
"ajarin aku dong Van aku belum paham soalnya" ucap Lilis yang memang sering meminta di ajarin pada Vanny yang otaknya manjur untuk menghitung.
"besok aja lagi gak mood" ucap Vanny lagi.
"huh.. Lo kenapa sih bikin bingung aja" ucap Lilis kesal.
"udah tinggal nyontek aja apa susahnya sih" kesal Vanny kemudian.
"iya iya" jawab Lilis akhirnya mengalah.
"Lis Lo punya nomor nya Nana atau Yuli nggak?" tanya Vanny tiba-tiba.
"Yuli dan Nana?" ucap Lilis mencoba mengingat ke dua nama itu.
"teman Lo waktu kelas 1 Van?" ucapnya lagi
"iya Lo punya nomor mereka?" ucap Vanny terlihat tergesa.
"hmm aku sih gak punya Van, coba tanya Febrian siapa tau dia masih punya" ucap lilis sambil menyalin tugas di bukunya.
"Febrian ketos?" tanya Vanny kemudian
"iya, Febrian kan mantan nya Yuli barangkali dia masih punya nomornya". jawab Lilis menjelaskan.
"oh oke" jawab Vanny akhirnya.
###
Vanny sibuk mengutak-atik laptop yang terletak di meja belajar kamarnya.
"setelah Nana di serang waktu itu, Nana di bawa ke rumah sakit dan kasus penyerangan waktu itu di rahasiakan, yang ku tahu bahwa orang tua nana memiliki banyak musuh di dunia kerjanya, jadi tidak heran jika banyak yang ingin menjatuhkan bisnis orang tua nana dengan cara apapun. pertanyaan nya adalah apa hubungan kakak ipar, tidak...tidak bukan kakak ipar melainkan deana si psyco itu pada preman orang menyerang Nana?" gumam vanny dalam hati sambil mencoba mengorek kembali kejadian 2 tahun yang lalu.
"atau mungkin deana benar-benar preman pasar?" ucap Vanny lagi mereka-reka.
Vanny mencoba mencatat kejadian yang belum terpecahkan di dalam buku diary nya.
sementara itu...
deana berkeliling melihat-lihat rumah baru nya. serta merapikan beberapa barang di dalam kamar nya. beberapa foto yang menurutnya sangat berharga ia letak di atas meja dekat tempat tidurnya.
ia menatap satu foto begitu lama ia melihat senyuman gadis kecil kira-kira berusia 13 tahun kelas 1 SMP yang se usia dengannya.
__ADS_1
senyum nya begitu lebar, hingga sederet gigi nya keliatan di kamera tangan kanan nya merangkul bahu deana kecil senyum nya simpul seperti gadis yang berharap suasana ini akan selamanya.
namun sedetik kemudian ia mengingat akan masa lalu dimana gadis baju biru muda itu berteriak memanggil namanya di tengah api yang berkobar namun api benar-benar berhasil melahap nya hingga tewas.
flashback on
"ANAAAAA....!!" teriak gadis itu sambil mendorong deana hingga terpental jauh dari arah pintu dalam ke luar, deana terjatuh dan tersungkur dengan cepat ia berbalik arah ingin meraih tangan sahabatnya namun sangat terlambat api besar itu semakin membesar karena ledakan runtunan dan berhasil melahap tubuh gadis baju biru muda itu.
"RARAAAAAAAAAAA!!!!!!!"teriak deana sekuat mungkin di tengah ledakan itu deana menyaksikan sahabat nya sendiri di lahap api namun ia tak mampu berbuat apa-apa, karena tubuhnya penuh luka ia tak mampu berdiri lagi tangannya tetap mengadah ke arah Rara berharap Rara akan meraih tangannya, namun naas berapa lama pun ia akan menunggu tangannya akan di raih tak akan pernah terjadi.
