
Setelah diam sejenak, dia pun berubah pikiran dan berkata:
“Jika Adik Kedua memang pergi karena keinginan sendiri, kenapa menampar Adik Kelima begitu kamu pulang ke rumah? Adik Kelima sekarang masih menangis di kamarnya. Wajahnya membengkak dan dia malu bertemu banyak orang."
Lu Ciqiu tampak terkejut.
“Kakak Pertama begitu ingin membunuh kerabat? Aku sungguh salut padamu.”
Lu Qingcheng sampai bingung, membuatnya tidak tahu harus bertindak bagaimana.
“A-Adik Kedua... Apa maksud perkataan itu? "
Kenapa dia berkata aku ingin membunuh kerabat? Siapa membunuh siapa?
Lu Ciqiu pun berhenti menangis. kemudian menghapus air matanya, kelopak matanya tidak merah. Seperti tetesan air mata tadi bukan miliknya saja.
Dia pun menjawabnya dengan serius.
“Aku menamparnya karena dia pantas dipukul! Mengapa dia pantas menerimanya? Karena dia memanfaatkan diriku yang pergi untuk mengambil keadilan untuk Ayah dan memberi perintah pada pelayannya untuk membunuh Tuan Muda kecil dengan mendorongnya ke kolam.”
“Sejak Ibuku menjadi Nyonya Besar, hal semacam ini tidak pernah terjadi. Meskipun Tuan Muda kecil sekarang bukan putra sah lagi, namun nama depan keluarganya tetaplah “Lu”. Apakah nama “Lu” begitu tidak berharga di mata para pelayan? Inikah cara Nyonya Yun mengatur rumah ini?”
Sebutan Nyonya Yun membuat Yunshi marah dan kesal. Lu Qingcheng segera mengingatkannya.
“Adik Kedua, seharusnya kamu memanggilnya Nyonya Besar.”
“Oh, aku sudah terbiasa memanggilnya begitu.” Jawab Lu Ciqiu.
Dia melambaikan tangannya dengan acuh tak acuh.
“Itu hanyalah sebuah panggilan saja, kenapa begitu mempedulikannya? Bukankah yang harus Kakak Pertama khawatirkan sekarang adalah masalah adik kecil kita yang di dorong ke kolam? Kak, jangan lupa. Karaktermu yang baik hati ini tidak boleh hancur begitu saja.
Lu Qingcheng tidak mengerti apa yang dimaksud “Karakter”, namun dia tahu pasti itu bukanlah kata yang baik. Dia mulai ingin memangis seperti telah diperlakukan secara tidak adil.
Lu Xiaoyuan paling tidak bisa melihatnya menangis dan berkata ke Lu Ciqiu.
“Itu juga bukan alasanmu untuk menyalahkan orang lain!”
Lu Ciqiu pun menghadapnya.
“Bukankah? Baiklah, jika alasan ini tidak kuat, aku akan ganti yang lain.” ujarnya.
......
Semuanya terdiam.
Hal ini bisa langsung diganti begitu saja?
Lalu dia berkata lagi:
__ADS_1
“Satu alasan lagi, Lu Xiyan datang merebut semua barang-barangku. Aku sih tidak masalah. Kalau direbut yah sudah. Hanya saja di antara barang-barang yang dia ambil, kotak perhiasan itu ingin aku berikan pada Nenek. Beserta “Rumput Selaginella” yang akan dapat digunakan untuk mengobati penyakit Selir Chen”
“Apa yang kamu katakan?”
Nenek Lu yang selama ini tidak berbicara pun terkejut.
“Kamu katakan lagi, apa yang hilang?”
Lu Ciqiu berdiri tegak dan berkata dengan lantang:
“Aku kehilangan sekotak perhiasan yang ingin kuberikan pada Nenek dan di dalamnya ada Rumput Selaginella yang dapat menyembuhkan Selir Chen!”
Lalu dia berlutut di depan Nenek Lu.
“Nenek juga tahu, Nenek Pei adalah tabit yang terbaik di Utara sini. Bagaimana keterampilannya mengobati pasien, aku percaya Nenek pasti mengetahuinya.”
“Beberapa tahun ini, Ibuku ada menanam tanaman obat di potnya. Katanya itu adalah tanaman, juga bisa dikatakan sebagai obat herbal. Awalnya aku tidak memperhatikan hal itu, namun pagi ini tiba-tiba aku teringat resep obat yang diajarkan Nenek Pei.”
“Dan tanaman itu adalah sebagai obat utama, yang bisa menyembuhkan penyakit Selir Chen. Selir Chen adalah bibi kandungku, putri kandung yang dirindukan Anda selama siang dan malam, makanya aku harus menyembuhkan Bibiku.”
Dia sampai merasa tersentuh akan perkataannya sendiri.
"Sungguh hebat diriku... " pikirnya dalam hati.
"hmm, lanjut lagi aktingku.... "
“Nek, Adik Kelima masih kecil, tapi kenapa dia begitu kejam. Kenapa dia membenci Bibi dan tidak ingin menyelamatkannya?”
Hal ini membuat Lu Qingcheng tidak tahu bagaimana melanjutkannya lagi. Kenapa ada hal seperti itu terjadi? Apa yang telah dilakukan Lu Xiyan?
