DOKTER AJAIB

DOKTER AJAIB
Siapa yang berani menyentuhnya!


__ADS_3

“Yan’er! Yan’er...!


Putra Mahkota hampir mau gila. Dia memenggam erat tembok dengan kedua tangan dan berteriak:


“Bunuh dia! Cepat bunuh dia!”


Sekelompok prajurit yang menjaga gerbang mengangkat pedangnya dan mengelilingi Lu Ciqiu.


Saat ini terdengar suara yang nyaring dari dalam kereta.


“Siapa yang berani menyentuhnya!”


Mereka satu pun tidak berani. Para prajurit itu tidak bergerak lagi. Meskipun yang memberi perintah adalah Putra Mahkota, tapi semuanya tahu bahwa putra kesayangan Kaisar adalah Pangeran ke-11 “Yan Qianjue”.


Sejauh mana kesayangan Kaisar? Dulu Putra Mahkota bertengkar dengan Pangeran ke-11. Padahal Putra Mahkota lebih tua 4 tahun dari Pangeran ke-11, namun giginya copot karena kalah dari adiknya.


Setelah itu Putra Mahkota pun melaporkannya ke Kaisar. Namun, malah ditegur oleh Ayahandanya.


“Berkelahi saja bisa kalah! Apa kamu tidak malu menangis di depanku?”


Terlalu banyak kejadian ini terjadi. Meskipun mereka semua adalah prajurit yang menjaga gerbang kota, tapi mereka juga ada mendengar sedikit kabar yang keluar dari dalam Istana.


Kabarnya, saat rapat Kerajaan, Kaisar telah banyak menyatakan ketidakpuasannya terhadap Putra Mahkota. Dan sekarang, Pangeran ke-11 kembali ke Kota dan membawa kemenangan. Mungkin saja, akan ada perubahan pada pewaris.


Mereka tidak mungkin tidak memikirkannya. Melihat para prajurit yang berdiri terdiam, Lu Ciqiu pun melepaskan tali yang mengikat di kakinya.


Putra Mahkota sangat marah dan berteriak:


“Apa yang kalian lakukan! Tidak mengerti perkataanku? Cepat bunuh dia! Aku mau membalas dendam untuk Yan’er! Aku mau dia mati seribu kali!


....


Suara yang jernih dari dalam kereta berkata lagi. Kali ini suaranya lebih nyaring, seperti menggunakan tenaga dalamnya. Bahkan Putra Mahkota yang berdiri di atas tembok terdengar dengan sangat jelas. Dia berkata:


“Seluruh Keluarga Pei telah mati di medan perang Utara! Meskipun aku telah membawa prajurit bala bantuan, namun pada akhirnya tidak bisa menyelamatkan mereka dari genangan darah! Keluarga Pei mati untuk menjaga wilayah Nanyue! Penuh kesetiaan pada Negara kita! Nona Kedua Keluarga Lu adalah satu-satunya darah dari Keluarga Pei yang tersisa di dunia ini! Di dunia ini, tidak ada yang berani merenggut nyawanya!

__ADS_1


“Cepat buka gerbangnya, aku mau segera ke Istana!”


Setelah mendengar perintah itu, para prajurit berbalik badan dan langsung membuka gerbangnya dengan sangat lebar.


Yan Qianjue tidak peduli Putra Mahkota yang berteriak di atas. Dia membuka tirai depannya dan menghadap ke Lu Ciqiu, lalu melambaikan tangannya sambil berkata:


“Kemarilah.”


Lu Ciqiu menatapnya. Dia melihat orang ini yang masih memakai baju zirah. Dia mengenakan jubah hitam di balik baju zirahnya. Meskipun cuaca sangat panas, tapi terlihat sangat segar dan rapi.


Hanya saja orangnya terlihat agak kurus. Mukanya terlihat agak pucat dan lelah. Sepertinya mengalami luka dalam yang serius. Namun, tidak menutupi aura elegan dan mulianya.


Melihat Lu Ciqiu menatapnya sepanjang waktu, dia terbatuk dua kali dan memberikan cambuk kepadanya.


“Maaf, aku tidak menemukan mayat Ibumu. Cambuk ini adalah miliknya, ambillah.”


Lu Ciqiu terdiam beberapa saat, lalu dia pun mulai menyadari, “Ibu?”


Itu berarti Ibu dari pemilik tubuh ini, berarti itu juga Ibunya.


Tepat ketika dia hendak mengatakan sesuatu lagi, dia melihat bahwa Lu Ciqiu telah berjalan ke depannya dan mengulurkan tangan untuk mengambil cambuk darinya.


