Dibalik RAHASIA

Dibalik RAHASIA
episode 8


__ADS_3

semua mata tertuju pada Vanny yang berbicara tidak masuk akal.


"Vanny jaga sikap mu" ucap Rafa kesal karena adiknya menjelekkan calon istrinya.


"aku serius kak, dia bukanlah perempuan baik-baik" jawab Vanny semakin ingin meyakinkan kakaknya.


"kenapa kau berpikir begitu?" tanya Stephani penuh selidik.


"waktu itu......" Vanny mencoba mengingat kembali.


flashback....


"eh Van Lo liat si nana?" tanya Yuli mencari-cari.


"gak tau yul" jawab Vanny bingung dan ikut mencari Nana.


kring...kriiiing bel pulang sekolah....


"Van dari tadi Nana gak keliatan, udah dua mata pelajaran dia tak ikut" tutur Yuli semakin panik.


"mungkin saja dia pulang" jawab Vanny santai.


"ya kan biasanya dia gak begini Van" jelas Yuli masih khawatir.


"dah dah besok kita tanyain dia kemana okeh" ucap Vanny menenangkan.


Vanny dan Yuli masih di luar pagar menunggu jemputan namun baru kali ini jemputan mereka terlambat.


setelah anak-anak SMA lain sudah pulang dan sepi .. terdengar suara tangisan tak jauh dari ujung pagar sekolah seorang anak SMA menangis sesenggukan sambil memeluk lutut nya dan menunduk.


"ada yang menangis?" ucap Vanny celingak celinguk mencoba mencari sumber suara.


"Van Van disana " tunjuk Yuli cepat.


"NANA!!!??" teriak Yuli saat tau bahwa siswi yang menangis itu adalah Nana sahabatnya.


"kok Lo disini? kenapa Lo bisa begini?" tanya Yuli panik sembari matanya melotot tak percaya.


sambil membantu Nana berdiri gadis itu sudah gemetaran sekujur tubuhnya terdapat luka-luka memar seperti terkena libas benda tipis.


"Nana siapa yang ngelakuin ini.?" ucap Vanny tak percaya apa yang dia lihat.


"...hiks..hiks... orang itu..hiks.." Nana yang menangis hampir tak mampu berbicara lagi, dan menatap seseorang dari jauh yang memegangi kayu kotak di tangannya berjalan menjauh dan berbelok arah.

__ADS_1


Vanny mengikuti orang tersebut sedangkan Yuli membawa Nana ke ruang UKS untuk di obati.


Vanny mengikuti dengan pelan-pelan melihat apa yang terjadi.


seseorang itu ukuran tubuhnya tak terlalu jauh dari Vanny namun sekilas tatapan nya seperti benar-benar ingin membunuh seseorang.


Vanny terus mengikuti orang itu dan berhenti di tempat sepi yang sangat jarang di kunjungi banyak orang.


Vanny bersembunyi dan melihat perkelahian 3 anak laki-laki dewasa melawan 1 perempuan bermodalkan kayu di tangannya.


gadis itu memukul membabi buta ke tiga pria di hadapannya tanpa ampun namun seorang lagi yang tiba-tiba muncul menghentikan gadis itu dan memisahkan mereka.


lalu ketiga pria itu terdapat luka-luka yang cukup parah dan segera di larikan ke rumah sakit. namun gadis itu di biarkan begitu saja.


keliatannya seseorang yang baru muncul adalah sekawanan ke tiga pria tersebut.


gadis itu berdiri dan menatap ke bawah membiarkan darah di keningnya serta di tangannya mengalir begitu saja.


Vanny begitu takut melihat kejadian tersebut hampir saja terjadi pembunuhan berencana disana.


Vanny terduduk lemas sambil menutup mulut nya agar tak bersuara. bahkan keringat dingin Vanny bercucuran. wajahnya pucat.


tak terbayang nasib ketiga pria yang tadi di serang.


Vanny hendak berdiri dan kabur di tempat tersebut namun di belakangnya sudah ada gadis yang menurutnya itu sangat kejam tak punya hati nurani.


iya menatap gadis itu dengan wajah pucat ketakutan namun tubuhnya seolah membeku tak mampu bergerak sedikit pun.


tatapannya sangat dingin dan menyeramkan.


