
Vanny ikut bergabung ke rombongan Lilis dan kawan-kawan nya.
sementara itu ...deana keliatan gelisah di kamarnya, ada sesuatu yang tertahan di hatinya yang sulit untuk di ungkapkan.
kepala nya tiba-tiba berdenyut entah trauma nya yang kembali kambuh setelah melihat foto tadi atau bukan.
Deana memutuskan untuk pergi keluar ia mengunjungi cafe yang biasa pelanggannya adalah anak-anak muda khususnya anak SMA/SMK atau anak kuliahan.
deana duduk di pojokan kursi wajah dinginnya berubah muram merasa gelisah.
akhirnya ia memikirkan apa yang di katakan oleh Vanny sewaktu ia di kamar oleh Rafael.
"berandalan yah tentu saja ia menyebutku seperti itu karena waktu itu ia melihatku" batin deana mengingat kejadian saat Vanny membuntutinya memukul brutal orang-orang suruhan yang ia curigai adalah the VLID.
sebenarnya waktu itu..
deana sedang berputus asa jiwa nya seperti sudah mati dan hampir kehilangan kewarasan.
saat berjalan karena kelelahan atas kejadian yang menimpanya.
ia melihat sekumpulan pria 2 orang menganiaya seorang gadis SMA, mereka memukuli,menjambak bahkan mencambuk gadis itu dengan seutas tali tipis namun sekali cambuk membekas dalam tubuh gadis SMA itu.
gadis itu menangis dan memohon ampun meski ia tidak tau mengapa orang-orang ini memukulinya, tubuhnya gemetaran ketakutan di tambah kesakitan.
deana melihat itu mata panda nya kosong melihat area itu sama sekali tidak berniat menolong ia sudah muak ikut campur ke preman-preman merepotkan itu baginya.
namun sedetik sebelum deana berpaling melihat penganiayaan itu salah satu pria disana mengeluarkan korek api yang satu menyiramkan bensin satu botol berisi 5 liter bensin.
ketika korek itu di gesek kan api pun segera menyala mata deana memanas melihat api kecil yang masih menggantung di korek api, dalam sedetik pula ingatannya kembali tanpa di undang tentang sahabat yang paling berharga habis di lahap api. seketika amarah deana meluap, ia ambil sepotong kayu keras berukuran pas di genggamannya, ia berlari memukul kepala pria yang menyalakan api hingga kepala pria berlumuran banyak darah.
pria yang memegang botol bensin yang sudah kosong seketika menjadi pucat, ingin meloloskan diri namun gerakan deana sangat cepat dan membuat pria itu hampir pingsan.
gadis remaja itu sangat ketakutan namun ia tak sanggup lagi untuk berteriak ia pikir ia juga akan berakhir seperti kedua pria itu di pukuli hingga mati.
deana menatap tajam gadis SMA itu karena tatapan intimidasi deana seolah menyuruhnya untuk pergi dari sana atau ia akan mengakhiri hidupnya detik ini juga.
__ADS_1
gadis SMA itu menggunakan sisa kekuatannya meski kakinya gemetaran dan sekujur tubuhnya penuh luka dan perih ia memaksa untuk pergi ke sekolah dan berharap bertemu teman-teman nya.
dan tentu saja kebetulan sekolah sudah sepi tersisa dua teman dekatnya menunggunya disana, mereka sangat syok melihat keadaan nya namun salah satu temannya mengikuti deana yang mencoba berjalan seolah iblis haus akan membunuh, gadis yang tak lain adalah Vanny mengikuti deana dan melihat bagaimana perkelahian itu terjadi.
tak di sangka bahwa Vanny akan menjadi adik ipar nya.
"den...den...de..AA..na" panggil Desy yang seketika membuyarkan lamunan deana.
"lu dari tadi di panggil-panggil gak nyaut-nyaut" ucap Desy cemberut.
"lagi mikirin apa sih?"
"gak ada" ucap deana.