Yang Qianjue masih berada di dalam kereta. Namun, karena Lu Ciqiu pendek dan kereta agak tinggi, dia susah menjangkau cambuk di tangannya, dia terlihat agak lucu dan kasihan.


Yan Qianjue melirik lengan mungilnya yang sedang mengambil cambuk ditangannya, dalam pikirannya malah berpikir:


“Bagaimana mungkin gadis kecil dan kurus seperti ini, bisa menjatuhkan orang dewasa dari atas tembok, bahkan menghancurkannya sampai mati.”


Pada saat memikirkan hal ini, cambuk ditangannya sudah dipegang oleh Lu Ciqiu.


Dia mendengar Lu Ciqiu merendahkan suaranya dan berkata kepadanya:


“Kamu terluka di jantung paru, jika tabit di Istana tidak bisa menyembuhkanmu, kamu bisa mencariku di Kediaman Menteri Kiri.”


Setelah selesai bicara, dia pun berbalik dan pergi membawa cambuk itu.

__ADS_1


Putra Mahkota tidak peduli lagi untuk berdebat dengan Lu Ciqiu. Dia mulai melampiaskan amarahnya ke Yan Qianjue.


“Jenderal Utara kalah berturut-turut dalam tiga kali, makanya memintamu ke sana. Jadi, sampai di sana kamu tidak menyelamatkan hidup mereka semua? Aku melihatmu begini, kamu pasti terluka parah, kan? Cih! Bukankah kamu dipanggil Dewa Perang?”


“Dewa Perang bisa terluka juga?? Jadi ini terbukti bahwa sebutan semua itu hanya omong kosong saja!”


“Bukan!” seorang Wakil Jenderal tidak ingin mendengarnya lagi.


“Ada orang mencuri Peta Pertahanan Utara! Saat Raja Xuan ( Sebutan Pangeran ke-11) sampai di sana, Jenderal Utara dan keluarganya, tewas semua dalam pertempuran untuk melindungi pertahanan perbatasan.”


“Musuh mulai menerobos perbatasan kota. Jika Pangeran ke-11 tidak tiba tepat waktu, negara utara ini pasti sudah jatuh di tangan mereka! Karena Peta Pertahanan Utara telah dicuri, kami jadinya melawan 100 ribu prajurit dengan 30 ribu prajurit kita. Dan hanya Pangeran ke-11 yang bisa melawan pertempuran ini!”


.....


Semuanya terkejut!


30 ribu melawan 100 ribu?


Pertarungan ini bukanlah soal siapa yang bisa bisa maju, namun siapa yang berani maju.


Lu Ciqiu juga berbalik dan menatap Yan Qianjue lagi. Dia melihat Yan Qianjue masih duduk di dalam kereta dan tidak bergerak. Seolah-olah hal seperti itu sudah biasa untuknya, seperti rutinitasnya saja.


Yan Qianjue merasa ada pandangan yang melihatnya dan mulai mengarahkan tatapan kepadanya. Namun, sudah terlambat. Saat dia memandangnya, Lu Ciqiu sudah menarik tatapannya dan terus berjalan ke depan.


Para prajurit itu tanpa sadar membuka jalan untuknya. Dia berjalan menuju gerbang kota selangkah demi selangkah di pandangan semua orang sambil menginjak darah Selirnya Putra Mahkota. Saat ini, Putra Mahkota itu berlari kencang dari atas tembok dan berdiri tepat di depannya.


Lu Ciqiu menatapnya dan memberi senyuman dingin:


“Pernikahan kita belum diadakan, juga belum memberikan mahar. Jadi, tidak perlu menuliskan surat cerai lagi. Meskipun kamu adalah Putra Mahkota, tapi juga tidak boleh menghinaku seperti itu! Dengar baik-baik! Jika terjadi lagi, orang yang akan kutarik dari atas tembok adalah kamu!”


Putra Mahkota terkejut dan terdiam setelah mendengar perkataannya. Pada saat dia sadar kembali, Lu Ciqiu telah berjalan jauh. Dia marah dengan nyaring di tempat.


Di saat yang sama, penduduk di dalam kota sudah membuka satu jalan tengah yang lebar menyambut kepulangannya Pangeran ke-11. Mereka berlutut di sisi kiri dan kanan dan berteriak serempak:


“Selamat atas kepulangan Raja Xuan yang membawa kemenangan!”

__ADS_1


__ADS_2