DOKTER AJAIB

DOKTER AJAIB
Perasaan Bersalah


__ADS_3

Begitu Lu Xiaoyuan mengangkat kepalanya, dia menemukan mata merah Lu Qingcheng dan melihat ekspresinya yang agak ganas di matanya.


Tentu saja ada kalimat yang masih terngiang di telinganya:


"Gadis kurang ajar!"


Dia tampak sedikit tidak yakin dan menyahutnya:


"Qingcheng?"


Lu Qingcheng sangat ketakutan. Dia tidak menyangka, Ayahnya akan kembali di saat seperti ini dan memasuki ruangan tanpa diberi tahu oleh pelayan.


Apakah Ayah baru saja melihat tindakanku tadi? Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku bisa mengembalikan citraku di hati Ayahnya ini?


Yunshi juga terkejut, tetapi dia bereaksi lebih cepat daripada Lu Qingcheng. Ketika Lu Xiaoyuan kembali, dia segera bergegas, menyeka air matanya.


“Tuan, Qingcheng menerima ketidakadilan, mohon Tuan harus membantu Qingcheng!”


Mata Qingcheng langsung memerah. Hanya saja barusan merah karena emosi, kali ini karena menangis.


“Ayah, Qingcheng difitnah namun tidak bisa berkata-kata, aku tidak ingin hidup lagi.”


Dia sambil mengatakannya dengan menangis parah sampai membungkuk ke lantai. Lu Xiaoyuan sebenarnya agak kecewa dengan penampilan Lu Qingcheng barusan dan cangkir teh yang jatuh.


Putri pertamanya ini dari kecil dibesarkan olehnya. Menurutnya putri ini memiliki temperamen terbaik, meskipun bukan yang paling lembut, tetapi dia tahu bagaimana untuk menahan dirinya. Apa pun kenyataannya, dia tidak membuat kesalahan di depan banyak orang.


Ini adalah kebanggaan dan kepercayaan dirinya yang terbesar.


Dia selalu percaya bahwa hanya gadis yang seperti Lu Qingcheng yang layak mendapat posisi permaisuri. Namun, apa yang dilakukan Lu Qingcheng barusan bertentangan dengan pelatihan dan harapannya selama bertahun-tahun.


Melihat Lu Qingcheng yang diperlakukan tidak adil, menangis sampai susah bangun, dia merasa dirinya tadi pasti salah lihat dan mendengarnya. Qingchengnya pasti tidak akan mengatakan “Gadis kurang ajar” itu.


Cangkir teh itu pasti bukan dia yang melemparnya.


“Siyi, berlututlah!” Ucap Yunshi.


Yunshi memang mengenal Lu Xiaoyuan dengan baik. Dia melihat tatapannya pada Qingcheng yang sedikit berubah, sudah tahu dia pasti sedikit terguncang. Dia pun segera menuduh pelayan yang disampingnya Qingcheng.

__ADS_1


“Majikanmu masih di sini, beraninya kamu melempar cangkir teh! Aku tahu kamu mengeluh untuk Nona Pertama, namun Nyonya Tua yang telah memberi hukuman. Meskipun Qingcheng merasa tidak adil, namun dia harus menahan diri untuk menerimanya!”


Setelah selesai berbicara, dia melihat ke arah Lu Xiaoyuan lagi dan berkata:


“Tuan, barusan aku terlalu cemas, malah membuat Tuan untuk membantu Qingcheng. Sekarang dipikir kembali, bagaimana juga Tuan membuat keputusan? Di dalam kediaman ini, Nyonya Tua adalah yang terbesar. Tidak peduli apa yang dia katakan, kita semua harus menurutinya. Tidak hanya aku dan Qingcheng, bahkan Tuan juga sama.”


Sejak Lu Xiaoyuan masuk ke dalam kediaman dan berjalan ke arah Halaman Nyonya Yun, dia telah mendengar masalah ini dari pengurus rumah. Melihat Yunshi dan Qingcheng, dia juga sangat tidak berdaya. Jadi dia pun menepuk pundak Yunshi dengan pelan dan mengulurkan tangannya untuk membantu Lu Qingcheng:


"Bangunlah, Ayah tidak menyalahkanmu."


Lalu dia melototi Siyi dan berkata:


“Kamu keluar! Dan cari orang untuk memberi hukuman sendiri dengan pukulan 10 papan!”


Siyi tidak berani mengatakan sepatah kata pun, dia bersujud dan keluar. Dia menanggung sepuluh papan ini untuk Lu Qingcheng dan dia tahu bahwa cepat atau lambat hari seperti ini akan datang. Lagipula, kemunafikan Nonanya suatu saat pasti akan menyuruh mereka menanggungnya.


Lu Xiaoyuan masih berkata kepada Lu Qingcheng:


"Seorang budak memanglah budak, tidak dapat mengendalikan emosi mereka. Namun, kamu berbeda dari mereka, kamu adalah putri tertua dari keluarga Lu dan setiap gerakanmu mewakili martabat dari Keluarga Lu. Mengerti?”


"Saya tahu, Ayah."


Dia ingin sekali membuat Ayah tidak mengingat kembali kejadian barusan. Meskipun ada Siyi yang menanggung kesalahannya, namun dia tetap merasa masih ada banyak celah. Dia takut bahwa Ayahnya akan memikirkannya.