Sambil menuduh Lu Xiyan, Lu Ciqiu pun melirik Shuanghua yang dibelakangnya. Shuanghua adalah pelayan yang pintar dan langsung mengerti maksud Nonanya. Kemudian dia juga ikut berlutut menghadap Nenek Lu.
“Nyonya Tua, apa yang dikatakan Nona Kedua itu benar. Ketika Nona Kelima datang untuk mengambil barang-barang itu, kami berlutut dan memohon padanya. Jika dia menyukai perhiasan, ambil itu saja. Namun, harus kembalikan rumput itu pada kami. Nyonya Tua menginginkan rumput itu untuk mengobati Selir Chen.”
“Namun, Nona Kelima mengatakan kematian Selir Chen bukanlah urusannya. Siapa pun tidak bisa merebut barang yang dia sukai.”
Nenek Lu hampir muntah darah setelah mendengarnya....
“Panggil Lu Xiyan ke sini! Panggil juga Nyonya Kang ke sini!”
Nyonya Tua dengan mulai marah.
Selir Chen “Lu Wenjun” adalah satu-satunya putri kandung Nenek Lu.
Sepanjang hidupnya, selain putranya yang menjadi Menteri Kiri, yang paling dia pedulikan adalah putrinya yang memasuki istana pada usia lima belas tahun.
Pada awalnya semuanya baik-baik saja. Tetapi beberapa bulan yang lalu, putrinya tiba-tiba terkena penyakit. Sekujur tubuhnya muncul bintik-bintik merah yang ditutupi sisik putih. Setiap bangun tidur, lapisan kulit terjatuh di bawah kasurnya.
Dia juga sangat cemas ketika mengetahui hal ini. Sekali penyakit aneh ini muncul, jangankan Kaisar tidak ingin melihatnya. Bahkan orang lain di Istana pasti akan menjauh.
__ADS_1
Apa yang akan terjadi pada putrinya? Bagaimana hidupnya di masa depan? Bagaimana jika penyakit ini bisa membunuh dirinya?
Selama dua bulan ini, setiap malam Nenek Lu gelisah. Setelah mendengar perkataannya Lu Ciqiu, itu bagaikan membuka pintu terang untuknya.
Lu Xiyan dan Nyonya Kang dengan cepat dibawa ke sini. Dan di sepanjang jalan sudah memberi tahu Lu Xiyan apa yang telah terjadi. Pada saat itu, Lu Xiyan merasa bahwa seluruh dunianya telah runtuh.
Apakah ada hal yang lebih konyol lagi dari hal ini?
Dia memang merebut barang-barang Lu Ciqiu di pagi hari, tapi itu hanya sekotak perhiasan saja, dari mana asal rumput itu?
Apa itu sebenarnya?
Di dunia ini ada rumput itu?
“Tidak ada Nek! Aku tidak ada! Dia omong kosong!"
Lu Xiyan langsung berlutut setelah memasuki Aula Mingyue sambil menangis.Nyonya Kang juga ikut berlutut, namun dia berkata pada Lu Xiyan:
“Nyonya Tua menyuruhmu menyerahkan barang itu, kamu tinggal kembalikan saja. Mengenai apakah ada rumput itu di dalamnya, nanti baru lihat situasi dulu.”
Lu Xiyan pun sadar dan memerintah pelayannya pergi mengambil kotak itu. Untuk membuktikan dirinya tidak bersalah, dia juga mengundang Bibi Chang yang di sisi Nyonya Tua untuk mengikutinya.
Pada saat keduanya kembali, Bibi Chang memegang kotak perhiasan di tangannya. Kemudian, dia kembali ke sisi Nyonya Tua dan melapornya.
“Barang ini diletakkan di atas meja rias Nona Kelima. Saat kami berdua tiba, tidak ada orang lain di ruangan itu. Dan tidak ada bekas bahwa mereka telah membuka kotak perhiasan ini karena masih tertutup rapat.”
Nyonya Tua menggangguk kepalanya.
“Bawakan ke Nona Kedua untuk memastikannya.”
“Baik.”
Selesai Bibi Chang membalasnya, dia membalikkan badan dan membawa kotak perhiasan itu pada Lu Ciqiu.
“Nona Kedua, silakan lihat. Apakah benar kotak perhiasan ini?”
Lu Ciqiu mengulurkan tangan untuk mengambilnya, lalu membukanya.
Dengan cepat dia menutup kotak itu dan berkata:
“Benar Nenek, benar kotak ini. Rumput Selaginella ada di dalamnya. Silakan Nenek melihatnya.”
Bibi Chang membawa kotak itu lagi dan kembali ke sisi Nyonya Tua. Kemudian dari persetujuan Nyonya Tua, Bibi Chang pun membuka kotak itu.
Lu Xiyan berkata dengan tidak bersalah:
“Nenek coba buka dan melihatnya! Mana ada Rumput Selaginella itu? Di dalam hanya perhiasan saja, aku tidak berbohong!”
Namun, pada saat ini, ketika mata semua orang tertuju pada Nyonya Tua, yang mereka lihat adalah ekspresi tidak terduga dari Nenek Lu! Bahkan ekspresi Lu Xiaoyuan pun juga ikut berubah....
__ADS_1