lagi selagi menunggu sampai Rafael memberitahu siapa gadis yang berhasil menaklukkan si bos.
__ADS_1
~bersambung~