Dia telah berpura-pura lembut selama bertahun-tahun, sehingga dia dianggap wanita yang bagaikan dewi dan terkenal di seluruh Ibukota. Dia tidak ingin melepaskannya.


Yunshi juga memikirkan hal yang sama, jadi dia menghela nafas pelan, membelai kepala Lu Qingcheng dan berkata:


“Putriku yang baik, Ayahmu memiliki harapan tinggi terhadapmu, kamu tahu akan semua ini. Namun, Selir Chen adalah putri yang paling Nyonya Tua sayangi, sehingga dia marah padamu. Kamu tidak boleh menyalahkan Nenekmu, mengerti.”


Lu Qingcheng mengerti.


Perkataan ini ada arti yang dalam dan memberi tahu pada Lu Xiaoyuan bahwa Nenek tidak begitu mementingkan Lu Qingcheng. Meski keluarga ini Nyonya Tua yang masih memegang keputusan, namun di dalam hatinya, tidak ada yang lebih penting dari Selir Chen.


Dia tidak menyayangi cucu perempuannya dan hanya peduli pada putrinya sendiri.


Lu Qingcheng pun kembali ke penampilannya yang lembut dan penuh kasih sayang, mengangguk dengan patuh dan berkata:

__ADS_1


“Qingcheng mengerti dan tidak menyalahkan Nenek. Akulah yang tidak melakukan masalahnya dengan baik sehingga dimarahi Nenek. Nanti aku akan berlutut di Aula Leluhur untuk meredakan amarah Nenek.”


Lu Xiaoyuan semakin menyukai putrinya ini. Dia terharu dan merasa begitu bijaksana dirinya.


“Padahal dirimu yang diperlakukan tidak adil, namun masih ingat untuk berbakti padanya. Qingcheng, di rumah ini hanya kamu yang bisa berbuat seperti ini. Ayah memang tidak sia-sia menyayangimu.”


“Kamu juga tidak perlu berlutut di Aula Leluhur, kembalilah ke ruanganmu dan istirahatlah. Aku akan membicarakan hal ini pada Nenekmu.”


“Sebagai seorang Ayah, aku berharap kamu bisa menjadi lebih baik lagi. Dan kamu adalah harapan Keluarga Lu. Mengenai Bibimu...”


“...Hidupnya juga hanya berhenti di posisi Selir saja.”


Qingcheng merasa senang saat meninggalkan ruangan. Pertama, kesalahannya yang tadi telah ditanggung oleh Siyi. Sehingga Ayahnya tidak mengira perkataan itu dari dirinya. Kedua, dia juga sudah jelas mengenai sikap Ayah pada Selir Chen.


Asalkan Ayah lebih mementingkan dirinya, dia tidak takut pada siapa pun.


Mengenai masalah Nenek... Hmph! Dia juga tidak bisa hidup lama lagi dengan usia yang seperti itu!


Setelah Qingcheng pergi, Yunshi pun menghapus air matanya di depan Lu Xiaoyuan.


“Kamu sekarang berstatus sebagai Nyonya Besar, merupakan majikan wanita di rumah ini. Mulai sekarang jangan banyak menangis lagi. Meskipun Nyonya Tua lebih memihak pada masalah Selir Chen, namun dia tetap menghargai pengajaranmu terhadap putra-putri kami.”


Yunshi dengan cepat menahan air matanya dan menyalahkan dirinya sendiri pada saat yang bersamaan.


“Benar, aku sudah menjadi Nyonya Besar, kenapa aku masih bertingkah seperti istri tidak sah. Menggunakan air mata untuk menahan seorang pria di depannya.” Pikir Yunshi dalam hati.


Dia segera mengakui kesalahannya kepada Lu Xiaoyuan:


"Ini semua salahku, Tuan. Jangan khawatir, aku tidak akan melakukannya lagi. Omong-omong, aku juga putri sah dari keluarga terpelajar dan aku tidak akan bertingkah seperti itu ketika aku masih berada di rumah Ibuku. Mungkin Itu karena aku telah menjadi istri tidak sah selama 20 tahun ... jadi sudah terbiasa dengan itu."


Begitu dia berbicara seperti ini, Lu Xiaoyuan menyalahkan dirinya sendiri lagi. Itu adalah kesalahannya karena dia gagal memberinya posisi sebagai Istri sah. Menempatkan putri sah dari keluarga terpelajar menjadi istri tidak sah dan hidup tidak adil selama 20 tahun. Dan sekarang masih memintanya untuk memiliki temperamen seperti sebagai Nyonya Besar, memang terlalu sulit baginya.


Dia langsung mengulurkan tangannya dan memeluk Yunshi sambil menepuknya dengan ringan. Yunshi yang terlihat tidak berani menangis membuatnya merasa bahwa dia berutang banyak pada wanita ini.


Nyonya Yun pun memanfaatkan rasa cinta Lu Xiaoyuan padanya, memberitahu mengenai Yimei yang telah dijual oleh Lu Ciqiu. Lu Xiaoyuan sangat marah dan di saat dia ingin berkata pasti akan menemukan Yimei untuk Yunshi, terdengar suara ketukan pintu dari luar.


“Tuan, cepatlah pergi ke Aula Mingyue, Kasim Wei yang kemarin itu, datang ke sini lagi----”

__ADS_1


__ADS_2