"Lo lagi ada masalah sama Rafa?" tebak Desy ngasal.
"enggak lah" jawab deana singkat seperti biasa.
"hey coba cerita gimana rasanya setelah menikah" ucap Desy bersemangat.
"is gak seru" ucap Desy mengurucutkan bibirnya karena kecewa sambil membenarkan kembali duduk nya yang tadinya condong kedepan bersiap mendengar cerita sahabatnya namun tak ada respon.
deana dan Desy berbincang ringan di cafe sambil menyeruput minuman favorit masing-masing.
tak heran bila bersama Desy yang ceria dan hangat deana sesekali tersenyum walau setipis tisu namun itu membuat hatinya sedikit tenang dan melupakan luka terpendam dalam hatinya.
sembari mereka menikmati sore di cafe deana sekilas melihat rombongan anak-anak SMA yang seperti nya anak-anak nakal di sekolah, bisa di lihat dari cara berpakaian nya yang suka-suka tidak sesuai peraturan sekolah.
salah satu dari mereka yang memakai topi warna merah yang sedang trend di masa itu memesan makanan dan minuman pada salah satu pelayan yang ada disana.
perilaku dan pakaian yang tidak sopan membuat mereka menjadi sorotan beberapa mata pengunjung cafe namun satu pun tiada yang menegur karena bagi mereka hal seperti itu sudah biasa.
sementara itu salah satu rombongan anak-anak di nilai nakal itu mata deana tertuju pada seorang gadis yang seragam sekolahnya masih rapi, tentu saja gadis itu ia kenal, sang adik ipar yaitu Vanny.
deana melihat Vanny yang hanya diam saja dan mengikuti teman-temannya.
__ADS_1
sedangkan Vanny ia hanya menikmati makanan yang di pesan oleh temannya dan berbincang sedikit ketika temannya bertanya tanpa ia sadari bahwa sedari tadi deana melihatnya yang tak jauh dari tempat duduknya, namun tempat duduk deana di pojok dan di tutupi oleh punggung Desy yang sedang mengoceh sedari tadi.
hari-hari berlalu deana hanya menghabiskan waktunya di rumah baru, akhir-akhir ini pun Rafael jarang sekali pulang dan terkadang pulang terlalu larut malam.
setiap pulang ke rumah Rafael terlihat sangat kelelahan dan langsung mengistirahatkan tubuhnya dan mulai bekerja esok hari.
karena hal itu ia dan deana hampir tidak berkomunikasi sama sekali.
tampak nya Rafael benar-benar sangat sibuk akan pekerjaannya.
sedangkan deana ia sama sekali tidak peduli apakah suaminya itu sudah pulang atau tidak, baginya ia sama sekali tidak punya hak atau niat untuk menanyakan hal tersebut.
bahkan saat sarapan pagi mereka sama sekali tidak menegur sapa seperti pasutri pada umumnya.
pelayan di rumah itu salah satunya bibi Sri heran melihat kedua majikannya yang sangat jarang berbincang.
keduanya benar-benar memiliki sikap sama-sama dingin terlebih deana yang sejak masuk ke rumah itu sebagai nyonya rumah ia sama sekali tidak pernah menegur para pelayan.
membuat suasana rumah terasa sunyi senyap tanpa suara.
namun pagi ini saat sarapan kebetulan Rafael juga sedang menikmati sarapannya dan bersiap berangkat.
"hey" ucap deana akhirnya melontarkan suaranya.
"ya?" jawab Rafael singkat dan fokusnya teralih ke deana.
"beri aku pekerjaan" ucap deana to the point.
"mengapa? apa kau membutuhkan uang lebih?" tanya Rafael terheran karena permintaan istrinya.
"aku bosan disini terus" ucap deana singkat lagi-lagi dengan wajah datarnya.
"baiklah jika kau mau ikut lah denganku" ucap Rafael
deana mengangguk mengiyakan
__ADS_1
~bersambung~