"tutup mulut mu dan pulanglah" ucap gadis menyeramkan itu dengan tatapan dinginnya, seolah luka di tubuhnya tak terasa sakit sama sekali.


kaki Vanny gemetaran hebat dan menatap gadis itu pergi ke arah yang berbeda.


baju kaos biru Dongker yang dikenakan sudah basah dan sangat kotor akibat darah dan tanah.


rambutnya nya di kuncir tidak rapi dan sangat berantakan, kantung matanya besar bagaikan mata panda karena tidak tidur teratur beberapa hari.


dan tubuhnya kurus namun terlihat sangat kuat.


Vanny sangat bersyukur karena dia hanya di perintahkan untuk tutup mulut dan segera pergi dari sana.


flashback off

__ADS_1


"tidak salah lagi tatapan mata nya sama" gumam vanny mulai keringat dingin.


"gadis ini sangat menyeramkan jangan sampai dia menikah dengan kakak" ucap Vanny tak setuju dalam hatinya.


"Vanny?? hey Vanny?!!" Stephani mengguncang tubuh Vanny yang sedari tadi melamun.


"ada apa?" tanya Stephani lagi.


"ada apa denganmu" ucap Stephani kebingungan melihat sikap Vanny yang aneh semenjak melihat deana.


ingin rasanya Vanny mengungkapkan tentang masa lalu tersebut namun ia juga ragu bila ia yang akan menjadi sasaran gadis menyeramkan di hadapannya ini.


namun ia juga tidak tega melihat kakaknya dan keluarganya punya hubungan dekat dengannya. ia takut jika deana akan membunuh keluarga nya bila se waktu-waktu keadaan keluarga tidak baik-baik saja dan membuat deana mengamuk.


melihat tatapan deana tanpa ekspresi membuatnya tambah bingung seolah deana kan membunuh nya kapan pun ia mau.


dan mulut Vanny tetap bungkam namun tetap tidak terima akan pernikahan ini.


"sudah-sudah kita mulai saja pertukaran cincinnya" ucap Gusman tanpa basa-basi lagi.


Gusman setuju dengan pernikahan ini karena ia melihat deana adalah seorang yang bisa di andalkan hanya dari caranya menanggapi reaksi Vanny yang tiba-tiba aneh.


ia yakin deana memiliki sikap tenang dan tidak terburu-buru ketika di pojokan oleh orang lain.


dan lamaran pun berlangsung seperti acara lamaran pada umumnya.


Rafael memasang cincin di jari manis deana dengan senyuman manis. begitu pulak dengan deana memasangkan cincin di jari Rafael dengan senyumnya yang tipis namun tetap terlihat manis.


"kalau bisa pernikahannya di langsungkan secepat mungkin" ucap Gusman senang.


"paa ini adalah pernikahan anak pertama kita, harus ada persiapan yang besar dan dia juga harus di kenalkan pada keluarga besar kita pada makan malam besok.


"hmmmmm" Gusman tampak berpikir karena ucapan Stephani ada benarnya. ada baiknya jika calon menantunya di perkenalkan dulu pada keluarga besar untuk melatih dan memperkenalkan etika keluarga besar untuk memulai kehidupan baru, hal itu memang sudah menjadi tradisi apalagi karena ia adalah seorang pengusaha terkenal harus menjaga nama baik keluarga.


"pak kalau bisa pernikahannya sederhana saja tidak perlu terlalu mewah" ucap Jery yang memang permintaan deana saat di telpon tadi siang.


"tapi ini sudah tradisi keluarga kami" ucap Stephani dengan tenang.


"pertemuan keluarga adalah hal yang wajar namun tidak di wajib kan bila pesta nya harus besar-besaran, deana ingin pernikahan nya tidak terlalu mewah karena ia tidak terlalu nyaman akan hal itu" ucap jery jujur dan sopan.


" baiklah kalau begitu saya setuju" ucap Gusman menyetujui.


Rafael mendengar hal itu sangat senang namun ia tetap duduk dengan tenang dan tetap stay cool.

__ADS_1


~berasambung~


__ADS_2