"sial..!! terlambat" ucap deana setengah kesadarannya mulai habis matanya berkunang-kunang, matanya membengkak karena menangis sekuat tenaga, matanya mulai memanas,nafasnya sulit ia atur, sakit di tubuhnya tak lagi ia rasakan di banding sakit di hatinya.
ia mengingat wajah wanita paruh baya yang ia tau adalah si pelaku pembunuhan sahabatnya sampai mati pun tak pernah ia maafkan.
tubuhnya gemetar hebat entah gejolak apa yang ia rasakan dalam hatinya,rasa sesak dan kebencian melahirkan dendam yang tak berujung.
flashback off
hati deana sesak mengingat kejadian tersebut jantung nya berdetak dengan hebat.
sorot matanya menajam, wajahnya memerah ia mengepal ke dua tangannya dan berjanji tak akan pernah memaafkan pelaku pengeboman hari itu.
"SAMPAI KAPANPUN KAU AKAN KUCARI DAN KUBUNUH DENGAN CARAKU SENDIRI" ucap deana dalam hati dengan penuh kebencian.
###
"dari siapa?" tanya Rafael sibuk membolak balik dokumen hasil meeting paginya.
Leo memberi ponsel milik nya dan menunjukkan sms darurat agar di baca Rafael.
"oke kita kesana sekarang" ucap Rafael memasang kembali jas nya.
mereka berjalan cepat dan menaiki mobil yang di kemudi oleh leo.
"kita ke markas sekarang?" ucap Leo serius.
"ya". jawab Rafael singkat.
sebegitu sampai di markas, seperti biasa ruangan redup namun begitu rapi dan berkesan gelap ada beberapa orang berjas hitam disana yang berbaris di setiap sudut luar dan dalam markas.
mereka di kenal sebagai bodyguard khusus, yang bekerja di bawah pimpinan rahasia.
__ADS_1
Leo dan Rafael memasuki ruangan dan ada 4 orang yang sudah menunggu di dalam.
dalam SMS tersebut mereka akan melaksakan meeting untuk rencana pekerjaan lain kedepannya.
seorang bernama beny melemparkan benda kecil dan pipih ke arah Leo.
dan Leo mengoperasikan komputer yang tersedia disana.
"3 orang lagi tewas" ucap beny menjelaskan sambil menunjukkan foto-foto beberapa orang yang ada di video yang di putar Leo.
"mereka mati dan pelakunya masih sama sang legenda brutal yang masih belum di ketahui jejak nya" jelas beny
"mereka mati karena apa?" mati di pukuli benda stik golf sampai mati.
"sebenarnya tidak sampai mati di tempat, 'orang' itu memukuli mereka sampai sekarat seperti biasa jika terlambat di tangani nyawa mereka bisa habis.
Rafael geram melihat beberapa orang bekerja dengannya mati satu persatu. kematian nya pun hampir mirip. mereka di pukuli dengan brutal, tanpa belas kasih.
brakk!!
"sialan apa kalian sudah menyelidiki siapa pelaku nya?" ucap Jony yang sudah tak tahan melihat rekannya mati satu persatu.
wajahnya sudah memerah dan suram berharap ia menemukan menusia kejam yang telah membunuh rekan-rekan nya.
"bukankah sama saja?" ucap Rafael sepotong-sepotong dan sepetinya sedang berpikir.
"apa maksudmu?" ucap Jony tak sabaran.
"bukankah sama saja, kita juga membunuh orang-orang tertentu tanpa belas kasih?" ucap Rafael membuat semua bingung.
"jadi maksudmu kita membiarkan begitu saja rekan kita mati?!?!!!" nada Jony meninggi
"siapa yang rela rekannya akan mati? lalu ketika kita membunuh mereka juga tak akan tinggal diam dan membalaskan dendam" ucap Rafael dengan suara tinggi pula.
Jony meraih kerah baju Rafael dan menatap nya penuh kemarahan
"apa maksudmu? tolong jelaskan lebih rinci! jangan membuatku habis kesabaran!" ucap Jonh mengintimidasi.
"sama hal nya denganmu kau akan berbalas dendam pada rekanmu yang sudah mati dan tetap membunuh orang lain tanpa memikirkan perasaan orang lain?" ucap Rafael tak kalah garangnya.
suasana menjadi suram Rafael melepas kepalan tangan Jony di kerah bajunya yang sudah melunak.
__ADS_1
~bersambung~